Waduk Cacaban Kisah Persahabatan

Created : Amunx Basri
Editing : Zaenal MuttaQien

Lega  rasanya tugas semester kedua kenaikan kelas 3 ini telah selesai, pertanda dimulainya menikmati libur panjang bersama sahabat, di jum’at sore aku dan keenam temanku berkumpul bersama, melepas kerinduan serta sedikit berdiskusi merencanakan reuni alumni sekolah dasar yang sudah 3 tahun lamanya kami tidak bertemu dengan teman-teman semasa lalu, aku dan keenam temanku (Asep, Zaenal, Masis, Ivan, Fakih, dan Faozan), berkumpul dirumah Fakih untuk mematangkan rencana itu.

Kami adalah keluarga kecil dalam sebuah pertemanan dan persahabatan abadi, dimana kami bisa tertawa ceria ketika kami berkumpul, bersenandung dalam canda tawa, saling mengejek namun saling mengagumi satu sama lain, kesadaranku kami saling membutuhkan dan saling mengisi,..... (GAK ADA LO GAK RAME,,:-D,,)
Acara pertemuan dengan teman teman alumni atau temu kangen ini kami namai TEKAPE (temu kangen alumni pakembaran), Pakembaran adalah desa tercinta kami dimana kami mulai menghirup nafas kehidupan pertama kali. :-)

Esok paginya acarapun kami laksanakan di satu gedung sekolah SD 02, tempat dulu kami diajari untuk memetik bermacam ilmu, kami mengundang salah satu kakak alumni kami (Ali ghofir) untuk segaligus memimpin acara, dengan harapan acara lancar sesuai rencana kalau ada yang memimpin.
Keinginan kami ber7 sebelumnya adalah mengajak teman-teman alumni kemping ke suatu tempat, namun berhubungan dengan resiko juga biaya, beragam pendapat dan alasanpun cukup variatif, hingga diskusipun cukup padat dan berlangsung lama sampai sore, dan sayangnya tidak kami temui kesepakatan untuk kemping bersama, mekipun begitu kami merasa senang bisa betemu dan berkumpul dengan sahabat sahabat tercinta terlebih mereka semua datang menuruti undangan kami.

Waktu menunjukan pukul 15:12WIB,acarapun kami sudahi, tak lupa  kembali kami rapikan tempat seusai acara lalu  pulang kerumah neneku,sembari istirahat, sebentar kami sempat membahas acara yang barusan sedikit menoreh kecewa karena rencana dan keinginan kemping bersama belum berhasil,kemudian salah satu dari kami menyuguhkan  ide keren, bagaimana kalau kita bertujuh saja yang pergi kemping  tanpa mengajak banyak anggota, tanpa lama kami semua setuju, beberapa saat kami berunding untuk memikirkan segala perlengkapan dan biayanya, ahirnya kamipun sepakat untuk berangkat kesuatu tempat yang kata orang tempatnya bagus dan cukup memuaskan  untuk kegiatan kemping dan yang paling penting aman, yaitu di  danau atau bendungan waduk cacaban yang terletak di  daerah cacaban dan masih dalam kawasan kabupaten kota Tegal juga cukup dekat dari desa kami (Pakembaran), jika menggunakan kendaraan pribadi kurang lebih 1 jam perjalanan, tapi berhubung kami mau menjelajah kami ambil kesepakatan untuk berjalan kaki saja sekaligus berolahraga.

Kami berangkat pagi hari sehabis sholat subuh, menyebrangi sebuah sungai atau kali, namanya KALI RAMBUT,cukup unik bukan,,? ;D..,menurut cerita dari orang orang tua terdahulu kenapa di namai kali rambut karena dipusat mata air atau di sumbernya, terdapat sebatang pohon besar yang mengeluarkan rambut rambut dari sejumlah rantingnya dan persis rambut manusia, tapi ya itu suatu mitos yang cukup kita tau kalo dunia ini memang cukup banyak hal hal menarik serta unik, dan ada pula cerita lain bahwa orang-orang yang pernah melihatnya manusia tertentu juga mungkin beberapa yang sudah beruntung.
Setelah menyebrangi sungai itu kami teruskan menapakan niat dan semangat kami melewati jalur jalur kecil yag cukup licin dan kondisi yang lembab karna rimbunya pepohonan besar ilalang serta rumput-rumput yang tergolek seakan menari nari ketika tersentuh sepatu basah kami, tak lama kemudian kami memasuki 2 desa yang  masih sunyi hening penghuninya, karena waktu itu masih pagi sekali pukul  06:03  W-I-B-J.....? (Waktu Indonesia Bagian Jawa) :D
Sungai / Kali Rambut  Desa Pakembaran
Perjalanan sudah 1 jam, lalu kami beristirahat di dekat pasar, dan berbelanja perbekalan makanan sekaligus sarapan, setelah dirasa cukup siap kami lanjutkan perjalanan  menyusuri desa, setelah melewati sebuah pertigaan jarak sekitar 100 meter kedepan, kami dikejutkan oleh suatu kejadian aneh bahkan sempat membuat kami menghentikan langkah, kami melihat sebuah sinar berwarna kuning seperti sinar  matahari di balik sebuah pohon mangga yang cukup rimbun di depan salah satu rumah penduduk desa, dan bentuknya pun bulat penuh persis matahari, kenapa kami merasa terkejut karna arah melangkah kami kearah barat, yang sempat terfikirkan oleh kami adalah apakah benar itu matahari dari barat, tanda tanya kamipun besar bahkan kami sempat berhenti karna bingung, pertanyaan dalam hati saya makin kearah yang menakutkan yaitu berarti ini tanda tada kiamat!!!!??.  Ohhh nooooo...

Pertanyaan itupun membuat expresi teman temanku langsung berubah bingung setelah aku ungkapkan dari mulut,kami saling pandang beberapa saat, dan salah satu teman kami langsung memecahkan kebingungan dari pertanyaanku itu dengan mengatakan,, sudahlah jangan berfikir seperti itu, lebih baik ayo kita berjalan lagi kita dekati cahaya itu,,setelah kami dekati dan Alhamdulillah teryata itu  Cuma cahaya dari lampu mercuri yang masih menyala dan  berbentuk mirip sekali dengan bulatan matahari karena tersamarkan ranting dan dedaunan pohon itu,, kamipun seketika tertawa bahagia yang tadinya sempat diselimuti rasa was was,,,:D.

Kejadian seperti ini mengisi cerita perjalanan kami, kami lanjutkan langkah kearah sebuah bukit yang tidak jauh setelah habisnya jalan di ujung desa, kami mulai menyiapkan tenaga lebih untuk sedikit mendaki, jarak tempuh sampai bertemunya bukit ini ternyata baru sepertiga  dari tempat tujuan kami, itu kami tahu setelah kaki sampai dipuncak bukit yang cukup nyaman, pemandangan indah, udara segar di pagi hari dan di ikuti suara suara burung kecil yang saling bersahutan seakan menyambut kedatangan kami di bukit itu,kira kira sekitar setengah jam kami beristirahat, kamudian kami bertemu seorang Bapak tua yang baru saja sampai sehabis melewati balik bukit yang akan kami turuni nanti, Bapak ini membawa sepikul karung berisikan muatan yang cukup besar, tapi entah apa isinya beliaupun beristirahat juga di sekitaran kami, tak berapa lama beliau menyapa kami dengan pertanyaan : 

- Hendak kemana mas sepagi ini sudah di puncak?,,
- Kami jawab dengan sopan ; mau ke waduk cacaban pak, 
- Bapak dari mana kok bawa beban banyak seperti itu,,,?
- Apa isinya pak?, (tanya kami),
- Ini isinya singkong mas baru ngambil dari sawah, ya lumayan ini mas ini juga baru 2 karung disana masih ada 6 karung lagi,,
- Bapak sendirian ?:  
- Tidak mas,, masiih ada rombongan bapak masih di belakang,,,
ooo,, anaknya ikut juga pak?,, 
- Tidak mas anak saya masuk sekolah,

Ternyata beliau orang yang gigih bekerja, meskipun jauh dan harus naik turun bukit untuk memanen dan membawa hasil panen kerumah dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan rintangan mendaki bukit, tak lama setelah tanya jawab dengan bapak petani, kami berpamit untuk melanjutkan segera perjalanan kami,, turun bukit kali ini lebih mengerikan ternyata, karna kondisi tanah yang masih licin dan rumput rumput yang masih ditumpuki embun, sedikit demi sedikit kami berjalan menurun, sekitar setengah jam ahirnya kami sampai di tanah yang datar dan matahari sudah mulai terasa menyapa kulit kami sekitar pukul 07:30, disini kami menyempatkan diri untuk mengambil air di satu sungai kecil yang mengalir jernih airnya,beberapa temanku membasuh muka.
Lalu kami lanjut berjalan,, tepat jam 08:00 wib kami sampai di pertigaan desa capar disini sudah bertemu dengan jalan beraspal yang cukup lebar dan di lalui banyak kendaraan angkudes (angkutan pedesaan),tepat pula ada pangkalan ojek lengkap dengan para ojekers yang siap mengantar orang yang membutuhkan jasa mereka, tanpa basa basi salah satu dari tukang ojekpun menghampiri kami di sebrang jalan dan menanyakan akan kemana tujuan kami seraya menawarkan jasa ojeknya,, tapi kami jawab dan tolak tawaranya dengan sopan.

Berhubung keinginan kami untuk sampai ditempat tujuan siang hari harus sudah sampai, kami berunding untuk mengurangi waktu berjalan kami dengan naik angkudes sampai di gerbang menuju wisata waduk cacaban, gerbang wisata waduk cacaban terletak tepat di jalan menikung yang agak tertutupi pepohonan,setelah masuk melewati gerbang kami menyusuri jalan aspal yang sudah rusak dan berlubang juga banyak genangan air mengisi lubang lubang jalan ,seperempat mil dari gerbang kami menjumpai sebuah warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, mampirlah kami untuk menikmati kopi dan snack yang sudah di jajakan oleh sang pemilik warung, sekaligus menghindari sengatan matahari yang mulai terik sejak awal kami masuk melewati gerbang,saya menanyakan kepada pemilik warung letak waduk cacaban itu dan katanya sekitar 500 meter  kedepan nanti mas ketemu pintu tiket masuk,, dan saya sempatkan pula menanyakan harga tiket masuk, katanya kalo hari libur sekitar Rp. 2000,-, namun kalau lagi ngga rame masuknya gratis,, dan kebetulan pada waktu kami kesitu bukan hari libur dan kami masuk hanya menyapa dan mengatakan maksud dan tujuan kami untuk sekedar kemping dan bermalam kepada si penjaga pintu tempat wisata  yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi.

Kami sedang beristirahat di sebuah warung
Setelah masuk ke dalam wisata tersebut kami melewati tempat rekreasi keluarga, diantaranya tempat bermain anak, yang cukup asyik tempatnya karna setinganya yang cukup bagus, di bawah rimbunan pohon pohon beringin dan beberapa pohon mahoni juga hiasan patung patung hewan. Dari situ terlihat pula pemandangan menyejukan mata, pulau pulau kecil yang terperangkap di tengah genangan air yang luas serta  kilauan sinar matahari yang memantul dari atas hamparan air danau, tak mau melewatkan pesona menarik itu kami turun menuju danau menuruni jalan setapak, namun dengan sedikit berhati hati karna di kanan kiri kaki kami ada beberapa rumput rumput berduri yang dapat melukai kulit jika terkena.

Sesampainya ditepi danau kami disambut seekor anjing berwarna hitam, seketika temanku yang bernama faozan mengatakan lihat itu ada dogy,,spontan dia menamai anjing liar itu, kami mengira anjing itu ada pemiliknya, tapi setelah lama kami berada disitu dan kami amati sepertinya tidak ada pemiliknya alias anjing liar dari hutan, tapi tidak apalah semoga saja kehadiran kami tidak mengganggunya begitu pula sebaliknya.
Angin sepoy sepoy, dipinggir danau, semilir membisiki tubuh, dan terasa semangatpun muncul kembali yang tadinya sudah tersusul oleh rasa lelah, melihat air danau yang begitu jernih, tanpa kompromi kamipun segera menceburkan diri mandi dan berenang sesuka hati, berfoto bareng, bahkan ada pula yang sembari menangkap ikan ikan di pinggir danau hingga berlalulah waktu menyusul sore, pemandangan di sore hari ternyata lebih indah dan makin memanjakan mata, terbayarkan rasanya jauh jauh kami datang dengan bekal seadanya namun tetap percaya diri juga sedikit nekat..:D.
Jam 5 sore kami menyudahi cengkrama kami dengan air danau yang mulai membuat tubuh kami menggigil, dan untuk menguranginya kami berbagi tugas mendirikan tenda dan mencari kayu bakar untuk persiapan memasak dan membuat api unggun malam nanti, kami dirikan tenda tepat dipinggir tepian danau dekat dengan ikan ikan kecil yang lalu lalang di bawah air sibuk mempersiapkan diri mereka menyambut malam hari, hanya saja bedanya mereka tidak bisa membuat api ungggun seperti kami malam nanti,,:-D.
Adzan berkumandang, bergegaslah kami mengambil wudhu untuk sholat maghrib, usai  sholat berjamaah, perut mulai memberi isyarat kalau sudah waktunya untuk di manjakan, bekal makanan kami siapkan, dengan lahap dan nikmatnya, kami makan bersama ditepi danau dan  suasana kekeluargaaan amat sangat terasa.
Terpecah sudah rasa lelah kami seharian, waktunya bersantai menikmati malam, benar benar malam yang indah di temani suasana alam yang begitu  mengagumkan, penampakan garis -garis cahaya dari tepian pulau yang berada agak jauh dari tempat singgah kami, dan terlihat pula sebuah bendungan besar tepat di sebrang selatan, ditambah  pemandangan cantik oleh lampu lampu kecil yang menancap diatas bendungan, api unggunpun segera kami buat untuk menambah suasana yang menyenangkan ini, juga candaan serta games-games keci kami riuhkan, keceriaanpun kami nikmati dan seakan malam ini hanyalah buat kami.

Sedikit kesalahan telah kami lakukan dimana semut semut kecil berjumlah ribuan yang sangat menyakitkan ketika menggigit berdatangan ketempat kami, mereka memakan sisa sisa ayam bakar yang kami buang sembarangan juga berserakan disekitar tempat istirahat, kamipun sibuk segera membersihkan  tempat dan mengusir semut semut itu, suatu pelajaran buat kami kalau kemping berikutnya atau berada di tempat manapun agar membuang sisa makanan lebih diperhatikan atau disiapkan tempat husus buat sampah, dan tersadar juga kami atas kesalahan itu bahwa memang buang sampah sembarangan akibatnya tidak menyenangkan, kami pula berharap untuk semua orang tentang kepedulian membuang sampah pada tempatnya.
Tepi Waduk cacaban Menjelang Malam
Waktu menunjukan jam 10 malam, angin terasa semakin dingin suasana malampun mulai sedikit mencekam namun tak terhindarkan rasa mengantuk mulai melanda, kami mencoba mensiasati untuk istirahat, meskipun semuanya ingin tidur namun tetap kami fikirkan keselamatan, kami bergiliran untuk istirahat, 4 orang tidur 3 orang  berjaga selama 3 jam, aku asep dan faozan berjaga sembari lirih lirih memainkan gitar, kira kira jam 11 malam kami dikejutkan oleh suara suara anjiing dengan gonggonnganya  yang begitu keras juga ramai sekali mungkin jumlahnya sangat banyak, untungnya mereka di sebrang pulau, namun kami tetap merasa takut, berdoalah saja demi kebaikan begitu kalimat dari faozan untuk kami, jadi malam itu kami tidur tidak begitu nyenyak.

2 jam kemudian kami lebih terkejut,tiba tiba ada 2 ekor anjing besar berada dekat sekali dengan kemah kami sekitar jarak 5 meter, dan yang lebih mengesalkan lagi 2 anjing itu sempat berhenti dan menoleh kearah kami dengan sosok buasnya, sungguh takut kamipun makin memuncak ke otak dan jantung rasanya semakin berdegar kencang, hanya berdoa dan berdoa tanpa mau melihat ke arah dua anjing besar garang itu,berkat berdoa, tak lama merekapun pergi melalui kami dan lega rasanya tak diganggu binatang itu, sekitar pukul 2 pagi kami begiliran istirahat tidur, dan kami melalui malam dan kejadian itu dengan selamat sampai pagi menyambut.

Alhamdulilah paginnya kami tak sampai absen menikmati sunrise yang melebarkan senyum kami meskipun pagi ini adalah perhitungan usainya kegiatan kami disini, sebelum persiapan pulang dan membereskan serta merapikan tempat bekas kegiatan kami, kami sempatkan untuk mandi demi menyegarkan  tubuh, ya meskipun terasa begitu dingin tapi daripa tidak mandi,,:-D,
Angkudes Slawi - Jatinegara - Cerih
Jam 9 tepat waktunya menyadari bahwa bekal sudah habis juga perjalanan pulang jauh, kamipun membereskan perlengkapan dan siap kembali di bawa pulang, berjalanlah pulang melewati jalur jalur awal kami masuk , 15 menit kemudian kami sampai di pintu gerbang, dan menyetop angkudes menuju pasar Jatinegara arah kami pulang dan dilanjut perpindah angkot ke arah pasar cerih dimana waktu berangkat kami sempatkan mampir berbelanja bekal disana,perjalanan pulang lebih cepat karena kami menggunakan angkudes, dan pukul sebelas siang tepat kami sampai di rumah, Alhamdulilah semuanya lancar dan selamat.
Inilah cerita kami di waduk cacaban, salah satu tempat yang cukup terkenal bagi para pemancing juga orang orang sekitar daerah kabupaten tegal, cobalah datangi tempat itu dan rasakan keindahan alamnya.,,:-) thanks.

3 komentar

  1. Ini artikel punya mas zainal kakanya ghofir bukan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan gan.... hehehe... tapi dalam artikel ini ada adiknya mas ghofir uga.

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejajak dengan berkomentar
- Jangan lupa Check Notif Me.

Jangan Lupa Share, Follow Tweet dan IG : @mas_adventure

For business inquiries
zainalmutakin.pml@gmail.com