Ciremai 3078Mdpl Via Jalur Linggasana Baru

Gunung Ciremai terletak di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, untuk sampai ke puncak gunung ciremai  bisa melalui beberapa jalur pendakian, diantaranya, jalur palutungan, jalur apuy, jalur linggarjati, jalur linggasana, dan satu lagi dari Jalur baru via linggasana.



Ketika berangkat dari basecamp linggasana setelah kurang lebih 1 jam perjalanan nantinya akan menemui pertigaan, dan di sebatang pohon ditunjukan arah kekanan jalur lama linggasana, arah kiri jalur baru linggasana, seandainya mengambil arah kanan nanti akan sampai di pos kondang amis, yakni titik pertemuan antara jalur linggasana lama dan linggasana baru, tapi perlu di ingat jika melalui jalur linggasana lama kalian tidak akan menemukan sumber air, berbeda dengan jalur baru yang ke arah kiri, disana akan menemukan beberapa titik sumber air, itulah sedikit gambaran tentang jalur baru via linggasana.
  
Memanfaatkan waktu libur,yang hanya dua hari (minggu - senin) untuk mendaki Alhamdulillah terlaksana dengan lancar,  kami 6 orang berangkat dari Jakarta pukul 10 Malam, dari terminal kp Rambutan (Jakarta Selatan) dan sampai di desa linggasana pukul 4 pagi.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam, untuk menuju daerah Kuningan, kami menaiki bus Luragung yang bisa ngebut dijalanan dengan tarif 80rb per orang non AC, bagi yang takut ketika bus ngebut mending tidur saja kalo pak sopir lagi ngga peduli apapun, kecuali kejar setoran,  :D

Awalnya kami pada bingung nanti patokan untuk turunnya dimana,? tempat apa,? dan namanya apa? sebab dari beberapa sumber info dalam artikel tidak ada yang dengan jelas memaparkan lokasi tepatnya, namun tak begitu khawatir yang penting bilang saja ke kondektur bus “hendak kemana” pasti kondektur sudah tahu, kamipun diturunkan disebuah pertigaan didesa linggasana dan terdapat sebuah tugu yang berdiri tegak disebelah kanan jalan arah dari Jakarta, dan tugu ini bersebrangan dengan Indomart, tempat kami diturunkan, disekitaran area ini banyak warung warung warga,, bagi yang mungkin turun disini masih siang atau sore, sangat memungkinkan anda bisa belanja perbekalan yang belum komplit.





Ketika turun dari bus ada beberapa pendaki yang hendak mendaki via linggarjati, mereka naik ojek menuju basecamp linggarjati, yang kebetulan pada waktu itu ada beberapa ojek dan satu mobil angkot, basecamp linggarjati dan linggasana tidak jauh dari tempat tugu ini, tanpa lama kami coba menghubungi pak Yatna/abah Yatna, (pengurus basecamp), orangnya baik dan pengertian ke para pendaki, beliau termasuk orang yang mengurus pendaftaran calon pendaki, silahkan tanya tanya saja ke beliau ketika dibasecamp linggasana.

Tuut tuuutt tuttt.,,klek ,,
“Assalamualaikum...”
“Waalaikum salam...”
“Kang ini kami yang dari Jakarta udah sampe di pertigaan..?”
“Oh udah sampe ya, berapa orang mas,,?”
“8 org kang, tapp ada juga rombongan lain”
“Oh,, ada angkot atau ojek ngga mas disitu,,?”
“Ada kang, 1 angkot, 2 ojek, tapi ojeknya mau nganter pendaki lain”
“oh. ya udah sebentar saya kesitu mas,”
“Nuhun kang kami tunggu...”

Tidak  lama, kang yatna datang dan bertemu dengan kami, kebetulan sopir angkot nampaknya akrab dengan kang yatna, tampak mereka mengobrol seperti sedang diskusi ala bahasa sunda,,  Dan tak lama ,
“Ayo mas naik angkot ini biar di anter sampe ke basecamp”, kata kang yatna, berapa biayanya per orang kang,.,?tanya kami,
10 ribu aja mas biasa, ... ok baiklah, kami naikan carriel, ditumpuk dan diikat diatas angkot,,,dan berangkaaaat,,,kurang lebih 20 menit, kami sampai di basecamp linggasana yang masih gelap dan ada beberapa pendaki yang tampaknya sudah lebih dulu sampai, termasuk 2 teman kami yang datang berangkat dari Pemalang, kami janjian bertemu langsung dibasecamp, dan kamipun jadi 8 orang.


Beberapa fasilitas yang tersedia di basecamp linggasana ini diantaranya, mushola, kamar kecil (bersih), parkir24 jam yang luas, air yang mencukupi juga segar, suhu udara di ciremai terbilang masih bersahabat, tidak terlalu dingin.

Setelah beberapa menit ngobrol sambil ngeteh manis yang di suguhkan  dari basecamp, rasanya lebih siap mendaki kalau di awali dengan sholat subuh dulu, terus mandi biar seger, agar hilang penat gerah lusuh kusut, akibat desak desakan di dalam bus semalam, karena tiap laju bus melambat pasti tukang asongan langsung menyatroni masuk kedalam bus, yang bikin suasana gaduh, rusuh, mondar mandir bikin bete,,,huhhh intinya kala itu susah nyari kenyamanan.

Jam setengah 6 pagi, langit mulai cerah, dan berharap besar, semoga saja tidak hujan pas mendaki nanti, sampai kami turun dan kembali ke Jakarta, Carriel kami packing ulang sekaligus ngecek, barang bawaan, takut ada yang ketinggalan.


Dan ,,aargghhhhh,,,!!! benar saja, satu carriel berisi logistik kami tidak ada, sontak bingung, kesal dan bertanya tanya dengan keadaan semacam ini, terus bagaimana ini,?? tanya salah satu dari kami, kami bingung, kira-kira tertinggal dimana, lalu salah satu  teman kami coba menelfon kondektur bus yang sempat ngasih nomer telfonya pas kami turun dari bus, yang tujuan awalnya  pak kondektur adalah biar kami naik busnya lagi pas mau pulang ke Jakarta, dan alhamdulillah, keberuntungan masih memihak kami, benar saja tas ketinggalan didalam bus.

“Posisi bus sekarang dimana pak?”
“Lagi di ciawi mas, ni busnya lagi dicuci, saya sudah titip pesan ke tukang cuci kalau nanti ada pendaki yang mau ambil tas, kasih aja, itu tas nya ada didalam”

Dan kami tanya alamat lengkap, nopol bus, dan 2 orang dari kami bersiap  untuk berangkat ke Ciawi mengambil tas.
Rencana mendaki berangkat jam 7 pagi pun tidak sesuai, kami yang berdelapan, mau tidak mau, menjadi 2 grup, 4 orang pertama mendaki lebih dulu, agar bisa mendirikan tenda sebelum sore, lalu kira -kira 3 jam berlalu kedua teman kami sudah kembali dari Ciawi.
Jam10 siang kami berempat menyusul untuk mendaki, tanpa lupa panjatkan doa keselamatan lebih dahulu, cuaca terlihat cerah sampai detik ini, dan angin segar  berhembus  memacu semangat, meski kami sadar sudah tertinggal jauh dari rombongan pertama.

***
Perjalanan diawali memasuki hutan dengan kondisi udara sejuk, jalur yang cukup lebar mudah dilihat, dan melewati beberapa tempat untuk istirahat yang terbuat dari bambu, selokan selokan kecil dan genangan-genangan air berwarna keruh kecoklatan berdampingan dengan jalur yang sedang kami lalui, memakan waktu kurang lebih satu jam dengan irama santai dan sesekali berfoto dan kami menemukan area yang cukup sejuk dan sejenak untuk istirahat, yang ternyata itu adalah pos I.


Sebelum sampe ke pos 1, sepanjang perjalanan masuk kedalam hutan yang lebat, basah dan jalur licin.
Dan seperti yang sudah dijelaskan di awal, kira-kira kurang lebih 1 jam perjalanan, kami sampai dipertigaan dengan petunjuk antara jalur lama dan jalur baru, kami mengikuti jalur baru, yang sebelumnya 4 teman kami juga lewat jalur baru, jalur ini untuk awalnya diketinggian kurang lebih 800mdpl, cukup mudah dan jelas juga karena bukan trek yang menanjak, banyak tempat buat sejenak bersandar, seandainya pundak dan lutut molai minta ampun, namun sayangnya jalur ini masih banyak pohon duri yang malang melintang di jalur, jadi mata harus waspada, terlebih jika hendak mendaki  dimalam hari, dan yang  sedikit membingungkan adalah peta yang kurang sesuai antara nama-nama dan tempat yang ada di peta, dan letaknya, termasuk tanjakan madu yang  dipeta tidak dituliskan.


Jam menunjukan pukul 1 siang, langit yang tadinya cerah sumringah mendadak murung mendung, ditambah lagi perut terasa mulai lapar, jalurnya pun makin menanjak, keinginan dalam hati segera menyusul 4 teman kami jadi surut, karena perut sama lutut sepertinya sudah susah di ajak kompromi.

Dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur, suasana berubah  kepanikan,dan tergesa gesa ingin segera memasang fly sheet untuk berteduh, karena waktu yang cukup sempit dan tali fly sheet berada di dalam tas yang cukup susah mengambilnya, walhasil kami memeasang fly sheet menggunakan akar akar pohon yang bergelantungan dan cukup kuat untuk mengikat, sembari berteduh dan menunggu hujan reda, menyantap mi instan adalah ide brilian dalam suasana seperti ini, seakan hujan ini memperingatkan kami untuk istirahat terlebih dahulu, karena tidak sampai 1 jam hujan reda, tepat sebelum kami membereskan peralatan.



Ada dua pendaki yang sedang turun, dan sempatkan kami bertanya kepada mereka apakah bertemu empat teman kami yang didepan, dan merekapun jawab iya, sekaligus memberi tahu kalau kami sudah ditunggu, mendengar itu kami segera melanjutkan perjalanan. 


masih tetap menyusuri jalur licin didalam  hutan, sesekali terdengar sahutan suara hewan dan burung, melihat jam tepat pukul 2 siang, langit cerah lagi, sekarang ketinggian kami sekitar 1700Mdpl, naik dan terus naik, tanpa merasakan lagi perut yang keroncongan, berkat mi instan yang sempat kami makan tadi cukup menghilangkan bunyinya.

Satu jam kemudian, sampailah kami di ketinggian 1900mdpl (Kibima), sebuah tempat datar yang cukup untuk menampung 4 tenda, disitu pula kami bertemu 4 teman kami yang sudah mendirikan tenda dan sedang asyik bersantai, ada pula beberapa pendaki dari Brebes, namun tidak lama kemudian mereka yang dari Brebes membereskan tenda dan peralatan, lalu segera melanjutkan pendakian, sementara kami sepakat ngecamp dan bermalam disini.



Area ini masih didalam hutan, pohon-pohon besar, rimbun dan tinggi membatasi jarak pandang tapi juga melindungi kami dari terpaan angin yang kencang,

Setengah enam sore cuaca yang tadinya cerah sekarang meredup disusul petang hingga berubah menjadi malam, alat penerangan kami persiapkan dan  kami berkumpul didalam tenda, sembari melampiaskan rasa lelah bertukar cerita perjalanan siang tadi yang penuh dengan konflik rasanya sedikit mengurangi ketegangan dalam fikiran, turut pula minuman hangat dan beberapa cemilan pengusir hawa dingin, rintik-rintik kecil diluar tenda masih berlangsung, beberapa peralatan yang ada diluar kami biarkan basah, karena ruang dalam tenda tidak lagi muat untuk menampung semua peralatan kami, lama kami mengobrol dan bercanda, jam menunjukan tepat sebelas malam, segera kamipun membereskan ruang tenda untuk beranjak mengistirahatkan badan, kaos kaki. sarung tangan, buff, dan sleeping bag, kami gunakan untuk menjaga suhu tubuh dari hawa dingin ketika tidur, mengingat semakin malam udara akan lebih dingin.





Jam 3 jam 3,,!! bangun,,!! banguun,,!!muncak,,!!,,!!
Teriakan salah satu teman kami dari luar,,,,

Uuuhh padahal rasanya belum sampe mimpi,udah jam 3 aja,,dengan sedikit malas, tidak bisa menolak kenyataan, seperti sedang punya tugas besar dari bos ditempat kerja, mau ngga mau kami harus bangun dan keluar tenda, meskipun udaranya dingin dan masih sangat ngantuk.

Sebelum berangkat menuju puncak, penerangan, Headlamp dan senter  tangan kami keluarkan, kamera, air minum, dan snack, kami masukan kedalam daypack, setengah 4 pagi, kami mulai berangkat menuju puncak dengan harapan besar besar bisa mendapatkan sunrise.

Perjalanan melewati beberapa pohon besar yang tumbang, serta jalur yang sangat licin dan becek, satu jam sepertinya sudah berlalu, jam setengah lima menunjukan waktu subuh sudah tiba, satu jam kedepan kami harus segera mencapai puncak dan menikmati sunrise, namun sungguh sayang tampaknya kami masih dititik yang sangat jauh untuk bisa sampai puncak, sepertinya waktu satu jam tidak akan cukup, mengingat kondisi badan yang terasa makin kelelahan, bekal air minum makin menipis, jalur semakin menanjak dan seperti  tiada ampun, akibatnya kami sering berhenti dan istirahat, kurang lebih di ketinggian 2400 mdpl jalur berubah menjadi jalur bebatuan besar tak beraturan dan bervariasi dengan akar-akar tunggang yang cukup sulit untuk dilewati ,tapi sebelum melewati jalur batu tersebut kami lebih dulu melewati terowongan pendek diantara semak-semak, dan berkesan seperti  masuk kesebuah gerbang.



Disini harus extra hati-hati, sebab didalam terowongan banyak ranting pohon  melintang, dan bebatuan licin yang berlumut, setelah melewati terowongan ini, jalur didominasi akar akar dan ada banyak bonus jalur landai, namun dititk ini masih sangat jauh dari puncak, kami melewati banyak areal kemping, dan sempat pula bertemu beberapa pendaki yang hendak ke puncak.
   


Lihat waktu di jam tangan sekarang sudah menunjukan 05:56, lihat ke atas langit sinar matahari tidak kunjung nampak, kata salah seorang pendaki yang kami temui, “meskipun jam 5 mas sudah berada di puncak sepertinya tidak akan mendapat sunrise, karena lihat saja mendung di sekeliling langit”, yah memang itulah yang sedang terjadi, kami sedikit ada kecewa, karena berangkat dari sebelum ayam bangun dan berkokok sementara kami sudah keringetan begini, belum juga di beri hasil yang kurang memuaskan, tapi tak apalah, yang penting kami tetap sabar dan bisa terus melanjutkan perjalanan menuju titik tertinggi Jawa Barat, dan empat teman kami yang kemaren mendaki lebih dulu, sekarang malah berada di belakang, mungkin karena kelelahan atau apa, yang jelas mereka sekarang tertinggal jauh, tapi semoga tidak pantang menyerah.

Jalur kini makin terlihat terang karena sudah memasuki batas vegetasi, tenaga makin dikuras, sepuluh langkah berhenti  mengambil nafas, sempat kami temui sepasang pendaki, yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan, kami coba menyemangati namun sepertinya mereka memang benar benar sudah tidak sanggup, tapi tak apalah, itu keputusan bagus, daripada memaksa.


Sampai disini kami merasa seperti sudah berjalan seharian tapi belum juga sampai, bertempur melawan jalur yang kejam, salah satu teman kami hampir tumbang karena lelah, meskipun jalurnya kejam tapi pemandangan alam dari ketinggian sungguh merubah rasa lelah kami menjadi semangat baru dan menambah penasaran seperti apa keindahan kawah dari puncak ciremai, sebelum sampai di puncak, ribuan edelwais, tertata rapi terlihat dari kejauhan sangat cantik memanjakan mata, banyak para pendaki yang tak mau menyiakan kesempatan untuk berfoto ,termasuk kami, sampai di ketinggian 2000 lebih, sebelum pos pangasinan, ternyata masih ada banyak tempat ngecamp yang cukup luas, kami sungguh lelah, lapar, dan kehausan, untung saja matahari tidak terlalu terik.




Kami tiba di pos pangasinan, sebuah lokasi datar yang kira-kira cukup untuk menampung 6-8 tenda, namun sayang area ini termasuk kotor oleh banyaknya sampah plastik dan botol bekas minum, di pos ini kami hanya sebentar mengambil beberapa lokasi untuk berfoto,dan segera melanjutkan perjalan naik menuju puncak.

Jalur setelah pos pangasinan, sekarang lebih berbeda dari sebelumnya, jalurnya lebih menanjak dan jelas ini batas vegetasi, karena tanah dan pasir hitam bercampur disepanjang jalur, meskipun tidak terlalu dalam tapi jurang jurang kecil di samping kiri dan kanan jalur, memaksa kami untuk lebih berhati hati, jangan sampai lengah, terbuai oleh keindahan pemandangan yang ada disekitar saat ini.
Tidak sampai satu jam kami tepat sampai puncak ciremai,, Alhamdulillah ahirnya sampai juga dipuncak, meskipun kami belum lengkap 8 orang, sekitar jam 9 kami tepat berada dipuncak, jadi kurang lebih memakan waktu 5 jam dari pos kibima sampai di puncak kami  lewati.

Ketika sampai di puncak sudah banyak para pendaki yang sedang menikmati keindahan alam di kabupaten kuningan ini, tak mau terlewat kamipun mengambil banyak foto, dari berbagai sudut, dan tampak pula banyak pendaki wanita yang berkumpul di area puncak dari jalur palutungan, karena jalur itu jalur favorit para pendaki, yang katanya jalur landai dan bersahabat, salah satu teman kami penasaran akan hamparan luas di area sekitar puncak ciremai, dan dia pun mengelilingi sapanjang bibir puncak sendirian, dan katanya pemandangan dari segala sudut benar benar memukau, seandainya tidak ingat besok harus kembali kejakarta mungkin kami akan berlama lama di sini atau mungkin menginap satu malam lagi, teman kami memutari bibir puncak memakan waktu 1 jam. 




Meskipun lelah dan capek, keseruan dan kebahagiaan kami pecah ketika sampai dipuncak dan komplit delapan orang, dua jam berada di puncak, seperti baru dua menit, tapi setelah awan mulai meninggi menunjuan waktu sudah siang, kami terpaksa harus turun dan kembali ke basecamp.
Semua rasa bercampur disini, lelah, capek, haus lapar, tapi puas, mengiringi perjalanan menuruni punggungan gunung, waktu tempuh turun, lebih singkat, sekitar 2 jam, sampai di pos kibima, tapi sebelum itu, kami sempat di guyur hujan ketika turun, sampai di tenda, kami, memasak, nasi goreng, tempe goreng, nuget, sungguh nikmat terasa dimakan bareng sambel terasi.
Jam menunjukamn pukul 3 sore, ketika itu, dan setelah usai makan dan dirasa siap melanjutkan perjalanan menuju basecam, kami membereskan, peralatan dan melipat tenda, satu jam berselang semua beres, dan siap turun,, awalnya kami kira tidak akan turun hujan lagi, selama waktu tempuh menuruni sisa gunung.


Tapi ternyata justru ini adalah hujan yang paling deras mengguyur  kami selama di gunung, jam setengah 6 sore, hujan turun dengan begitu derasnya, beban menambah berat di atas carriel kami, raincoat, dan ponco, kami kenakan, tak lupa senter juga dipersiapkan, ketika turun gunung dibarengi hujan membuat kaki tidak bebas melangkah dengan cepat, karena jalur jadi sangat licin dan gelapnya didalam hutan yang lebat mengharuskan memiliki senter yang terang, karena ketika itu senter yang malam sebelumnya sudah dipakai berjam jam sekarang dayanya berkurang sehingga tidak  sempurna menerangi arah jalur.

Jalan kamipun menjadi amat sangat pelan, sesekali tangan kena duri yang berada di jalur karena pohon duri banyak yang berserakan, di tepian jalur, sering kami terpeleset, dan jatuh, jalur benar benar sangat licin, beban di pundak semakin terasa berat.

Meskipun dalam kondisi diguyur hujan, rasa haus tak tertahankan, dalam hati sangat berharap jalur segera usai, dan segera tiba di basecamp, dan setelah kaki sudah sangat lemah, jam 9 malam kami sampai dibasecamp, meskipun hujan belum juga reda, semua pakaian yang masih melekat dibadan, terasa tidak nyaman, karena lembab, dan hawa dingin yang lebih terasa dibanding hari sebelumnya.

Di basecamp ternyata sudah ada beberapa pendaki yang masih menunggu temanya yang belum turun, kami beristirahat di basecamp, dan bersih bersih, sepatu, sandal, dan pakaian, yang kotor, karna saking laparnya, kami memesan mie rebus ke anaknya kang yatna, sembari menunggu mobil angkot yang hendak mengantar kami ke jalan raya untuk mencari bus ke jakarta, jam 10:30, kami di antar ke jalan raya, tapi, disini masih saja ada kesal, karna pas kami turun angkot, giliran pas bayar, kami disuruh membayar 20.000/ orang, kamipun kaget dan berusaha menawar dengan pak sopir, karena tarif yang sebelummnya, hanya 10.000/ Orang.

Tepat jam 5 subuh, kami sampai di Jakarta lagi dan turun, di kp rambutan, dan segera mencari taxi untuk mengantar ke Cilandak, dengan membayar 50.000, Sekian.

Oleh : Makmun Basri

3 komentar

  1. belum pernah lewat linggasana, berbeda dengan linggarjati, di linggasana katanya ada 2 mata air

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ada mas kalau lewat linggasana yang jalur baru. Mata air kw dua di ketinggian 1900 pos Kibima

      Delete

Silahkan tinggalkan jejajak dengan berkomentar
- Jangan lupa Check Notif Me.

Jangan Lupa Share, Follow Tweet dan IG : @mas_adventure

For business inquiries
zainalmutakin.pml@gmail.com