Based On Book : Jelajah Batavia Tempo Doloe

Based On Book adalah melihat sesuatu berdasarkan buku, kayaknya si artinya kaya gitu kalau gak salah, hehehe pokoknya intinya kita menjelajah berdasarkan yang ada dalam buku gitu deh, dan Kopdar Komunitas Buku dan Blogger Backpacker Jakarta kali ini adalah Jelajah Batavia Tempo Doloe berdasarkan buku yang berjudul “Tempat Tempat Bersejarah di Jakarta dan Sumber Sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II"  Karya Adolf Heuken SJ.

Dalam buku tersebut menceritakan tentang Jakarta Tempo Doloe, meskipun gue gak begitu mudeng banget soal sejarah, apalagi sejarah Jakarta yang notabene gue sendiri bukan orang Jakarta, tapi gue akan sedikit menceritakan bagaimana perjalanan kami kemaren dalam menyusuri Batavia Tempo Doloe.

Oh ya narsum kita kali ini yaitu bang Wahyu dan Bang Yoga yang punya IG @ranselwepe  kalian bisa tanya langsung ke beliau kalau tulisan ini kurang informatif.

Based On Book : jelajah Batavia Lama

Dalam perjalanan Jelajah Batavia ini kami fokuskan pada benteng benteng yang masih tersisa,

Perjalanan awal kami mulai menuju Museum Bank Indonesia dimana di situ juga masih terdapat reruntuhan bukti benteng kota yang sudah ada sekitar 400 tahun lalu, kemudian kami lanjut menuju Toko Merah.



Toko Merah 
Toko Merah terletak di tepi Barat Kali Besar Kota Tua Jakarta, Toko Merah adalah bangunan kembar dengan satu atap dan dua pintu utama yang berukuran tinggi dan besar yang menyatu dengan fanlight, meskipun bangunan ini sudah sangat kuno sekali namun bangunan ini ternyata memgadopsi bangunan moderen, bisa di lihat dari adanya sekat untuk memcegah saat terjadi kebakaran tidak merambat ke toko sebelahnya.



Gedung Toko Merah di bangun sejak tahun 1730 Oleh Gustaf Willem Baron Van Imhoff Gubernur Jendral VOC, 
Gedung Toko Merah juga dilindungi oleh Pemerintah sebagai Cagar Budaya dengan undang undang Nomer 5 tahun 1992 dan surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta no. 475 29 Maret 1993

Namun sayang Gedung Toko Merah sekarang di tutup sejak tahun 2003.
Selengkapnya tentang sejarah dan fungsional toko merah bisa klik sumber di sini, Selanjutnya kami menuju ke Jembatan Intan.

Jembatan Intan
Jembatan Kota Intan terletak di Ujung Utara Jl. Kali Besar Barat dan Kali Besar Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jembatan Kota Intan merupakan jembatan tertua di Indonesia warisan belanda dengan kontruksi besi dan kayu yang merentang di ujung kali besar yang airnya gelap dan keruh.



Jembatan Kota Intan juga di dikenal  dengan nama Jembatan Pasar Ayam.
Jembatan Kota Intan di bangun sejak 1628 oleh Oostindische Compagnieatau VOC, dan sudah memgalami pemugaran beberapa kali. 
Selengkapnya kalian bisa intip sumbernya di sini.


Setelah di ceritakan Banyak oleh nara sumber kita tentang Jembatan Kota Intan dan lain lainya kami kembali melanjutkan perjalan menuju ke Galangan Kapal

Galangan Kapal 
Galangan Kapal Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) didirikan pada 1628 di Batavia. Pada waktu itu, 388 tahun lalu, Galangan kapal VOC adalah bangunan penting yang menyokong jaringan niaga di Hindia Belanda. Kapal-kapal, baik besar maupun kecil, bongkar muat di galangan, mengantarkan barang dagangan. Mulai dari rempah hingga kain yang merupakan komoditi berharga mahal. Selengkapnya klik sumbernya Disini


Galangan Kapal VOC

Galangan Kapan VOC meskipun terlihat beberapa atap yang sudah rapuh dan bangunan yang semakin menua, namun tiang tiang kayu penyangga masih sangat kokoh menjaga gedung galangan kapal tersebut, gue yang penasaran sama dalamnya mencoba memasukinya, kondisi yang sangat gelap sedikit membuat bulu kuduk merinding hihihihi.. di dalamnya kosong tak ada apa apa karena memang sudah tidak di fungsikan lagi. Dan kami kembali melanjutkan perjalan menuju Museum Bahari.

Museum Bahari 
Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Sumber Selengkapnya Disini


Museum Bahari Kota Tua

Museum Bahari menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dan 107 buah miniatur, foto-foto dan biodata laut lainnya. 
Sumber : Klik Disini


Meskipun museum bahari merupakan museum jaman dahulu namun museum bahari juga menyimpan beberapa replika replika ketjeh yang menceritakan tentang sejarah batavia dan legenda lainya, cukup lama kami melihat lihat.





Sekedar informasi buat kalian yang mau ke Musem Bahari berikut harga tiket masuknya :
Perorangan Dewasa  : Rp. 5.000
Rombongan Dewasa Minimal 30 Orang : Rp. 3.750
Mahasiswa Perorangan : Rp. 3.000
Rombongan Mahasiswa Minimal 30 Orang Rp. 2.250
Pelajar Rp. 2.000
Pelajar Rombongan Minimal 30 Orang : Rp. 1.500

Karena waktu sudah menunjukan waktunya Ishoma, Akhirnya kita melakukan Ishoma Di Sekitar Museum Bahari, dan setelah semuanya selesai kami melanjutkan perjalan lagi menuju Kastil Batavia, namun sebelum kesana kami sempatkan dulu duduk duduk santai dan melakukan sesi perkenalan di kawasan Menara Batavia.


Gue paling seneng kalau ada sesi perkenalan, dimana semua peserta harus memperkenalkan diri dan sedikit memberikan pesan kesannya, yang gue suka dari perkenalan ini adalah kita bisa melihat keunikan dan kelucuan dari para peserta yang tak lepas mengundang tawa buat kami semua.

Nah setelah ini baru kami melanjutkan menuju ke kastil batavia, yang katanya di sana masih terdapat satu benteng lagi, denger nama kastil menurut gue serem... hihihi.

Kastil Batavia
Kastil Batavia adalah benteng yang di bangun oleh VOC untuk mengganti benteng yang lama yang digunakan untuk menampung semua aktivitas dan kegiatan dagang VOC.

Kastil Batavia di bangun dengan sangat megah dengan luas sekitar sembilan kali benteng lama dan terdapat empat bangunan bastion yang diberi nama Diamont, Robijin, Sahier dan Parel,


Kastil Batavia

Pada saat kami berkunjung kesana kastil batavia memang sudah tak terawat lagi, dan menjadi bangunan kumuh, karena penasaran dengan isi di dalam Kastil Batavia tersebut saya mencoba mengintip dari balik jendela yang terbuka, tapi hanya kegelapan dan aura seram yang bisa saya lihat.


Setelah mengunjungi kastil batavia, mas wahyu kembali mengajak kami berkunjung ke Gedung Olveh beliau ingin menunjukan pada kami tanah asli Jakarta yang sekarang sudah tertimbun beberapa centi meter oleh bangunan bangunan, yang katanya di artikan bahwa penanganan Jakarta sejak dulu sudah salah, yang mengakibatkan banjirnya kota Jakarta,

Yes jadi Gedung Olveh ini adalah  bangunan yang sudah ada sejak 1879 dan sekarang posisinya bisa menjadi berada di bawah, dan Gedung Olveh menjadi saksi tenggelamnya tanah Jakarta.

Gedung Olveh : Saksi Tenggelamnya tanah Jakarta

Gedung Olveh mempunyai tiga lantai, dan saat ini di lantai ke tiga Gedung Olveh terdapat sebuah Caffe, Cukup lama kami di Gedung Olveh, karena memang suasananya yang sangat adem dan tenang, juga memang kami sudah lumayan lelah dan asik dengan obrolan obrolan kami sampai akhirnya jam kunjungan Gedung Olveh berakhir dan dengan sadar diri kami harus membubarkan diri. Hehehe

Foto kiriman Zenal MuttaQien (@mas_adventure) pada


Terima Kasih BPJ, Terima Kasih Kubbu, dapat pelajaran dan Keluarga  baru dari kalian.


Disclaimer :
Penulisan artikel ini berdasarkan Perjalanan Based On Book dan dari beberapa sumber sumber dan link yang sudah di serakan, Mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan, mohon koreksinya. Terima Kasih



9 komentar

  1. Wah, keren!
    nyesel juga kemarin nggak sempet kepo sama dalemnya kastil batavia, :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gue juga, tapi baca baca di blog tetangga si dalamnya kosong, dan dulu sempet di jadikan kandang ayam juga hiks hiks

      Delete
  2. weeew, enaknya liburan. ada paket liburan keliling kota tua seperti ini. apalagi tambah paket malam ya mas , klu ad?

    sayang banget ada beberapa sisi-sisi bangunan yang nggak atau kurang terawat ya mas :( ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gan, namanya juga bangunan kuno.

      Delete
    2. instasi terkait harus banyak belajar , utk merawat bangunan tersebut ya mas :(

      Delete
  3. Fotonya yg d support dr Kubbu bpj gk keliatan deh.
    Gw sendiri penasaran ingin lihat fotonya.
    Ada beberapa typo tuh.
    U nama kota besar, huruf depannya pakai huruf besar.
    Ada beberapa kalimat satu dengan kalimat yg lainnya dibacanya gk enak.

    Pembaca adl editor terbaik hohoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mindang atas koreksinya, iya nih resikonya kalau nulisnya lewat hape dan buru buru di Posting ....

      Delete
  4. mau koreksi yang bang zen...itu bukan kastil batavia..karena letak kastil batavia ada disebrang galangan kapal VOC dan sekarang sudah rata dengan tanah JP.coen sendiri yang sengaja meratakannya dengan tanah,,kalo bangunan yang terakhir adalah gudang sisi timur,,sama hal nya museum bahari adalah gudang sisi barat..kita kesana kemaren hanya menunjukkan sisi benteng barat yang tresisa dan sisa benteng dan gudang timur yang ada di jl.tongkol..sory ya numpang ngoreksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima Kasih bang wahyu atas revisinya, saya pikir gedung itu kastilnya hehehehe ternyata bukan

      Delete

Silahkan tinggalkan jejajak dengan berkomentar
- Jangan lupa Check Notif Me.

Jangan Lupa Share, Follow Tweet dan IG : @mas_adventure

For business inquiries
zainalmutakin.pml@gmail.com