Situs Batur Candi Belik Pemalang

Pagi Gengs sahabat travelers hari ini saya  mau kembali share sebuah wisata yang ada di pemalang yaitu situs batur candi yang terletak di Desa Bulakan Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang, atau yang terkenal dengan monyetnya gengs. 

Loh kok monyet sih??

Iya guys karena orang orang lebih familiar dengan penghuni di batur candi tersebut yaitu banyaknya monyet monyet yang berkeliaran dan turun kejalan yang sangat bersahabat dengan manusia, wow bikin penasaran bukan???
Lokasi Batur candi Belik Pemalang terletak di sebelah kanan jalan raya dari arah Randudongkal Purbalingga atau sebaliknya, kebanyakan para pengendara yang melewati batur candi memilih berhenti untuk melihat monyet monyet yang pada turun untuk sekedar memberi makan mereka.
Saya kurang begitu tahu tentang situs batur candi dan ada apa di dalamnya, karna yang saya tahu selama ini adalah sebuah hutan satwa yang sengaja untuk dilindungi oleh masyarakat, tapi ternyata pengetahuan saya terlalu rendah guys, karena ternyata disitu terdapat sebuah candi.
Terlintas rasa ingin tahu tentang sejarah batur candi dan dari mana asal monyet monyet tersebut datang, saya menyempatkan untuk menghampiri sebuah warung yang letakanya tidak jauh dari lokasi untuk ngopi dan membeli makanan untuk memberi makan para monyet tersebut, dan yang paling penting saya bisa ngobrol ngobrol dengan pemilik warung yang saya kira tahu tentang sejarah batur candi tersebut.

Setelah memesan dua cangkir kopi saya mencoba memulai obrolan dengan si pemilik warung tersebut, namun sayang pemilik warung tersebut juga kurang begitu tahu tentang sejarah batur candi tersebut, dia hanya menjawab keberadaan batur candi sudah ada sejak jaman dahulu.
Karena penasaran akhirnya saya mencoba menelusuri sejarah situs batur candi ini melalui media, dan seperti yang saya kutip dari blognya maskusno.wordpress.com

Katanya Situs Batur Candi ini  dulunya adalah tempat persembunyian kerabat Mataram Patih Citra Wirya dan Kyai Mpu Brama Kendali yang merupakan cikal bakal/nenek moyang masyarakat desa Bulakan.
Situs batur candil sangat berberan penting terhadap masyarakat setempat, karena dengan adanya situs batur candi tersebut ketersediaan mata air menjadi tercukupi, adapun mata air yang ada di sekitar batur candi adalah sebagai berikut:
-    Mata Air Wadonan yang dijaga oleh Nyai Rantan Sari yang dipercaya dari wilayah Teluk Penyu
-    Mata Air Siduda yang dijaga oleh Dewi Mas Kuncung yang dipercaya dari Sokaraja
-    Mata Air Nyai yang dijaga oleh Nyai Ajeng Melati
-    Mata Air Srengseng yang dijaga oleh Nyai Khotijah Srengseng yang dipercaya dari Banten.
-    Juga tokoh tokoh lain lain dari Sekar Wangi.

Selain banyaknya sumber Mata air di situs Batur Candi juga terdapat beberapa mitos mitos yang sampai sekarang masih dipercayai oleh masyarakat sekitar, masih saya kutip dari maskusno.wordpress.com yang katanya al :
-    Tidak boleh mengambil apapun di kawasan batur candi
Katanya pernah ada yang mengambil bambu di kawasan Batur Candi dan pada malam ada seekor trenggiling yang medatangi rumahnya, Karena merasa aneh akhirnya dikembalikan lagi bamboo tersebut ketempatnya. ( dituturkan oleh Sdr.Junianto salah seroang komunitas Pecinta Alam Shabawana)
-    Dilarang  mengambil rumput untuk pakan ternak, Katanya pernah ada yang tetap berani mengambil setelah diberi peringatan tapi tidak dihiraukan akhirnya ternak mati semua.
-    Dilarang mandi telanjang atau harus tertutup auratnya.
-    Dilarang mandi dengan sabun warna hijau di tempat mata air sekitar Batur Candi.

Guys saya tidak tahu apa alasanya namun hal ini membuat saya lebih penasaran untuk mencari tahu lagi tentang kenapa hal hal seperti itu dilarang dilakukan di Situs Batur Candi.
Tapi Guys ada sedikit kekecewaan dalam benak saya soal para pengunjung yang memberi makan para monyet monyet tersebut, yaitu mereka semua membuang sampahnya dengan sangat sembarangan, yang menjadikan lingkungan sekitar monyet monyet itu turun penuh dengan sampah :( huft

Waktu sudah mulai siang, karena harus buru buru berangkat kejakarta lagi akhirnya saya memutuskan untuk pulang dan berharap suatu saat bisa kesana lagi untuk mengupas tuntas tentang sejarah Situs Batur candi.

4 komentar