ODT Situs Gunung Munara

Menjelang bulan suci Ramadhan, kantor aku ada libur empat hari. Kamis, Jum'at, Sabtu, dan Minggu.
Sebagai orang yang baru tinggal di negara orang (Cikarang), hari libur merupakan hari yang menjenuhkan, apalagi disini belum ada temen, belum tau kemana - mana, dan kendaraanpun belum ada.

Rencana awal mau pulang kampung, tapi setelah dihitung - hitung, keuangan tidak mencukupi, apalagi kalau harus nengok sanak familly, tentu harus banyak bawa oleh - oleh.

Rencana kedua pengin naik gunung, namun karena nggak ada barenganya akhirnya pupus juga.

Rencana ketiga, setelah mengikhlaskan kedua rencana tersebut aku mengabari temenku yang tinggal di Tangerang, kalau aku mau numpang nginep selama 4 hari,

Rencana nginep di Tangerang sebenarnya pengin aku bumbui dengan main ke Pemandian Air Panas Ciseeng, karena dulu sudah sempat mau kesana tapi gagal, namun karena temenku sudah pernah kesana, akhirnya rencana ke Pemandian Air Panas Ciseengpun pupus juga.

Kamis pagi, temenku Asep yang mempunyai perawakan kurus, tinggi, cungkring datang juga dari Jakarta ke Tangerang,
Rasanya tidak enak kalau sudah kumpul tapi tidak kemana mana, lidahku kembali reflek ngajakin mereka jalan "ODT Situs Gunung Munara aja yuk..?" karena mereka berdua belum pernah pada kesana, akhirnya mereka langsung setuju dan menunjuk saya sebagai penunjuk arah.

Situs Gunung Munara


Situs Gunung Munara terletak di Desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor

Selain menjadi wisata tracking, Situs Gunung Munara juga menjadi tempat ziarah, karena di dalam Situs Gunung Munara terdapat beberapa petilasan yang antara lain :
  1. Batu Tak Si Kabayan
  2. Batu Menara Adzan
  3. Goa Batu belah
  4. Dan Goa Soekarno, yang konon katanya pernah digunakan oleh Soekarno untuk bersemedi.

Akses menuju kesana kami menggunakan GPS, dengan tujuan Gunung Munara, dari hasil yang terdeteksi di GPS hanya memakan waktu 1,5 Jam dan jalananpun terlihat lancar tanpa ada tanda merah sedikitpun.
Kami terus melaju sepeda motor kami, sampai setelah melewati Stasiun Serpong GPS mengarahkan kami untuk belok kanan, kami terus mengikuti saja karena aku pikir itu jalur terdekat yang google rekomendasikan.

Setelah belok kanan, kami kembali diarahkan untuk belok kiri, melewati jalanan yang cukup rusak, dan sepanjang jalan kami banyak melewati truk-truk pemuat pasir, yang mengakibatkan banyaknya debu jalanan, karena kondisi jalan yang rusak dan kemarau.

Kami masih optimis kalau kita tidak salah jalan,
Memang kami tidak salah jalan, tapi kita melewati arah yang salah, dengan bantuan GPS tadi kami memang sampai dilereng Situs Gunung Munara, yang lokasinya dijadikan untuk pertambangan pasir, (bukan pintu masuk tracking).


Akhirnya kami putar balik dan menanyakan ke penduduk setempat, mengenai pintu masuknya, dan tak jauh dari situ sampailah kami di pintu masuk Situs Gunung Munara, meski harus berkali kali nanya.

Jadi saran saya buat kalian yang mau ke Situs Gunung Munara dari Tangerang Selatan, jangan berpatokan pada GPS dengan nama Gunung Munara, karena GPS akan memberikan jalan yang saya lewati tadi, kalau dibilang nyesel si tidak, tapi jalanan yang kami lewati barusan sangat rusak dan banyak truk pemuat pasir yang menghasilkan debu jalanan yang akan menyerang paru paru kalian hehe

Saran saya, lewat saja Ciseeng - Rumpin, atau dari Stasiun Serpong, lurus teruus saja sampai menemukan perempatan dengan petujuk arah ke Rumpin.

Sampai dilokasi kami langsung disambut sama mas mas tukang parkir dan penjaga pos masuk, kami bertiga dikenakan biaya masuk sebesar 5000/Orang dan parkir 5000/Motor
Mengingat waktu yang sudah semakin sore kami langsung berjalan menuju ke atas, kami menjumpai banyak rombongan, yang membuat kami semakin penasaran dengan indahnya di atas gunung munara.

Sepanjang jalan menapaki Gunung Munara, kami menemukan banyak warung warung, dan dibeberapa titik kami kembali dimintai uang retribusi seikhlasnya untuk kebersihan, dan terakhir sebelum puncak kembali diminta uang masuk juga sebesar 5000/Orang.
Mungkin banyak yang mempunyai wilayah disekitaran Gunung Munara jadi tiket masuk tidak jadi satu dibawah.
Up to youlah, kami sebagai wisatawan memang harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, selagi masih wajar.

Perjalanan menuju puncak sepertinya hanya makan waktu kurang dari satu jam, dan selain menjumpai banyak warung - warung, bebatuan - bebatuan besarpun kami jumpai, pepohonan besar di atas batu dengan akar melambai kebawah menjadi panorama tersendiri,




Puncak Gunung Munara ternyata juga sebuah batu besar, pemandanganya cukup bagus, namun sepertinya tidak tersedia lokasi untuk bermalam disitu.

Di Puncak gunung munara juga terdapat sebuah kolam, yang airnya berasal dari tetesan air hujan, tapi pas kami kesana, meskipun cuaca lagi kemarau, kolam itu masih terdapat banyak air.
Kami tidak tau yang sebenernya tentang kolam itu, karena kami tidak menanyakanya pada warga sekitar.



Melihat banyaknya yang mencari rejeki dengan berjualan disepanjang jalan tracking menuju Gunung Munara, kami tertuju pada sosok ibu-ibu muda yang tak hentinya menawarkan jualanya, kamipun terpanggil hatinya untuk membeli.

"Kopi dua ya bu, kopi hitam sama white coffe"
Terlihat bahagia ibu tersebut melayani kami,
"Kalau rokok sampoerna mild ada nggak bu" Asep salah satu teman kami yang masih kecanduan rokokpun bertanya?
Ada mas,
"Yang isi 12 berapa bu?"
"25.000 mas."

Sontak saya yang masih tau harga rokokpun sedikit tercengang, dan langsung berfikir jangan-jangan ini kopi juga 10.000

Bukan apa apa, cuman sedikit mengingatkan, jual beli juga ada syarat rukunya, yang mebuat laba yang di dapat menjadi halal dimakan, karena dengan mematok harga yang tidak wajar sang pembelipun pasti dalam hati merasa tidak ikhlas, dan niat membeli karena kasianpun akhirnya terkecewakan. Dan menurut saya itu penyebab para wisatawan enggan beli makanan ditempat wisata, karena tidak semua wisatawan mempunyai budget yang banyak.

Menjelang malam, sekitar jam lima sore, para penghuni Situs Gunung Munarapun mulai pada keluar mencari makan.

Sarana infrastruktur menuju Situs Gunung Munara waktu itu sedang dalam pembangunan, agar bisa dilewati kendaraan roda empat sampai ke lereng, tapi yang membuat saya bertanya tanya akses tersebut tidak melewati pintu masuk atau basecamp, tapi mungkin jalan itu jalur khusus buat yang akan ke Situs Gunung Munara dengan tujuan lain, karena memang sebelum ramai dikunjungi para pencari keindahnpun Situs Gunung Munara sudah ramai dikunjungi oleh para pencari ......

Kami pulang dengan melewati jalur Ciseeng, dari rumpin lurus terus sampai pertigaan belok kiri arah Ciseeng, sampai perempataan belok kiri lagi arah Serpong BSD dan ternyata lebih dekaat, dan jalan inilah yang saya maksud, kalau kalian mau ke Situs Gunung Munara dari Tangerang bisa lewat jalur tersebut.


1 komentar

  1. Revisi dari bena.

    Paragraf 1,2,3,4,5 nggak usah. Kalo mau tetep ada dibikin kalimat pendek aja dan dijadikan satu pragraf.

    Kedua, enggak usah ngejelasin rutenya, cukup jabarkan menggunakan gugel maps dan berikan mapsnya utk memudahkan pencarian

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejajak dengan berkomentar
- Jangan lupa Check Notif Me.

Jangan Lupa Share, Follow Tweet dan IG : @mas_adventure

For business inquiries
zainalmutakin.pml@gmail.com