Friday, December 30, 2016

Mt Ciremai : Puncak Bukan Akhir Dari Perjalanan

Setelah sampai di puncak rasa bangga beserta haru langsung merasuk ke dalam jiwa yang lemah akan keindahan tuhan ini, gue bangga akhirnya dengan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan ini sampai juga kita di puncak tertinggi di Jawa Barat... huhuuuuuuyy....

Semua temen temen yang baru sampai berteriak bangga....
Puncaaaakk.....Puncak....Puncak   Woyyy.... ada juga dari pendaki lain yang langsung sujud syukur sambil nagis guling gulingan...

Banyak dari mereka yang langsung memanfatkan momment moment langka tersebut, dengan berfoto foto dan membuat dokumentasi video, 
Ada juga yang sengaja membawa selembar kertas berisikan nama orang yang dia sayanginya... yang lagi menjadi trend para pendaki gunung sekarangggg...

TAPI tidak pada gue... karena gue bukan pendaki gunung maistream kekinian seperti mereka, tapi karena gue jomblo, gue jomblo yang tak henti hentinya di PHPin 

Au ahh.... kadang di puncak bukannya seneng malah tambah baper gini....Pingin sihh nulisin namamu di sini, ahh tapi takut kamu tambah ilfil sama aku... lagian kamu juga belum sayang sama aku.... buat apa, percumaaah... percumah saja... 

Ciremai via linggasana 3078 Mdpl

Hampir satu jaman lebih kami menghabiskan waktu di Puncak tertinggi di jawa barat, seakan rasanya tak ingin pulang, tapi lagi lagi perut mulai keroncongan, jelas saja karena memang kami belum makan apa apa, dan kondisi sekarang,... jangankan makanan airpun kami sudah tak punya, dan dari pada mati sia sia di puncak gara gara kelaparan akhirnya kami memutuskan untuk turun, 
Malu kan kalau nanti ada berita, “Seorang pendaki asal Pemalang ditemukan meninggal di puncak ciremai karena kelaparan” Hellow.... gak kece banget kan, ntar yang ada malah jadi bahan bulian di grup pendaki gunung, 

Ah... pokoknya mau gak mau, gua harus turun...

Kami turun dengan tanpa bekal apapun, kalau kamu bilang turun itu mudah, itu salah, karena turun dari gunung juga harus ekstra hati hati, menahan badan, dengan menggunakan kaki, gak beda jauh sama kendaraan saat turun, harus mempunyai rem yang cakram.

Perjalan turun gunung kali ini sangat menyedihkan, dimana ketika kami mulai kehausan dan tenggorokan kami mulai kering, kami sama sekali tak bisa apa apa, mencoba minta air kepada pendaki lainpun rasanya tak sampai hati, karena kami juga tahu, mereka juga sangat membutuhkanya untuk bertahan sampai besok.

Tidak ada pilihan lain, melainkan gua harus tetap berjalan meskipun pelan, dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, namun karena sangkin hausnya membuat tenggorokan ini sakit, hingga akhirnya di tengah tengah gerimis yang mulai turun, gue mencari cari air di antara dedaunan.. atau menadahkan mulut ke langit... gue merasa sudah tak peduli lagi dengan apapun, gua hanya butuh air...

Air.... air... air...

Meskipun badan udah mulai keluar keringat dingin, tapi gue berharap sekali hujan turun dengan derasnya, namun lagi lagi gue di phpin, ternyata cuman gerimis manja yang turun.

Dan lagi lagi gue merasa kalau gue sudah tidak sanggup lagi berjalan, tapi gue juga sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya tenggorokan, disini gue menemukan filosofi.

Dan Alhamdulillah setelah berjalan sangat lama sekali, sampailah kami di pos Ki Bima, tempat kami mendirikan tenda, cukup lama kami beristirahat, sambil menunggu temen temen yang lain datang, dan rasanya seperti ingin tidur satu malam lagi saja di sini, namun apa mau di kata, besok pagi kita sudah harus kembali bekerja.


Dengan kaki yang masih gemeteran, sedikit demi sedikit kami mulai packing untuk persiapan turun kembali ke Basecamp Linggasana, waktu sudah semakin sore, kami sangat berharap tidak kemalaman di jalan, namun jarak yang harus kami tempuh adalah sekitar 1.900 Mdpl Lagi, adalah jarak yang tidak dekat.

Setelah mengisi energi dan selesai packing, kami langsung melanjutkan perjalanan untuk turun, sekitar pukul 15:30 meskipun rasanya masih capeeeeekkk bangeeeet.... namun perjalanan harus tetap di lanjutkan, kali ini kita harus berkejaran dengan waktu lagi, selain takut kemalaman di jalan kami juga takut tidak ada transportasi lagi untuk ke Jakarta, 

Belum sampai setengah perjalanan hujan turun dengan sangat deras, namun berhenti bukanlah pilihan, kami harus terus berjalan hingga sampai malam tiba mengahampiri kami yang masih berada di jalan.

Rasa takut sedikit menghampiri saya, ketika melihat kunang kunang yang bertebangan di tengah gelapnya hutan..
Namun rasa takut itu berubah menjadi rasa geli yang tidak karuan, ketika jalanan yang di penuhi dengan cacing cacing tanah yang keluar dari tempatnya.

Rasanya kaki ini tak bisa berjalan, tapi untungnya kegelapan membuatku masa bodoh dengan apa yang gue injak, tapi demi Tuhan, untung kita pulang dalam keadaan malam, sehingga gua tidak bisa melihat itu semua dengan jelas..

Gemerlap lampu kota mulai terlihat, menandakan sebentar lagi kami akan sampai, namun ternyata tidak, karena itu petanda kami masih di ketinggian.

Puncak Bukan akhir dari perjalanan, maka dari itu jangan sombong ketika sudah sampai di puncak.
Kami sampai di Basecamp sekitar pukul 20 :00 WIB, dengan keadaan yang tidak karuan, seperti hati ini, #galaulagi

Istirahat, ganti pakaian, ada juga yang mandi, makan lagi dan ngopi, dan sekitar pukul 21 : 00 WIB Kita minta tolong sama pak yatna untuk di carikan mobil buat mengantar kami ke jalan raya, namun kali ini kita sedikit sial, harusnya kami menanyakan harga pas ada pak yatna seperti saat kita berangkat, tapi karena kami lupa akhirnya kami di tembak deh itu sama bapak bapak supir yang nganterin, tapi gak terlalu mahal sih cuman 20.000 doang... hehehe
Oke itulah cerita perjalanan kami, semoga bermanfaat buat kamu yang mau melakukan pendakian, supaya bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Tuesday, December 27, 2016

Tips Cepat Ketemu Driver Ojek Online

Pagi.....
Hari ini saya mau berbagi tips ngojek online buat kalian para ojekers atau buat kalian yang baru mau pertama ngojek online.
Perlu kalian ketahuai bahwasanya driver ojek online adalah biasanya bukan asli domisili setempat, alias driver dari daerah lain yang habis nganterin penumpang dan kemudian singgahlah dan mencari penumpang lain di tempat tersebut,

Jadi ketika kamu pesen ojek online dan kebetulan di aprove sama driver ojek online tersebut, dengan jelas si driver kurang tau lokasi kamu dengan jelas.


Cerita ini berawal ketika saya sedang duduk manis di sebuah lokasi (pasar minggu) sambil menikmati segelas susu putih, dan tepat di depan saya terlihat seorang wanita perpakaian rapi yang sepertinya mau berangkat kerja, di sekelilingnya banyak juga ojek pengkolan yang menawarkan jasanya, namun si perempuan itu tidak mau, dan terus melihat ke arah layar hanphonnya.

Dalam hati saya udah tau, kalau itu perempuan sedang menunggu ojek online yang dia pesan, dari gelagatnya dia seperti sedang gelisah karena ojek yang dia pesan tak kunjung datang, dan juga beberapa kali dia menelfon si driver karena si driver tak kunjung menemukan lokasi dia.

Dalam hati saya hanya berkata, makanya mba kalau pesen ojek online itu kalau bisa mba di posisi yang strategis, atau posisi yang jelas, ada tadanya, jadi si driver tidak bingung, dan mba juga gak menunggu terlalu lama,

Tips Ngojek Online

Seperti yang saya bilang di awal, kalau driver ojek online itu tidak semua berasal dari wilayah dimana kamu memesan ojek, so jadi pintar pintarnya kamu agar cepat dalam memesan ojek online. Jadi tipsnya adalah :

1. Pastikan lokasi kamu jelas, baik dalam google map maupun dalam lokasi real, karena biasanya ketika driver tidak tahu lokasi dimana kamu, driver akan menggunakn maps untuk menuju lokasi penjemputan yang kamu pesan.
2. Berusahalah saling mencari
Dari beberapa curhatan driver kadang masih banyak sekali customer yang seenaknya sendiri, seperti kadang tidak mau menunggu di depan, alias di dalam rumah, asal komentar yang tidak enak, dan masih banyak lagi, yang kadang saya sendiri merasa kasian.

Karena mereka juga sedang mencari nafkah, sama seperti kita, jadi alangkah baiknya mungkin jika kita sebagai customers juga bisa saling menghargai...
Dan bukankah kita sudah di mudahkan dengan adanya transportasi ojek online, yang mau mencari keberadaan kamu.

Meskipun tips ini gak jelas, tapi semoga ada manfaatnya, #SalamNgojek

Tuesday, December 20, 2016

Ciremai Via Linggasana : Expedisi Setengah Galau (Jalur Baru )

“Bahkan saat lelahpun kau masih ada dalam ingatanku”

Ciremai adalah salah satu diantara tiga gunung yang berhasil menjadi rencana pendakian kami, kami yang kangen akan ketinggian, dan kami yang rindu akan teman teman yang sekarang terpisah oleh jarak dan waktu, kami akhirnya merencanakan sesuatu untuk bertemu dalam pendakian, namun di lain pihak rinduku juga masih tertahan ketika kamu tidak ada saat menjelang kepergianku.

Ingin sekali rasanya bertemu denganmu sebelum aku pergi??
Ingin sekali rasanya kau tak merelakanku pergi, dan aku bilang.

“Aku pasti akan kembali untukmu” sambil mencium tanganmu, atau mencium keningmu.

Tapi itu hanya mimpi di siang bolongku, siapa aku di matamu, masih di anggap sebagai teman saja harusnya gua sudah bersyukur.

Ya... aku tahu itu, kamu memang tidak peduli dengan perasaanku, kamu memang tidak mau tahu dengan perasaanku, tapi aku sangat berharap sekali pengertianmu, untuk bertemu denganmu saat ini, meskipun bulshit saja ketika kamu memberi pengertian kepadaku, yang ada aku hanya tambah baper...

Saat terakhir aku mengabarimu, kau masih bilang akan mengusahakanya, dan saat menjelang aku pergi, kita sudah tak mungkin bisa berjumpa lagi, karena aku bukan prioritasmu yang kau bela belakan untuk menemuiku saat lelahmu...

Aku tahu itu, aku juga tahu ini bukan urusanmu lagi... aku hanya berharap sedikit pengertianmu untuk menghargai hati yang masih mencintai... Taik memang mempunyai perasaan seperti ini.


Ciremai Via linggasana

Ciremai menjadi pilihan kami, karena memang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, yang terletak di  Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka dengan ketinggian 3078Mdpl dan dengan akses yang mudah buat kami tempuh dengan jarak yang sama sama jauh.
Aku membiarkanmu berlalu ketika aku sudah tidak mungkin lagi bertemu denganmu, meski rasa rindu ini tak bisa di bohongi lagi.

Hujan turun dengan derasnya, membuatku basah namun membuatku lega, ketika kucuran air dari langit membasahi tubuh yang lelah olehmu. yang membuatku sakit menjelang pendakian.
Namun rencana matang yang sudah di rencana berbulan bulan sia sia rasanya kalau aku tidak jadi ikut gara gara sakit, mulai dari minum madu, dan obat obatan lainya masih membuatku tak berdaya, hingga waktunya tiba aku masih tepar dalam kamar kos yang berantakan.

Dengan raga yang masih lemas, kupaksakan berangkat menuju Jakarta Selatan untuk bertemu teman teman yang lain.


Transportasi Jakarta – Ciremai
Kami menuju mt ciremai kuningan lewat Terminal kampung rambutan dengan menggunakan bus luragung (Rps. 80.000/ Orang) dan berhenti di pertigaan atau bunderan linggarjati, kami sampai sekitar jam 04: 30 WIB, karena waktu masih subuh dan tidak ada kendaraan akhirnya kami telfon pak yatno ( Penjaga Basecam Linggasana ) untuk di jemput.

Jadi kalau mau naik lewat linggasana itu ada mobil jemputan dari linggasana menuju basecamp kalau misalkan tidak ada ojek atau angkot, kalian tinggal telfon saja pak yatna, orangnya baiiikkk bangeet.. ( 10.000/Orang *Nego )

Sampai di basecamp kami langsung di suguhi teh anget manis, dalam hati, ini sungguh jamuan yang istimewa sekali, bagaimana tidak istimewa, kami yang datang dari jauh dengan membawa sejuta lelah langsung di sambut dengan ramah dan baik.

Setelah menikmati hangatnya teh dalam dinginnya udara pegunungan kami langsung melakukan registrasi, dengan biaya 50.000/ Orang beserta foto kopi KTP, jadi dengan HTM 50.000 ini ternyata kita dapat suguhan teh anget, sertifikat dan makan satu kali, untuk makanya bisa di ambil langsung atau pas pulangnya, karena kami butuh tenaga untuk persiapan naik, akhirnya makanan kami ambil waktu itu juga untuk bekal perjalanan, 

Sekitar jam 07:00 kami langsung mau memulai pendakian, namun apa yang terjadi, ketika satu carrier logistik kami tidak ada yang membuat kami semua panik dan bingung, dimana keberadaan carrier logistik yang super duper penting tersebut.

Namun untungnya sebelum kami turun dari bus kami sempet tukeran nomer hape dengan supir kondektur bus, karena mereka berharap kami pulang dengan menggunakan bus tersebut, sehingga akhirnya kami mencoba menghubungi kondektur bus yang kami tumpangi, dan ternyata tas nyata tasnya tertinggal di buuuus teman teman... omaigooot..... mungkin kami terlalu lelah menghadapi kenyataan sampai sampai lupa.

Keberadaan bus tersebut sudah jauh, berada di daerah (Lupa) dengan jarak tempuh sekitar satu jam, tanpa mikir terlalu panjang akhirnya saya dan imam langsung wus mencari keberadaan bus tersebut, dengan mengandalkan GPS, namun ternyata ada dua daerah dalam satu nama, yang mengakibatkan kami kesasar.. 

Udara pagi yang dingin mulai berasa di perut.. .. sial lupa tidak pakai jaket.

Setelah balik arah dan coba tanya sana tanya sini akhirnya kami menemukan juga busnya, dan Alhamdulillah akhirnya ketemu juga tasnya.
Perjalanan mengambil tas yang harusnya satu jam kini molor menjadi dua jam, pendakian terlambaaat..

***
Pukul 09:00 kami baru mulai melakukan perjalanan menuju post I, namun ternyata ke empat dari kami sudah memulai duluan, sedikit sedih si karena akhirnya kita tidak bisa jalan bareng sesuai dengan apa yang kami harapkan, bisa bercanda bersama dalam perjalanan mendaki gunung.


Basecamp ke Pos I (Kikuwu)
Perjalanan menuju post I sekitar satu jaman, melewati perkebunan warga dengan track yang masih landai, namun ya tetep aja capek dan banyak istirahatnya.
Setelah sampai di post I hujan mulai turun dan sesegera mungkin kami langsung mengenakan jas hujan yang kami bawa.

Pos I ke Pos II (Wirabuana 1.300Mdpl)

POS II Mt Ciremai

Perjalanan dari post satu menuju post dua kami lalui dengan berhujan hujanan, hingga akhirnya kami menemukan sebuah pertigaan yang menunjukan antara jalur lama dan jalur baru, dan kami menemukan sebuah pesan dari teman kami yang berangkat duluan kalau mereka lewat jalur baru.

Jadi ternyata kenapa dibuat jalur baru karena di jalur lama hanya terdapat satu mata air yaitu di post II dan setelah itu sudah tidak ada lagi, sedangkan kalau melalui jalur baru terdapat sumber mata air lagi di post ki bima ( 1800mdpl).

Kami akhirnya lewat melalui jalur baru, dan tak lama dari pertigaan sampailah kami di Pos II, nah di post II ini terdapat sebuah sumber mata air yang mudah sekali di jangkau, yang mengalir dalam sebuah pipa yang telah di buat oleh pengurus basecamp Linggasana

Pos II ke Pos III (Ki Bima)
Perjalanan dari pos II menuju pos III mulai najak dan boleh di katakan muter muter kalau saya bilang, kami mulai sangat kelelahan dan perut sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, meskipun kami memaksakan untuk jalan namun rasa lapar tidak bisa di tahan lagi, karena takut badan menjadi gemeteran karena habis kehujanan di tambah aku yang baru sembuh, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dan makan.

Hujan kembali turun sehingga terpaksa kami harus memasang flyseet untuk tempat kami berteduh sementara sambil memasak mie rebus, kami memasak mie rebus dengan ala kadarnya karena barang barang kami memang terpisah dengan yang berangkat duluan, cuman untungnya kompor sama panci masih ada sama kita, sehingga kami bisa memasak mie rebus... hehe namun piring dan lainya tidak ada sama kami, sehingga terpaksa kami memakanya dalam bungkusnya dan membuat sumpit dari ranting ranting.

Setelah berjalan cukup lama tanpa berhenti karena sudah makan akhirnya sampailah kami di pos III (Ki Bima ) dan beretemu dengan teman teman yang lain. 

Pos Ki Bima 1900Mdpl

Ternyata mereka sudah mendirikan tenda di pos III sedangkan waktu masih sekitar jam 4, namun karena hujan dan udara yang semakin dingin akhirnya kamipun beristirahat dan menikmati secangkir kopi yang mereka suguhkan.

Sebenernya kami masih ingin melanjutkan perjalanan untuk menuju post terakhir karena perjalanan kita masih baru di ketinggian 1.800 Mdpl yang artinya masih 1178 Mdpl lagi, namun ternyata hujan memaksa kami untuk berhenti dan bermalam di pos Ki Bima (1800Mdpl)

Baru kusadari ternyata ini malam minggu, ingatanku langsung tertuju lagi padamu yang sekarang mungkin sudah berada di rumah, aku kembali menggalau mengingatmu... Ah.. harusnya rasa tentangmu sudah tidak ada lagi di sini.

Hari ke II 
Sekitar pukul 03:00 WIB kami kembali memulai perjalanan, menuju puncak, berdasarkan peta, kami harus melewati 6 post lagi ( Lihat Peta) kami memperkirakan perjalanan menuju puncak hanya memakan waktu sekitar 2 jam, karena berdasarkan pengalaman kami saat saat naik gunung batu jonggol dengan ketinggian sekitar 1000Mdpl hanya memakan waktu 1 jaman, namun ternyata persamaan kami salah besar karena track yang begitu sulit akan memperlambat jalan kami.
Baca : Pesona Gunung Batu Jonggol Bogor Jawa Barat (One Day One Hiking)

Dari post KiBima kami terus berjalan berkejaran dengan pagi, 
“Sunrise oh sunrise...”
Berjalan berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya kami menemukan sebuah pertigaan lagi, yaitu pertigaan pertemuan antara jalur linggasana lama, jalur linggarjati dan linggasana baru, hingga sampailah kami di Pos Sanggabuana.....

“Satu Bang”

Cletuk salah satu pendaki lain yang sedang beristirahat di pos Sanggabuana I.

Apaaahh Sanggabuana I, Oh my God... hari sudah semakin pagi dan perjalanan baru sampai di Pos Sanggabuana I, yang artinya masih ada dua post lagi yang harus kami lewati, 

“Perasaan kita sudah berjalan lama banget” *Nyinyir

Pos Sanggabuana I  ( 2. 545 Mdpl ) ke Sanggabuana II ( 2.665Mdpl)
Di Post sanggabuana I terdapat dataran yang luas, sehingga sangat cocok buat ngecamp, dan perjalan menuju puncakpun hanya memakan waktu sekitar 30Menitan.

Track Menuju Sanggabuana II

Perjalanan dari post sanggabuana I menuju sanggabuana II semakin terjal, dengan tanjakan berbatu yang kemiringanya mencapai 70 s/d 80 Derajat, menurut temen temen yang sudah pernah ke ciremai katanya jalur Bapa Terelah yang katanyatanjakanya sangat kejam, namun karena kami tidak melewati jalur bapa tere jadi medan sanggabuana I lah yang menurut saya kejam.

Dalam perjalanan menuju sanggabuana II perut sudah mulai keroncongan pake banget, dan bekal airpun sudah tak tersisa sedikitpun, membuat tenggorokan kami kering sampai tak bisa bicara.

Rasanya ingin teriak "Aku sudah tak mampu lagi........" tapi sepertinya percuma saja aku mengeluhkan semua beban ini, karena mau tidak mau aku harus menjalaninya sendiri, seperti rasa sakit hatiku dicuekin kamu, yang membuat aku ingin pergi saja darimu, namun rasa ingin memiliku lebih besar dari pada sakitku, sehingga aku harus menahanya setiap kali aku mengingatmu...

Pos Sanggabuana ( 2.665Mdpl) II ke Pos Pengasinan ( 2.800Mdpl)
Dari post sanggabuana II menuju pos pengasinan pemandangan indah sudah mulai terlihat, sehingga meskipun medan yang semakin nanjak, keindahan sekitar sangat memacu semangat kami untuk segera sampai di puncak.

Track Sanggabuana II menuju Pengasinan

Perjalanan menuju pos pengasinan sekitar 30 Menitan, kalau kata blog tetangga sih mitosnya kalau ngecamp di post pengasinan harus bawa ikan asin, biar tidak tersesat katanya, 

Pos Pengasinan 2.800Mdpl – Puncak (3078Mdpl)
Pos pengasinan adalah pos terakhir, sangat cocok untuk camp, karena sudah sangat sekali mendekati puncak, namun di pos pengasinan ini terdapat banyak sekali sampah... hehehe
Perjalanan dari pos pengasinan menuju puncak adalah dimana perjalanan panjangmu akan berakhir, lelah yang kau rasakanpun semakin hilang terhipnotis oleh keindahan alam dan padang edelweis yang super duper indah.
Pemandangan menuju puncak ciremai

Edelwais Mt Ciremai

Edelwais mt ciremai

Dan setelah perjalanan panjang yang aduhai nikmatnya itu, kini terbayarlah sudah dengan indahnya ciptaan Tuhan Puncak tertinggi  di Jawa Barat 3078 Mt Ciremaaaaaaaaiiiii.....

Ciremai 3078mdpl



Urutan pertama dari delapan anak yang pertama sampai puncak adalah saya kalau tidak salah, kemudian di susul dengan makmun dan asep, dan sisanya masih tertinggal jauh di belakang.

Kami sempet khawatir karena mereka jauh dari pandangan kami, kami takut mereka tak kuat menghadapi kenyataan, namun setelah sekitar setengah jaman akhirnya mereka sampai juga.... Huuuuuuu...

Kalau Kalian nggak puas dengan cerita ini, bisa lihat videonya langsung di bawah ini :

Masis in MT Ciremai

Imam in Mt Ciremai

maszal in mt Ciremai

mt Ciremai 3078mdpl



Rincian Biaya :
- Gunung Ciremai adalah Gunung tertinggi di Jawa Barat, dengan ketinggian 3078Mdpl
- Jakarta - Kuningan (Rp. 80.000/Orang) 
- Pertigaan Kuningan Basecamp (10.000/Orang s/d 20.000)
- SIMAKSI (Rp. 50.000/ Orang In teh manis, Makan 1X dan Sertifikat)

Pesan :
Sebelum naik gunung harap mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, mulai dari logistik dan jadual dan Ngecamplah di post yang sudah mendekati puncak.

Berambung ke : MT Ciremai : Puncak Bukan Akhir Dari Perjalanan dan Derita

Monday, December 19, 2016

Anak Baru di Grup Blogger Backpacker Jakarta

Waktu yang sudah lama gua tunggu tunggu akhirnya datang juga, dimana salah satu persyaratan mutlak untuk gabung di grup Bloggernya Backpaker Jakarta adalah harus ikut kopdar atau ikut acaranya Grup Blogger Backpacker Jakarta.

Gua setuju banget dengan persyaratan tersebut, karena dengan begitu kita bisa tahu secara nyata satu sama lain, dan sekaligus menunjukan keseriusan kita untuk mengikuti forum tersebut, karena sekarang sudah banyak sekali grup grup blogger di media sosial yang menurut gua ecek ecek.


Acara workshop kumpul blogger yang bertema : “Oprek Blog Dasar” akan di laksanakan pada hari minggu, 18 Desember 2016, Pukul 11 : 00 s/d 15:00 WIB. Di Perpustakan Daerah Gandaria Jakarta Selatan, atau tepatnya di Jalan Gandaria Tengah No V RT 02/01 Kramat Pela, kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Sebelah Kelurahan Keramat Pela) 

Sebenernya gua sudah ada janji sama atasan gua mau ketemuan soal kerjaan, namun gua juga berat jika harus melewatkan acara super penting buat gua yang udah gua nanti nantikan sudah lama itu. 
And dengan sangat terpaksa gua akhirnya ngebatalin janji gua sama atasan gue hehehe Bodo Amat Dah.... :D

***
Minggu 18 Desember 2016 akhirnya gua bisa meluncur bebas ke Perpusda Gandaria Jakarta Selatan, meskipun dengan terburu buru karena gua bangunnya kesiangan, gara gara lembur pengin buru buru nyelesaian tulisan “Ciremai Via Linggasana : Expedisi Setengah Galau” yang nyatanya gak kelar juga, eh tapi di tungguin aja ya ceritanya karena di jamin bikin baper :D 

Sebelumnya gua belum pernah ke Perpusda Gandaria dan Alternatif perjalanan gua buat menuju ke lokasi adalah dengan menggunakan jasa ojek online, karena selain murah juga tidak memakan waktu terlalu lama.

Tapi buat kalian yang mau pakai jasa transportasi lain juga bisa, kalau kalian mau naik angkot kalian bisa naik angkot jurusan Blok M yang kemudian di lanjut dengan naik lagi angkot 72 menuju lokasi, atau kalau kalian ragu kalaian bisa tanyain dulu supir angkotnya sebelum  naik :D begitu juga kalau naik bus way kalian bisa berhenti di kooridor blok M.

Sedangkan kalau mau naik kreta, kalian bisa berhenti di stasiun terdekat, yaitu stasiun kebayoran baru, kemudian kalian bisa lanjut lagi dengan angkot atau ojek.

Setelah bergelut dengan macetnya kota Jakarta akhirnya sampailah di Perpusda Gandaria Jakarta Selatan, gua yang baru pertama ikut kopdar mencoba tetep stay cool aja  biar tidak seperti orang yang gak punya temen hahahaha

Kesan pertama saat memasuki ruangan Perpusda Gandaria, suasananya adem, hening, pokoknya cocok bangetlah buat kalian yang mau konsen baca baca, cuman sayangnya jauh dari kosan gue...
Selain itu di depan perpusda gandaria juga terdapat sebuah taman, menambah suasana lingkungan disekitar perpusda adem, pokoknya nyaman deh..

Ikut acara workshop Blogger BPJ banyak banget ilmu yang gua dapet tentang perbloggeran, yang antara lain :
1. Menambah teman sesama blogger yang nantinya bisa saling tuker alamat blog.
2. Menumbuhkan kembali semangat untuk menulis
3. Quote keceh “ Membaca, Menulis dan Menginspirasi”
4. Dan hal hal penting lainya . . .
Gua Dapet Hadiah Buku Alhamdulillah ya :D  



Nb : Buat kalian yang mau jadi anggota perpusda bisa siapkan foto copy KTP dan foto 3X4  Gratis dan langsung jadi, namun perpusda Gandaria ini hanya melayani untuk daerah Jabodetabek saja, so buat kalian yang dari luar Jakarta tidak bisa. (Harus pakai domisili)

Okelah sekian basa basi dari gue, and buat temen temen blogger yang kemaren udah pada dateng, salam kenal dari gue, semoga kita bisa saling membantu.

Sumur Gambar : WA Group Blogger dan Buku Backpacker Jakarta

Thursday, November 24, 2016

Widara Payung, Kenangan Yang Tercecer

Sebelumnya gua mau say hello dulu buat temen yang terlibat dalam memory ini hehehe... Buat, Angga, dan buat Yayuk yang sekarang udah nikah sama Angga #Cieee, Irfangi yang sekarang jadi juragan, Yuli yang sekarang sudah mendapatkan cinta sejatinya, Ipud yang sekarang sudah kurus, Nurmalita , Junet yang gak tau sekarang dimana, Anggun yang sekarang jadi Bu Guru, dan Sony yang sekarang jauh lebih baik dari saat jadi Mahasiswa, buat khamim yang pernah stres dan sekarang sudah mendingan dan kabarnya udah nikah, pokonya buat semua anak Ekonomi Islam angkatan 2008 tanpa terkecuali, #BerasaPenyiarRadio 

Buat kalian semua semoga baik baik saja, dan semoga yang belum dapet jodoh kaya gua cepet di beri Jodoh sama Tuhan...Amien  #nangis
Pantai Widara Payung Binangun
Pic By. Mamas Irfangi

Gak tau kenapa tiba tiba gue pengin nulis cerita ini, tapi mungkin karena gue belum bisa move on dari masa lalu bersama kalian yang sampai sekarang masih berasa indah, yang sampai sekarang masih terbawa perasaan ketika melihat foto foto bersama kalian, padahal kehidupan sekarang jauh lebih baik tanpa kalian... #Lah

Widara Payung adalah sebagaian memory yang tercecer bersama kalian, dan Widara Payung adalah sebagaian memory yang akan gua selamatkan, setelah memori dari Gua Jepang dan Telaga Renjeng

Gua gak tau mau mulai dari mana menceritakan ini semua, tapi seinget saya, dulu kita adalah mahasiswa yang selalu banyak tugas, dan sangkin banyak tugasnya kami seperti merasa bosan dan lelah dengan semua yang ada. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk jalan jalan ke Pantai Widara Payung  Cilacap.

Pantai Widara Payung Terletak di Desa Widara Payung, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap sekitar 35 KM Ke arah Timur dari Kota Cilacap.

Perjalanan ke Pantai Widara Payung kami tempuh dari kampus tercinta STAIN Purwokerto yang sekarang sudah Menjadi IAIN Purwokerto, pas gue lulus,  sedikit nyesek sihh karena jadi IAINnya pas gue udah lulus, tapi biarlah... apalah arti sebuah nama kalau toh nyatanya IQ kita tidak sebanding. Iya nggak....

Seperti Mahasiswa labil pada masanya, kita semua berangkat dengan mengendarai motor dan berboncengan cowok dan cewek, biar di kira pacaran gituu... eh tapi kayaknya udah ada yang pacaran juga ding waktu itu... gue gak tau dulu mboncengin siapa...????

Perjalanan ke Pantai Widara Payung hanya memakan waktu sekitar satu jam, dengan tiket masuk sekitar 5.000/ Orang kalau tidak salah, tapi berhubung salah satu dari kami ada yang orang situ, akhirnya kami masuk kawasan Wisata Pantai Widara Payung melalui pintu belakang. Hehehe #BiarGakBayar

Pantai Widara Payung merupakan pantai yang landai, yang di pagari oleh pepohonan kelapa yang rindang, yang membuat suasana pantai menjadi pantaaaaaaaai bangeett...

Selain itu di pantai widara payung juga terdapat banyak Gazebo Gazebo kecil, yang di jadikan tempat untuk berteduh saat menikmati pantai, namun untuk menikmati gazebo tersebut kalian harus bayar sekitar 5.000.

Makanan khas saat main ke Pantai Widara payung adalah mendoan yang super besar, tidak tahu kenapa mendoan menjadi makanan super enak ketika berada di pantai, apalagi kalau di makan setelah puas berlarian di pantai...


Pantai Widara Payung juga dilengkapi dengan kolam renang, so gak sempurna sepertinya kalau habis mainan pasir di pantai cuman di bilas dengan seadanya... hehehe.. untuk menikmati kolam renang tersebut kalian harus membayar 6.000/Orang, murah bukaaan...?? pokoknya tidak perlu kawatir dengan biaya kalau ingin menikmati wisata di daerah Jawa, Jawa tengah Khususnya.

Nb : Ada yang masih nyimpen foto fotonya nggak...???

Tuesday, November 22, 2016

Puas Berlibur di Best Western Kuta Beach Bali

Kalian mau Liburan ke Bali...?? atau masih baru rencana, atau masih menjadi mimpi..??? yes Bali memang menjadi wisata impian bagi kebanyakan orang, yang tidak hanya orang Indonesia saja, melainkan dari luar Negri juga.

So kalau kalian memang punya rencana buat liburan ke bali tidak ada salahnya kalau kalian baca baca tulisan singkat di bawah ini sebagai referensi perjalanan kamu nanti.

Kepuasan berlibur hanya bisa didapatkan jika dana liburan yang sudah kita siapkan itu dapat memenuhi semua kebutuhan saat berlibur. Berhasil mendapatkan tempat menginap yang murah tapi dekat dengan fasilitas liburan, seperti pantai, tempat belanja, tempat pijat atau Spa, museum, galeri, dan tempat-tempat wisata lainnya tentu sangat memuaskan. 

Kalau ke Bali, kita pasti berpikir akan membutuhkan dana yang besar. Padahal sebenarnya tidak juga lho asal bisa menemukan tempat menginap yang tepat. Contohnya, hotel Best Western Kuta Beach yang berada di pinggir Pantai Kuta ini akan memberikan kepuasan berlibur. Anda bisa cari hotel menggunakan Traveloka dan dapatkan harga terbaiknya. 

Hotel ini berlokasi di Jalan Benesari, Pantai Kuta, hanya dua puluh menit dari Bandara Ngurah Rai. Dari penampakan luarnya saja kita sudah disuguhi bangunan warna-warni: merah, kuning, ungu, biru. Dindingnya memiliki lukisan seperti batik. Bagian dalamnya pun tak kalah semarak oleh warna-warna cerah dan chic yang cocok untuk jiwa muda Anda. 
Hotel Best Western
Sumber foto: saraswatigriyalestari.com
Bangku-bangkunya berwarna merah, kuning, dan hijau. Hotel ini juga dekat dengan tempat-tempat hiburan malam yang memanjakan para wisatawan mancanegara, juga tempat-tempat belanja seperti Kuta Square dan Ketut Art Shop. Di sekitarnya, Anda bisa mendapati tempat-tempat pemijatan dan Spa bila lelah berjalan-jalan. 

Anda yang tertarik mendalami surfing dan ingin menjadi peselancar, disediakan juga sekolah-sekolah surfing yang bisa dipilih. Pantai Kuta sebagai surganya peselancar, jaraknya hanya sepelemparan batu saja dari hotel ini. Kalaupun sedang malas ke mana-mana, Anda bisa berenang di kolam renang yang sudah disediakan. 
Kolam Renang Fasilitas Hotel Best Western
Sumber foto: bwkutabeach.com
Kolam renang hotel ini terletak di atap (rooftop). Dari atas kolam renang ini pun, Anda bisa memandang ke arah Pantai Kuta. Cukup berjemur di tepi kolam renang dan Anda sudah mendapatkan pemandangan sunrise (matahari terbit) atau sunset (matahari terbenam). Cahaya matahari yang menimpa permukaan kolam, membiaskan warna-warna cerah yang indah ditangkap oleh lensa kamera Anda. 

Malam hari atau kapan pun Anda mau, Anda bisa berbaring di atas ranjang kamar hotel yang didesain dengan chic dan perpaduan warna-warna pastel, seperti ungu, vanilla, dan oranye. Harga tarif per kamar pun terjangkau, mulai dari lima ratus ribu rupiah per malam. Anda bisa menikmati tidur nyenyak tanpa gangguan di atas kasur yang empuk. 


Desain interior hotel ini memang sangat intagram material. Pastinya akan cantik foto-foto Anda berlatar sudut-sudut hotel ini, juga bila dipajang di Instagram. Bagi penggemar media sosial dan fotografi, hotel ini adalah tempat eksis yang sangat mendukung. 

Pagi harinya, selain berjalan-jalan ke Pantai Kuta, Anda bisa wisata belanja ke Kuta Square, pusat perbelanjaan modern di Kuta. Anda bisa sekadar cuci mata atau berbelanja. Barang-barang bermerk Internasional dijual di Kuta Square. Anda pun bisa mencicipi menu-menu internasional dari restoran-restoran di sekitarnya. 

Kuta Square
Sumber foto: joanne-kho.com
Anda bisa terus berjalan ke Monumen Ground Zero, yang dibangun untuk mengenang kejadian Bom Bali yang memakan korban ratusan jiwa. Monumen ini terdapat tugu bertuliskan nama-nama korban dan asal negaranya. Juga ada sesajen yang selalu diganti setiap hari sebagai alat doa umat Hindu di Bali. 


Ada juga Museum Kain, di Beachwalk Mall, Kuta. Museum ini dibuat oleh Obin dengan menggunakan media layar sentuh seperti smartphone android.  Ada gambar tiga dimensi kain-kain batik aneka corak yang muncul di layar. Pengunjung pun disajikan sejarah perkainan dari masa ke masa. Ada pula video pembuatan kain, terutama kain batik. 


Bahkan, pengunjung diajak mendesain kain dan gaya memakai kain. Tentu saja terdapat banyak koleksi kain-kain antik milik Obin. Museum ini berbeda dengan museum lainnya karena memakai teknik multimedia yang kreatif dan atraktif. Walaupun hanya melihat kain, pengunjung sangat menikmati parade kain-kain tersebut. 

Dengan adanya museum ini, kita jadi bisa lebih menghargai karya-karya seniman kain lokal, terutama kain batik, ikon Indonesia. Itulah beberapa saran liburan yang memuaskan di Best Western  Kuta Beach Bali yang pastinya akan terkenang terus sepulangnya Anda dari sana. Siapkan segera jadwal liburan Anda ke Bali ya!

Tuesday, November 8, 2016

Pesona Gunung Batu Jonggol Bogor Jawa Barat (One Day One Hiking)

Seakan tidak mau memperdulikan apapun ketika hasrat dalam hati sudah merasuki fikiran dan menjalar hingga ubun-ubun, apalagi soal jalan jalan dan menikmati keindahan alam di negri tercinta Indonesia.

Gunung Batu, Terletak di Desa Sukaharja, Sukamakmur, Kecamatan Jonggol Jawa Barat, ketika kubuka di internet yang awalnya lagi coba coba mencari bukit bukit yang ada di Jawa Barat, setelah kulihat lihat fotonya dan kuperhatikan dengan seksama, dan kulihat juga video videonya, akupun langsung tertarik dengan kecantikanya #Lahh hehehe...

Gunung Batu Jonggol Jawa Barat

Ketinggian Gunung Batu Jonggol hanya 875Mdpl, namun bukan hal utama mengenai ketinggiannya, tapi lebih mengenai rasanya bagaimana ketika bisa meminjakan kaki hingga ke puncaknya.

“Asep” (Temen satu team Pendaki) pun langsung semangat ketika kuperlihatkan foto dan videonya.

“Ayo kita cari waktu, kita kesana bareng”

Baiklah, kitapun berangkat kesana pada 31 Juli 2016, yang sebenernya sudah memakan waktu setengah tahun lebih, terhitung dari pas aku kasih liat foto dan videonya itu #Lah (maklum sibuk)
Kamipun berangkat bertiga, dengan tidak lupa menculik salah satu temen kami yang sok artis, siapa lagi kalau bukan pemilik blog ini, fyuhh males banget saya harus menyebutkan namanya.

***
Persiapan untuk kesana tidak perlu repot repot kaya mau naik gunung, kecuali kalau kalian mau ngecamp di sana, sedangkan kalau untuk One Day One Hiking ma cukup bawa :
-  Sepatu atau Sendal Gunung 
-  Makanan sekaligus minumnya (biar tidak seret)
-  Siapkan GPS kalau tidak tahu jalan
-  Uang secukupnya beserta 
-  Hati yang Ikhlas :P

Rute menuju Gunung Batu Jonggol kami tempuh dari Jakarta Selatan menuju ke Pasar Rebo, belok kanan ke arah Cijantung, lalu belok kiri ke arah Cibubur Junction.
Setelah daerah Cibubur lurus saja mengarah ke Cileungsi – Jonggol Cariu, hingga nanti menjumpai banyak pertigaan, tapi tidak perlu khawatir, karena banyak papan penunjuk penunjuk yang mengarah ke Batu Jonggol.

Suatu keberuntungan di hari ini, dimana perjalanan pagi sehabis sholat subuh #PendakiMuslim  naik motor tanpa ada kendala macet, senang rasanya hati ini, tidak hujan pula, padahal bulan ini lagi musimnya turun hujan, apalagi kami mau ke daerah Bogor yang terkanl dengan curah hujanya, dan kamipun sebelumnya belum pernah ke Bogor.


Rute yang kami tempuh cukup mudah, karena kami selalu melewati jalan raya, namun tetap harus selalu waspada dan berhati hati, karena jalanan aspal yang mengarah ke Cileungsi banyak yang bergelombang dan sesekali ada lubang, dan banyak truk truk besar yang senantiasa memberi kami ruang gerak yang cukup minim, sehingga harus serusaha nyalip dan mendahuluinya.

***
Feelingku sekarang waktu sekitar pukul 07:00 WIB atau bisa jadi sudah setengah delapan pagi, karena sinar matahari sudah terasa menyoroti kami.

“Sepertinya kita harus istirahat dulu Bray...udah kebelet kencing nih..."
“okelah kalau begitu, perut juga belum di isi nih”
Jawab zenal dari belakang.
“Di sebuah perempatan ada warung padang tuh”
“Ok”
Selamat Makaaaannn......

Tepat di perempatan, terdapat juga Indomaret, dan untuk menuju ke Gunung Batu Jonggol kalian tinggal ambil saja ke arah kanan.

Lurus terus saja mengikuti jalan tersebut, sampai menemukan jalan yang menurun dan berkelok kelok, dengan pemandangan perswahan di kanan dan kiri yang indah, seperti sebuah sambutan ramah dari alam, karena pemandangan seperti itu tidak ada di Ibu Kota, di tambah hawa mentari yang mulai hangat, menyapa tubuh ketika keluar dan melewati rimbunan pohon mahoni di sepanjang tepi jalan.
Kami terus melaju motor kami, tak lupa sambil kulihat spion, memastikan bahwa asep tidak jauh tertinggal, karena kelihatnaya asep masih mengantuk gara gara semaleman karaokean pake Aplikasi Smule yang lagi Hits.

“ Huh dasar bocah, bukanya istirahat malah begadang, kek suaranya bagus aja...”

Ketika menuju arah desa Sukamakmur, kami banyak menemukan pertigaan, dan ada di salah satu pertigaan, kami hampir saja salah mengambil jalur, karena papan petunjuknya terlalu tinggi, kebetulan juga kena sorot matahari dari arah sebaliknya, jadi samar samar tulisanya.
Sempat pula kami berhenti menikmati sejenak pemandangan gunung Batu Jonggol dari kejauhan, area ini cukup sejuk, dan letaknya setelah kami melewati jalanan yang lumayan rusak, sekitar 6Kman.
gunung batu sukamakmur

Setelah puas memandang dan sesekali, mengambil gambar dan selfie selfie sejenak, kami lanjutkan lagi perjalanan menuju ke Gunung Jonggol.
Sekitar 20 menit dari lokasi tersebut, sampailah kami di pintu masuk Gunung Batu Jonggol dengan HTM 15.000/ Motor.

Dari parkiran yang terletak tepat di bawah Gunung Batu yang gagah menjulang di depan kami, kami lanjutkan perjalanan mengarah lurus mengikuti jalur, jalan truk yang kondisinya cukup becek dan tak beraspal, hanya batu batu besar buat dasar pembuatan jalan tersebut.

Parkir Gunung Batu Jonggol 15000/Orang

Menuju jalur Pendakian

Dari pintu masuk tadi, kami berjalan cukup jauh, mengitari Gunung Batu, hingga sampai kami menemukan jalur untuk memulai naik ke Gunung Batu Jonggol, namun kami harus membayar lagi yang katanya untuk retribusi kebersihan, 5000/ Orang.

“Nih Sep sekarang lu gak usah lagi penasaran sama Gunung Batu, Silahkan dinikmati....”
(Kata zaenal sambil selfie selfie sok kegantengan..)

Perjalanan menuju puncak gunung batu jonggol hanya memakan waktu kurang dari satu jam, itupun sambil foto ala ala, so buat kamu yang lagi ngindam naik gunung tapi minim waktu, bisa cobain gunung batu ini.

Tracking menuju Puncak

Dua puncak di gunung batu ini tidak lepas dari jepretan kamera kami, karena memang sangat indah, apalagi kalau di ambil dengan menggunakan drone, sayangnya kami hanya menggunakan kamera biasa, tapi bukan kami kayaknya kalau tidak bisa mengambil foto yang kece badai... #sombong #padahalfotonyajelek

Ada sebuah memoriam di puncak Gunung Batu Jonggol, dimana di kisahkan, katanya ada salah satu pengunjung yang dulu pernah jatuh ke bawah dan meninggal di tempat.

Pesona Gunung Batu Jonggol

Puncak Gunung Batu Jonggol

Memoriam Gunung Batu Jonggol

Di puncak ini kami puas puasin menikmati karunia Allah, yang memuat kekaguman di dalam hati.
Gunung Batu Jonggol akan tampak lebih indah di kali pagi dan sore hari, sebelu matahari tinggi an ketika matahari mulai tenggelam.

Kira kira sekitar 2 jam kami menikmati keindahan Alam di Puncak Gunung Batu Jonggol, dan di atas kami bertemu dengan dua pendaki cewe dari Bekasi yang akhirnya gabung dan turun menuju parkiran bersama kami, kami tak sempat menanyakan namanya, tapi sepanjang jalan turun tak luput beberapa pertanyaan pertanyaan basi kami lontarkan sambil modus.
Akhirnya kami sepakat untuk mampir ke sebuah curug yang katanya tidak jauh dari sini, Curug Ciherang namanya.

Perjalanan menuju ke Curug Ciherang ternyata cukup melatih emosi, karena waktu itu banyak orang orang yang hendak berliburan ke sana, dengan menggnakan sepeda motor dan mobilnya, sehingga mengakibatkan kemacetan, karena sesekali persimpangan antara mobil satu dengan mobil yang lainya, juga jalanya yang naik turun, dan tikungan tajam, lebih mengesalkan lagi ketika di tanjakan macet, dan di tambah teriknya matahari  yang benar benar terasa membakar punggung, dan yang paling saya benci dalam kondisi seperti itu ada saja pengendara motor lain yang tidak sabaran dan seakan tidak peduli dengan keselamatan orang lain.

“Sabar Bro”

Ungkap Zenal dari belakang.
Kira kira setengah jam dari Gunung Batu menuju ke Curug Ciherang, dengan HTM 25.000/Motor, Oh My Good, Mahal Binggawwww...

“Sebagus apa sih Curug Ciherang”

Kata pertama yang kami ucapkan, 
Karena banyak sekali orang yang akan berkunjung ke sini, sehingga menimbulkan kepadatan dan parkir juga jadi susah.. #NgeluhTerus

Usai memarkirkan motor, siaplah temenku zenal yang sok artis mengevlog buat dokumentasi hahahaha....

Kami terus berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke Curug Ciherang, namun sebelum sampai ke Curug Ciherang ada sebuah jembatan pohon yang sengaja di buat untuk orang orang yang hobi berfoto buat foto Instagram yang lagi kekinian di media sosial, namun nampaknya kalau mau ke jembatan tersebut harus bayar, dan kami cuman melewatinya saja.
Rumah Pohon Curug Ciherang

Jembatanya cukup menarik, karena ujung dari jembatan ini berada di sebuah pohon besar.
Kami semakin penasaran dengan Curug Ciherang, ketika jalanan mulai penuh sesak para pengunjung, dan tak lama kami berja;an dari Jembatan Pohon tersebut, inilah dia Curug Ciheraaaaaaaang..........

Tanpa pikir panjang, kami langsung aja menceburkan diri menikmati dinginya air Curug Ciherang, namun dinginya aor Curug Ciherang membuat kami tidak kuat berlama lama berendam di air, selain itu waktu juga hampir menunjukan jam 2.
Curug Ciherang

Di area wisata terdapat sebuah mushola yang berdampingan dengan tempat ibadahnya orang China, yang dalam hal ini menandakan keberagaman umat beragama di Indonesia.

Perut mulai lapar, badan terasa capek, tapi kondisi sudah mulai sore, sedangkan perjalanan pulang masih memakan waktu 2 sampai tiga jam.
Antara pulang dan makan dulu, akhirnya kami memilih pulang dan mencari makan di jalanan, namun sudah hampir dua jam kami berkendara, kami belum juga menemukan jalan raya yang mengarah ke Cibubur.

Perutpun makin keroncongan, ingin rasaya istirahat dan makan, tapi sepanjang jalan tak ada satupun rumah makan yang bisa menarik perhatian kami untuk berhenti, di tambah banyak sekali peminta minta sumbangan di sepanjan jalan untuk perayaan Agustusan, Whateverlah tapi yang bikin kesal jaraknya adalah setiap 1Km pasti ada lagi, adalagi dan adalagi, yang akhirnya membuat kemacetan...
Terik panas matahari beserta lainya, terutama perut yang sedang keroncongan cukup menambah penderitaan kami, yang tidak juga menemukan tempat makan yang terlihat menyegarkan, hingga akhirnya kami menahan perut yang keroncongan hingga sampai kembali lagi ke rumah.

Kalau masih belum puas dengan ceritanya, kalian bisa tonton aja videonya di bawah ini.


Note : 
Parkir Gunung Batu Jonggol Rp. 15.000/Orang
Retribusi Kebersihan Rp. 5000/Orang
HTM Curug Ciherang 25.000/Motor
Foto Rumah Pohon 2000/10 Menit

kalau suka dengan cerita dan videonya, jangan lupa di like, comment dan share ya gan.
Created By. Makmun Basri