Friday, January 27, 2017

Mount Papandayan: Travel Tracking For Beginners

Papandayan Mountain situated in Garut, West Java, precisely in the District Cisurupan, the Papandayan Mountain is a strato Mountain with an altitude of 2665MDPL.

Famous crater of the Papandayan Mountain is still active, always remove the smoke from the side of it, in addition to craters, mountains papandayan also famous for dying forests and grasslands edelweis, so they think how to Mount Papandayan ?

Jakarta, May 14, 2015, we started the trip to the Mountain Papndayan Go To Garut, West Java from cilandak  to Kampung Rambutan Terminal around 08:00 pm. (Rp. 5,000 / person) 8:20 pm We arrived at the terminal kampung rambutan, we direct bus ride majors Terminal Guntur Garut, and Bus begin departing At 9:00 pm, Rp. 60,000, (Actually  Rp.52.000  probably because at that time we were unlucky we are in contact with brokers at the rate of 60,000 / person) hiks hiks:


14:00 pm We arrived at the terminal Guntur Garut, West Java, short break and find public transportation to get to the village Cisurupan, we waited almost an hour because of public transportation would pass if the quota is full, While waiting for public transportation departing we buy some snacks to eat there. 15:00 pm Public transportation to the new Cisurupan depart after a full quota of about 15 people, Rp. 20,000 / person.

16:00 pm we reached the village Cisurupan, we break briefly to wash the face which began shabby :D continued with the 'Asr prayer in one mosque and spent cigarette.

Someone who looks like a motorcycle taxi driver approached us who are on a break and without strings attached to invite us to talk talk, a lot of things to be told from mas motorcycle, ranging from the visitors who come to papandayan up the story a story that happened in papandayan, as once happened accident a foreign climbers to the farthest corners of the crater etc.

16:30 pm We continue the journey to Basecamp Papandayan using Ojeks 30,000 / person, or can also use the car Pick Up at a rate 20,000 / person but must wait until there are 13 new people car about to leave, so we decided to use taxis because it was already very late, and because we are a little uneasy also because of earlier talked a lot together mas motorcycle taxi driver ...: D

17:20 pm We arrived at the Gate / Entrance Papandayan and do not forget a motorcycle taxi driver for us to lay our buy entry tickets Rp. 7,500 / Person (Holiday) A few minutes after the entrance Papandayan we arrived at Basecamp Mountain Papandayan, one of the told me to report to the base camp, there are some rules that we must obey that which can not be separated from the cleanliness. Levies cleanliness Rp.4000 / 4 People.

17:30 pm we just hurried up after all the administrative time resolved because it was almost dark.


18:00 pm On the way we rest, prayer and not Forget to Eat a cup of coffee too: D, and we continued our journey to Pondok Saladah (The Camp) Neighborhood At 18:30 hrs) night because we could not enjoy the scenery around just blowing sound crater What we have heard with a very pungent aroma (Do not Forget to Bring Mask)

21:15 pm we arrived at the first post, a memamnggil us to report our trip. 

21:30 pm We arrived at the lodge Saladah, we immediately look for a comfortable place and immediately set up a tent to rest and continue the journey to the summit tomorrow morning.

Day II

6:00 pm The morning greeted with the cool, we are less sleep soundly because cold very cold when it is not raining, we recommend wants to bring papandayan thick sleeping bag :D,

The four of us together draw up a plan of climbing the summit while enjoying a glass of your favorite coffee each, which struck us as an energy source triggers the spirit of climbing, do not forget also with a little breakfast of white rice in barengi stick fries the rest of overnight :D, yes ascent this time we did bring a lot of food hehehe: D, after we filled energy directly tidy up everything and rushed toward the top Papandayan At 8:00 pm.

8:00 pm we begin to set foot with the other climbers climbers, who also recently started up. Along the way we were treated scenery Natural scenery is so beautiful that we had never seen before, quite how beautiful our universe is God's creation, we are so very grateful to be able to enjoy it and we feel proud to stand here in the homeland of Indonesia. We will not Run from the moment wasting with Photo selfies =)) while another scolds greetings to fellow climbers passing.



There is a climber that caught our attention, a climber who seems pretty old, he is a father who was climbing alone, with a daypack small and aided by a tracking pool faithful to follow the spirit of steps to climb, we too sempet chat and chat conversation asked many question to him because the father's mountaineering experience is already quite a lot. Unfortunately we did not have time to ask what's his name, the plan he would to Nepal when it retires. Good luck sir ... wkwkwkwk

12:30 pm we finally reached the top Papandayan, because the thick fog and the shade of the trees we could not enjoy the view of the summit. , , .heuu Heuu :(.


Note: 
Kampung Rambutan terminal - Terminal Guntur Garut: Rp. 52,000 
Terminal Guntur Garut - Cisurupan Rp. 20,000 
Cisurupan - basecamp Rp. Via Ojeks 30,000 and Rp. 20. 000 Via Pick Up 
Admission: Rp. 7,500

More or less as it was about the story of our trip to Mt. Papandayan Garut, West Java, Hope can be useful for reference and we all #Salam #MaszalPemalangAdventure 

Wednesday, January 25, 2017

Based On Book : Jelajah Batavia Tempo Doloe

Based On Book adalah melihat sesuatu berdasarkan buku, kayaknya si artinya kaya gitu kalau gak salah, hehehe pokoknya intinya kita menjelajah berdasarkan yang ada dalam buku gitu deh, dan Kopdar Komunitas Buku dan Blogger Backpacker Jakarta kali ini adalah Jelajah Batavia Tempo Doloe berdasarkan buku yang berjudul “Tempat Tempat Bersejarah di Jakarta dan Sumber Sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II"  Karya Adolf Heuken SJ.

Dalam buku tersebut menceritakan tentang Jakarta Tempo Doloe, meskipun gue gak begitu mudeng banget soal sejarah, apalagi sejarah Jakarta yang notabene gue sendiri bukan orang Jakarta, tapi gue akan sedikit menceritakan bagaimana perjalanan kami kemaren dalam menyusuri Batavia Tempo Doloe.

Oh ya narsum kita kali ini yaitu bang Wahyu dan Bang Yoga yang punya IG @ranselwepe  kalian bisa tanya langsung ke beliau kalau tulisan ini kurang informatif.

Based On Book : jelajah Batavia Lama

Dalam perjalanan Jelajah Batavia ini kami fokuskan pada benteng benteng yang masih tersisa,

Perjalanan awal kami mulai menuju Museum Bank Indonesia dimana di situ juga masih terdapat reruntuhan bukti benteng kota yang sudah ada sekitar 400 tahun lalu, kemudian kami lanjut menuju Toko Merah.



Toko Merah 
Toko Merah terletak di tepi Barat Kali Besar Kota Tua Jakarta, Toko Merah adalah bangunan kembar dengan satu atap dan dua pintu utama yang berukuran tinggi dan besar yang menyatu dengan fanlight, meskipun bangunan ini sudah sangat kuno sekali namun bangunan ini ternyata memgadopsi bangunan moderen, bisa di lihat dari adanya sekat untuk memcegah saat terjadi kebakaran tidak merambat ke toko sebelahnya.



Gedung Toko Merah di bangun sejak tahun 1730 Oleh Gustaf Willem Baron Van Imhoff Gubernur Jendral VOC, 
Gedung Toko Merah juga dilindungi oleh Pemerintah sebagai Cagar Budaya dengan undang undang Nomer 5 tahun 1992 dan surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta no. 475 29 Maret 1993

Namun sayang Gedung Toko Merah sekarang di tutup sejak tahun 2003.
Selengkapnya tentang sejarah dan fungsional toko merah bisa klik sumber di sini, Selanjutnya kami menuju ke Jembatan Intan.

Jembatan Intan
Jembatan Kota Intan terletak di Ujung Utara Jl. Kali Besar Barat dan Kali Besar Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jembatan Kota Intan merupakan jembatan tertua di Indonesia warisan belanda dengan kontruksi besi dan kayu yang merentang di ujung kali besar yang airnya gelap dan keruh.



Jembatan Kota Intan juga di dikenal  dengan nama Jembatan Pasar Ayam.
Jembatan Kota Intan di bangun sejak 1628 oleh Oostindische Compagnieatau VOC, dan sudah memgalami pemugaran beberapa kali. 
Selengkapnya kalian bisa intip sumbernya di sini.


Setelah di ceritakan Banyak oleh nara sumber kita tentang Jembatan Kota Intan dan lain lainya kami kembali melanjutkan perjalan menuju ke Galangan Kapal

Galangan Kapal 
Galangan Kapal Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) didirikan pada 1628 di Batavia. Pada waktu itu, 388 tahun lalu, Galangan kapal VOC adalah bangunan penting yang menyokong jaringan niaga di Hindia Belanda. Kapal-kapal, baik besar maupun kecil, bongkar muat di galangan, mengantarkan barang dagangan. Mulai dari rempah hingga kain yang merupakan komoditi berharga mahal. Selengkapnya klik sumbernya Disini


Galangan Kapal VOC

Galangan Kapan VOC meskipun terlihat beberapa atap yang sudah rapuh dan bangunan yang semakin menua, namun tiang tiang kayu penyangga masih sangat kokoh menjaga gedung galangan kapal tersebut, gue yang penasaran sama dalamnya mencoba memasukinya, kondisi yang sangat gelap sedikit membuat bulu kuduk merinding hihihihi.. di dalamnya kosong tak ada apa apa karena memang sudah tidak di fungsikan lagi. Dan kami kembali melanjutkan perjalan menuju Museum Bahari.

Museum Bahari 
Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Sumber Selengkapnya Disini


Museum Bahari Kota Tua

Museum Bahari menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dan 107 buah miniatur, foto-foto dan biodata laut lainnya. 
Sumber : Klik Disini


Meskipun museum bahari merupakan museum jaman dahulu namun museum bahari juga menyimpan beberapa replika replika ketjeh yang menceritakan tentang sejarah batavia dan legenda lainya, cukup lama kami melihat lihat.





Sekedar informasi buat kalian yang mau ke Musem Bahari berikut harga tiket masuknya :
Perorangan Dewasa  : Rp. 5.000
Rombongan Dewasa Minimal 30 Orang : Rp. 3.750
Mahasiswa Perorangan : Rp. 3.000
Rombongan Mahasiswa Minimal 30 Orang Rp. 2.250
Pelajar Rp. 2.000
Pelajar Rombongan Minimal 30 Orang : Rp. 1.500

Karena waktu sudah menunjukan waktunya Ishoma, Akhirnya kita melakukan Ishoma Di Sekitar Museum Bahari, dan setelah semuanya selesai kami melanjutkan perjalan lagi menuju Kastil Batavia, namun sebelum kesana kami sempatkan dulu duduk duduk santai dan melakukan sesi perkenalan di kawasan Menara Batavia.


Gue paling seneng kalau ada sesi perkenalan, dimana semua peserta harus memperkenalkan diri dan sedikit memberikan pesan kesannya, yang gue suka dari perkenalan ini adalah kita bisa melihat keunikan dan kelucuan dari para peserta yang tak lepas mengundang tawa buat kami semua.

Nah setelah ini baru kami melanjutkan menuju ke kastil batavia, yang katanya di sana masih terdapat satu benteng lagi, denger nama kastil menurut gue serem... hihihi.

Kastil Batavia
Kastil Batavia adalah benteng yang di bangun oleh VOC untuk mengganti benteng yang lama yang digunakan untuk menampung semua aktivitas dan kegiatan dagang VOC.

Kastil Batavia di bangun dengan sangat megah dengan luas sekitar sembilan kali benteng lama dan terdapat empat bangunan bastion yang diberi nama Diamont, Robijin, Sahier dan Parel,


Kastil Batavia

Pada saat kami berkunjung kesana kastil batavia memang sudah tak terawat lagi, dan menjadi bangunan kumuh, karena penasaran dengan isi di dalam Kastil Batavia tersebut saya mencoba mengintip dari balik jendela yang terbuka, tapi hanya kegelapan dan aura seram yang bisa saya lihat.


Setelah mengunjungi kastil batavia, mas wahyu kembali mengajak kami berkunjung ke Gedung Olveh beliau ingin menunjukan pada kami tanah asli Jakarta yang sekarang sudah tertimbun beberapa centi meter oleh bangunan bangunan, yang katanya di artikan bahwa penanganan Jakarta sejak dulu sudah salah, yang mengakibatkan banjirnya kota Jakarta,

Yes jadi Gedung Olveh ini adalah  bangunan yang sudah ada sejak 1879 dan sekarang posisinya bisa menjadi berada di bawah, dan Gedung Olveh menjadi saksi tenggelamnya tanah Jakarta.

Gedung Olveh : Saksi Tenggelamnya tanah Jakarta

Gedung Olveh mempunyai tiga lantai, dan saat ini di lantai ke tiga Gedung Olveh terdapat sebuah Caffe, Cukup lama kami di Gedung Olveh, karena memang suasananya yang sangat adem dan tenang, juga memang kami sudah lumayan lelah dan asik dengan obrolan obrolan kami sampai akhirnya jam kunjungan Gedung Olveh berakhir dan dengan sadar diri kami harus membubarkan diri. Hehehe

Foto kiriman Zenal MuttaQien (@mas_adventure) pada


Terima Kasih BPJ, Terima Kasih Kubbu, dapat pelajaran dan Keluarga  baru dari kalian.


Disclaimer :
Penulisan artikel ini berdasarkan Perjalanan Based On Book dan dari beberapa sumber sumber dan link yang sudah di serakan, Mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan, mohon koreksinya. Terima Kasih



Wednesday, January 18, 2017

11 Destinasi Wisata Desa Yang Bisa Kamu Kunjungi di Desa Cikendung Pemalang

Desa Cikendung merupakan Desa Wisata di Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang bagian selatan yang akhir akhir ini lagi di kembangkan, yang memang sudah menjadi rencana oleh pemerintah setempat agar menjadi pelopor desa wisata di Kabupaten Pemalang.

Desa Wisata Cikendung

Desa Wisata cikendung mulai terkenal semenjak para mahasiswa UGM dan  pemuda berkemah dan ingin menikmati keindahan malam dan menikmati sunrise di sebuah bukit, yang sekarang di namakan Lembah Impian, yang kemudian mereka memgabadikanya dalam sebuah foto.

Karena pemandangan yang di dapat dari bukit lembah impian tersebut memang bagus, dan mempunyai pesona tersendiri akhirnya pemerintah berinisiatif untuk membuat lembah Impian menjadi sarana untuk bercamping untuk menambah spot wisata yang ada di Desa Cikendung.

Dengan peran pemerintah dan pemuda yang aktif dalam mempromosikan desanya melalui media sosial, seperti Twitter, Facebook dan Instagram, kini Lembah Impian Desa Cikendung mulai dikenal oleh masyarakat sekitar khususnya Pemalang, dan tak jarang sering juga di jadikan sebagai sarana camping ceria oleh para Pecinta Alam.

Selain melalui media sosial sebagai sarana promosi, Desa Wisata Cikendung juga pernah mengadakan event yang bertema Festival Cikendung dalam rangka mempromosikan Budaya dan Wisatanya secara real.

Setelah melihat beberapa penampakan dan kegiatan yang di adakan di Desa Cikensung, saya  sebagai traveler kekinianpun akhirnya penasaran untuk berkunjung ke Desa Wisata Cikendung, apalagi karena sangat dekat dengan rumah, hehehe... namun spot pertama yang membuat saya penasaran adalah lembah impian, tapi setelah memasuki Desa Cikendung saya sedikit kaget karena ternyata banyak wisata wisata lain yang bisa di jelajah.

Ada beberapa wisata dan budaya yang bisa kalian explore di Desa Wisata Cikendung yang antara lain :
1. Sanggar Seni Budaya
2. Bukit Besek
3. Lembah Impian
4. Bukit Salaman
5. Tebing Harapan
6. Curug Pelangi
7. Curug Sahid
8. Watu Langgar
9. Watu Lawang
10. Watu Gamelan
11Waktu Cakrama

Nah buat kalian yang masih mikir untuk dateng ke Desa Wisata Cikendung, sekarang tak perlu ragu lagi, karena banyak wisata yang bisa kalian explore di sana.

Disclaimer :
Artikel ini bersumber dari beberapa berita yang kemudian di kemas menjadi sebuah argument, mohon maaf apabila ada ketidaksamaa dengan kejadian yangsesungguhnya, mohon klarifikasi.

Tuesday, January 17, 2017

Ciremai 3078Mdpl Via Jalur Linggasana Baru

Gunung Ciremai terletak di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, untuk sampai ke puncak gunung ciremai  bisa melalui beberapa jalur pendakian, diantaranya, jalur palutungan, jalur apuy, jalur linggarjati, jalur linggasana, dan satu lagi dari Jalur baru via linggasana.



Ketika berangkat dari basecamp linggasana setelah kurang lebih 1 jam perjalanan nantinya akan menemui pertigaan, dan di sebatang pohon ditunjukan arah kekanan jalur lama linggasana, arah kiri jalur baru linggasana, seandainya mengambil arah kanan nanti akan sampai di pos kondang amis, yakni titik pertemuan antara jalur linggasana lama dan linggasana baru, tapi perlu di ingat jika melalui jalur linggasana lama kalian tidak akan menemukan sumber air, berbeda dengan jalur baru yang ke arah kiri, disana akan menemukan beberapa titik sumber air, itulah sedikit gambaran tentang jalur baru via linggasana.
  
Memanfaatkan waktu libur,yang hanya dua hari (minggu - senin) untuk mendaki Alhamdulillah terlaksana dengan lancar,  kami 6 orang berangkat dari Jakarta pukul 10 Malam, dari terminal kp Rambutan (Jakarta Selatan) dan sampai di desa linggasana pukul 4 pagi.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam, untuk menuju daerah Kuningan, kami menaiki bus Luragung yang bisa ngebut dijalanan dengan tarif 80rb per orang non AC, bagi yang takut ketika bus ngebut mending tidur saja kalo pak sopir lagi ngga peduli apapun, kecuali kejar setoran,  :D

Awalnya kami pada bingung nanti patokan untuk turunnya dimana,? tempat apa,? dan namanya apa? sebab dari beberapa sumber info dalam artikel tidak ada yang dengan jelas memaparkan lokasi tepatnya, namun tak begitu khawatir yang penting bilang saja ke kondektur bus “hendak kemana” pasti kondektur sudah tahu, kamipun diturunkan disebuah pertigaan didesa linggasana dan terdapat sebuah tugu yang berdiri tegak disebelah kanan jalan arah dari Jakarta, dan tugu ini bersebrangan dengan Indomart, tempat kami diturunkan, disekitaran area ini banyak warung warung warga,, bagi yang mungkin turun disini masih siang atau sore, sangat memungkinkan anda bisa belanja perbekalan yang belum komplit.





Ketika turun dari bus ada beberapa pendaki yang hendak mendaki via linggarjati, mereka naik ojek menuju basecamp linggarjati, yang kebetulan pada waktu itu ada beberapa ojek dan satu mobil angkot, basecamp linggarjati dan linggasana tidak jauh dari tempat tugu ini, tanpa lama kami coba menghubungi pak Yatna/abah Yatna, (pengurus basecamp), orangnya baik dan pengertian ke para pendaki, beliau termasuk orang yang mengurus pendaftaran calon pendaki, silahkan tanya tanya saja ke beliau ketika dibasecamp linggasana.

Tuut tuuutt tuttt.,,klek ,,
“Assalamualaikum...”
“Waalaikum salam...”
“Kang ini kami yang dari Jakarta udah sampe di pertigaan..?”
“Oh udah sampe ya, berapa orang mas,,?”
“8 org kang, tapp ada juga rombongan lain”
“Oh,, ada angkot atau ojek ngga mas disitu,,?”
“Ada kang, 1 angkot, 2 ojek, tapi ojeknya mau nganter pendaki lain”
“oh. ya udah sebentar saya kesitu mas,”
“Nuhun kang kami tunggu...”

Tidak  lama, kang yatna datang dan bertemu dengan kami, kebetulan sopir angkot nampaknya akrab dengan kang yatna, tampak mereka mengobrol seperti sedang diskusi ala bahasa sunda,,  Dan tak lama ,
“Ayo mas naik angkot ini biar di anter sampe ke basecamp”, kata kang yatna, berapa biayanya per orang kang,.,?tanya kami,
10 ribu aja mas biasa, ... ok baiklah, kami naikan carriel, ditumpuk dan diikat diatas angkot,,,dan berangkaaaat,,,kurang lebih 20 menit, kami sampai di basecamp linggasana yang masih gelap dan ada beberapa pendaki yang tampaknya sudah lebih dulu sampai, termasuk 2 teman kami yang datang berangkat dari Pemalang, kami janjian bertemu langsung dibasecamp, dan kamipun jadi 8 orang.


Beberapa fasilitas yang tersedia di basecamp linggasana ini diantaranya, mushola, kamar kecil (bersih), parkir24 jam yang luas, air yang mencukupi juga segar, suhu udara di ciremai terbilang masih bersahabat, tidak terlalu dingin.

Setelah beberapa menit ngobrol sambil ngeteh manis yang di suguhkan  dari basecamp, rasanya lebih siap mendaki kalau di awali dengan sholat subuh dulu, terus mandi biar seger, agar hilang penat gerah lusuh kusut, akibat desak desakan di dalam bus semalam, karena tiap laju bus melambat pasti tukang asongan langsung menyatroni masuk kedalam bus, yang bikin suasana gaduh, rusuh, mondar mandir bikin bete,,,huhhh intinya kala itu susah nyari kenyamanan.

Jam setengah 6 pagi, langit mulai cerah, dan berharap besar, semoga saja tidak hujan pas mendaki nanti, sampai kami turun dan kembali ke Jakarta, Carriel kami packing ulang sekaligus ngecek, barang bawaan, takut ada yang ketinggalan.


Dan ,,aargghhhhh,,,!!! benar saja, satu carriel berisi logistik kami tidak ada, sontak bingung, kesal dan bertanya tanya dengan keadaan semacam ini, terus bagaimana ini,?? tanya salah satu dari kami, kami bingung, kira-kira tertinggal dimana, lalu salah satu  teman kami coba menelfon kondektur bus yang sempat ngasih nomer telfonya pas kami turun dari bus, yang tujuan awalnya  pak kondektur adalah biar kami naik busnya lagi pas mau pulang ke Jakarta, dan alhamdulillah, keberuntungan masih memihak kami, benar saja tas ketinggalan didalam bus.

“Posisi bus sekarang dimana pak?”
“Lagi di ciawi mas, ni busnya lagi dicuci, saya sudah titip pesan ke tukang cuci kalau nanti ada pendaki yang mau ambil tas, kasih aja, itu tas nya ada didalam”

Dan kami tanya alamat lengkap, nopol bus, dan 2 orang dari kami bersiap  untuk berangkat ke Ciawi mengambil tas.
Rencana mendaki berangkat jam 7 pagi pun tidak sesuai, kami yang berdelapan, mau tidak mau, menjadi 2 grup, 4 orang pertama mendaki lebih dulu, agar bisa mendirikan tenda sebelum sore, lalu kira -kira 3 jam berlalu kedua teman kami sudah kembali dari Ciawi.
Jam10 siang kami berempat menyusul untuk mendaki, tanpa lupa panjatkan doa keselamatan lebih dahulu, cuaca terlihat cerah sampai detik ini, dan angin segar  berhembus  memacu semangat, meski kami sadar sudah tertinggal jauh dari rombongan pertama.

***
Perjalanan diawali memasuki hutan dengan kondisi udara sejuk, jalur yang cukup lebar mudah dilihat, dan melewati beberapa tempat untuk istirahat yang terbuat dari bambu, selokan selokan kecil dan genangan-genangan air berwarna keruh kecoklatan berdampingan dengan jalur yang sedang kami lalui, memakan waktu kurang lebih satu jam dengan irama santai dan sesekali berfoto dan kami menemukan area yang cukup sejuk dan sejenak untuk istirahat, yang ternyata itu adalah pos I.


Sebelum sampe ke pos 1, sepanjang perjalanan masuk kedalam hutan yang lebat, basah dan jalur licin.
Dan seperti yang sudah dijelaskan di awal, kira-kira kurang lebih 1 jam perjalanan, kami sampai dipertigaan dengan petunjuk antara jalur lama dan jalur baru, kami mengikuti jalur baru, yang sebelumnya 4 teman kami juga lewat jalur baru, jalur ini untuk awalnya diketinggian kurang lebih 800mdpl, cukup mudah dan jelas juga karena bukan trek yang menanjak, banyak tempat buat sejenak bersandar, seandainya pundak dan lutut molai minta ampun, namun sayangnya jalur ini masih banyak pohon duri yang malang melintang di jalur, jadi mata harus waspada, terlebih jika hendak mendaki  dimalam hari, dan yang  sedikit membingungkan adalah peta yang kurang sesuai antara nama-nama dan tempat yang ada di peta, dan letaknya, termasuk tanjakan madu yang  dipeta tidak dituliskan.


Jam menunjukan pukul 1 siang, langit yang tadinya cerah sumringah mendadak murung mendung, ditambah lagi perut terasa mulai lapar, jalurnya pun makin menanjak, keinginan dalam hati segera menyusul 4 teman kami jadi surut, karena perut sama lutut sepertinya sudah susah di ajak kompromi.

Dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur, suasana berubah  kepanikan,dan tergesa gesa ingin segera memasang fly sheet untuk berteduh, karena waktu yang cukup sempit dan tali fly sheet berada di dalam tas yang cukup susah mengambilnya, walhasil kami memeasang fly sheet menggunakan akar akar pohon yang bergelantungan dan cukup kuat untuk mengikat, sembari berteduh dan menunggu hujan reda, menyantap mi instan adalah ide brilian dalam suasana seperti ini, seakan hujan ini memperingatkan kami untuk istirahat terlebih dahulu, karena tidak sampai 1 jam hujan reda, tepat sebelum kami membereskan peralatan.



Ada dua pendaki yang sedang turun, dan sempatkan kami bertanya kepada mereka apakah bertemu empat teman kami yang didepan, dan merekapun jawab iya, sekaligus memberi tahu kalau kami sudah ditunggu, mendengar itu kami segera melanjutkan perjalanan. 


masih tetap menyusuri jalur licin didalam  hutan, sesekali terdengar sahutan suara hewan dan burung, melihat jam tepat pukul 2 siang, langit cerah lagi, sekarang ketinggian kami sekitar 1700Mdpl, naik dan terus naik, tanpa merasakan lagi perut yang keroncongan, berkat mi instan yang sempat kami makan tadi cukup menghilangkan bunyinya.

Satu jam kemudian, sampailah kami di ketinggian 1900mdpl (Kibima), sebuah tempat datar yang cukup untuk menampung 4 tenda, disitu pula kami bertemu 4 teman kami yang sudah mendirikan tenda dan sedang asyik bersantai, ada pula beberapa pendaki dari Brebes, namun tidak lama kemudian mereka yang dari Brebes membereskan tenda dan peralatan, lalu segera melanjutkan pendakian, sementara kami sepakat ngecamp dan bermalam disini.



Area ini masih didalam hutan, pohon-pohon besar, rimbun dan tinggi membatasi jarak pandang tapi juga melindungi kami dari terpaan angin yang kencang,

Setengah enam sore cuaca yang tadinya cerah sekarang meredup disusul petang hingga berubah menjadi malam, alat penerangan kami persiapkan dan  kami berkumpul didalam tenda, sembari melampiaskan rasa lelah bertukar cerita perjalanan siang tadi yang penuh dengan konflik rasanya sedikit mengurangi ketegangan dalam fikiran, turut pula minuman hangat dan beberapa cemilan pengusir hawa dingin, rintik-rintik kecil diluar tenda masih berlangsung, beberapa peralatan yang ada diluar kami biarkan basah, karena ruang dalam tenda tidak lagi muat untuk menampung semua peralatan kami, lama kami mengobrol dan bercanda, jam menunjukan tepat sebelas malam, segera kamipun membereskan ruang tenda untuk beranjak mengistirahatkan badan, kaos kaki. sarung tangan, buff, dan sleeping bag, kami gunakan untuk menjaga suhu tubuh dari hawa dingin ketika tidur, mengingat semakin malam udara akan lebih dingin.





Jam 3 jam 3,,!! bangun,,!! banguun,,!!muncak,,!!,,!!
Teriakan salah satu teman kami dari luar,,,,

Uuuhh padahal rasanya belum sampe mimpi,udah jam 3 aja,,dengan sedikit malas, tidak bisa menolak kenyataan, seperti sedang punya tugas besar dari bos ditempat kerja, mau ngga mau kami harus bangun dan keluar tenda, meskipun udaranya dingin dan masih sangat ngantuk.

Sebelum berangkat menuju puncak, penerangan, Headlamp dan senter  tangan kami keluarkan, kamera, air minum, dan snack, kami masukan kedalam daypack, setengah 4 pagi, kami mulai berangkat menuju puncak dengan harapan besar besar bisa mendapatkan sunrise.

Perjalanan melewati beberapa pohon besar yang tumbang, serta jalur yang sangat licin dan becek, satu jam sepertinya sudah berlalu, jam setengah lima menunjukan waktu subuh sudah tiba, satu jam kedepan kami harus segera mencapai puncak dan menikmati sunrise, namun sungguh sayang tampaknya kami masih dititik yang sangat jauh untuk bisa sampai puncak, sepertinya waktu satu jam tidak akan cukup, mengingat kondisi badan yang terasa makin kelelahan, bekal air minum makin menipis, jalur semakin menanjak dan seperti  tiada ampun, akibatnya kami sering berhenti dan istirahat, kurang lebih di ketinggian 2400 mdpl jalur berubah menjadi jalur bebatuan besar tak beraturan dan bervariasi dengan akar-akar tunggang yang cukup sulit untuk dilewati ,tapi sebelum melewati jalur batu tersebut kami lebih dulu melewati terowongan pendek diantara semak-semak, dan berkesan seperti  masuk kesebuah gerbang.



Disini harus extra hati-hati, sebab didalam terowongan banyak ranting pohon  melintang, dan bebatuan licin yang berlumut, setelah melewati terowongan ini, jalur didominasi akar akar dan ada banyak bonus jalur landai, namun dititk ini masih sangat jauh dari puncak, kami melewati banyak areal kemping, dan sempat pula bertemu beberapa pendaki yang hendak ke puncak.
   


Lihat waktu di jam tangan sekarang sudah menunjukan 05:56, lihat ke atas langit sinar matahari tidak kunjung nampak, kata salah seorang pendaki yang kami temui, “meskipun jam 5 mas sudah berada di puncak sepertinya tidak akan mendapat sunrise, karena lihat saja mendung di sekeliling langit”, yah memang itulah yang sedang terjadi, kami sedikit ada kecewa, karena berangkat dari sebelum ayam bangun dan berkokok sementara kami sudah keringetan begini, belum juga di beri hasil yang kurang memuaskan, tapi tak apalah, yang penting kami tetap sabar dan bisa terus melanjutkan perjalanan menuju titik tertinggi Jawa Barat, dan empat teman kami yang kemaren mendaki lebih dulu, sekarang malah berada di belakang, mungkin karena kelelahan atau apa, yang jelas mereka sekarang tertinggal jauh, tapi semoga tidak pantang menyerah.

Jalur kini makin terlihat terang karena sudah memasuki batas vegetasi, tenaga makin dikuras, sepuluh langkah berhenti  mengambil nafas, sempat kami temui sepasang pendaki, yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan, kami coba menyemangati namun sepertinya mereka memang benar benar sudah tidak sanggup, tapi tak apalah, itu keputusan bagus, daripada memaksa.


Sampai disini kami merasa seperti sudah berjalan seharian tapi belum juga sampai, bertempur melawan jalur yang kejam, salah satu teman kami hampir tumbang karena lelah, meskipun jalurnya kejam tapi pemandangan alam dari ketinggian sungguh merubah rasa lelah kami menjadi semangat baru dan menambah penasaran seperti apa keindahan kawah dari puncak ciremai, sebelum sampai di puncak, ribuan edelwais, tertata rapi terlihat dari kejauhan sangat cantik memanjakan mata, banyak para pendaki yang tak mau menyiakan kesempatan untuk berfoto ,termasuk kami, sampai di ketinggian 2000 lebih, sebelum pos pangasinan, ternyata masih ada banyak tempat ngecamp yang cukup luas, kami sungguh lelah, lapar, dan kehausan, untung saja matahari tidak terlalu terik.




Kami tiba di pos pangasinan, sebuah lokasi datar yang kira-kira cukup untuk menampung 6-8 tenda, namun sayang area ini termasuk kotor oleh banyaknya sampah plastik dan botol bekas minum, di pos ini kami hanya sebentar mengambil beberapa lokasi untuk berfoto,dan segera melanjutkan perjalan naik menuju puncak.

Jalur setelah pos pangasinan, sekarang lebih berbeda dari sebelumnya, jalurnya lebih menanjak dan jelas ini batas vegetasi, karena tanah dan pasir hitam bercampur disepanjang jalur, meskipun tidak terlalu dalam tapi jurang jurang kecil di samping kiri dan kanan jalur, memaksa kami untuk lebih berhati hati, jangan sampai lengah, terbuai oleh keindahan pemandangan yang ada disekitar saat ini.
Tidak sampai satu jam kami tepat sampai puncak ciremai,, Alhamdulillah ahirnya sampai juga dipuncak, meskipun kami belum lengkap 8 orang, sekitar jam 9 kami tepat berada dipuncak, jadi kurang lebih memakan waktu 5 jam dari pos kibima sampai di puncak kami  lewati.

Ketika sampai di puncak sudah banyak para pendaki yang sedang menikmati keindahan alam di kabupaten kuningan ini, tak mau terlewat kamipun mengambil banyak foto, dari berbagai sudut, dan tampak pula banyak pendaki wanita yang berkumpul di area puncak dari jalur palutungan, karena jalur itu jalur favorit para pendaki, yang katanya jalur landai dan bersahabat, salah satu teman kami penasaran akan hamparan luas di area sekitar puncak ciremai, dan dia pun mengelilingi sapanjang bibir puncak sendirian, dan katanya pemandangan dari segala sudut benar benar memukau, seandainya tidak ingat besok harus kembali kejakarta mungkin kami akan berlama lama di sini atau mungkin menginap satu malam lagi, teman kami memutari bibir puncak memakan waktu 1 jam. 




Meskipun lelah dan capek, keseruan dan kebahagiaan kami pecah ketika sampai dipuncak dan komplit delapan orang, dua jam berada di puncak, seperti baru dua menit, tapi setelah awan mulai meninggi menunjuan waktu sudah siang, kami terpaksa harus turun dan kembali ke basecamp.
Semua rasa bercampur disini, lelah, capek, haus lapar, tapi puas, mengiringi perjalanan menuruni punggungan gunung, waktu tempuh turun, lebih singkat, sekitar 2 jam, sampai di pos kibima, tapi sebelum itu, kami sempat di guyur hujan ketika turun, sampai di tenda, kami, memasak, nasi goreng, tempe goreng, nuget, sungguh nikmat terasa dimakan bareng sambel terasi.
Jam menunjukamn pukul 3 sore, ketika itu, dan setelah usai makan dan dirasa siap melanjutkan perjalanan menuju basecam, kami membereskan, peralatan dan melipat tenda, satu jam berselang semua beres, dan siap turun,, awalnya kami kira tidak akan turun hujan lagi, selama waktu tempuh menuruni sisa gunung.


Tapi ternyata justru ini adalah hujan yang paling deras mengguyur  kami selama di gunung, jam setengah 6 sore, hujan turun dengan begitu derasnya, beban menambah berat di atas carriel kami, raincoat, dan ponco, kami kenakan, tak lupa senter juga dipersiapkan, ketika turun gunung dibarengi hujan membuat kaki tidak bebas melangkah dengan cepat, karena jalur jadi sangat licin dan gelapnya didalam hutan yang lebat mengharuskan memiliki senter yang terang, karena ketika itu senter yang malam sebelumnya sudah dipakai berjam jam sekarang dayanya berkurang sehingga tidak  sempurna menerangi arah jalur.

Jalan kamipun menjadi amat sangat pelan, sesekali tangan kena duri yang berada di jalur karena pohon duri banyak yang berserakan, di tepian jalur, sering kami terpeleset, dan jatuh, jalur benar benar sangat licin, beban di pundak semakin terasa berat.

Meskipun dalam kondisi diguyur hujan, rasa haus tak tertahankan, dalam hati sangat berharap jalur segera usai, dan segera tiba di basecamp, dan setelah kaki sudah sangat lemah, jam 9 malam kami sampai dibasecamp, meskipun hujan belum juga reda, semua pakaian yang masih melekat dibadan, terasa tidak nyaman, karena lembab, dan hawa dingin yang lebih terasa dibanding hari sebelumnya.

Di basecamp ternyata sudah ada beberapa pendaki yang masih menunggu temanya yang belum turun, kami beristirahat di basecamp, dan bersih bersih, sepatu, sandal, dan pakaian, yang kotor, karna saking laparnya, kami memesan mie rebus ke anaknya kang yatna, sembari menunggu mobil angkot yang hendak mengantar kami ke jalan raya untuk mencari bus ke jakarta, jam 10:30, kami di antar ke jalan raya, tapi, disini masih saja ada kesal, karna pas kami turun angkot, giliran pas bayar, kami disuruh membayar 20.000/ orang, kamipun kaget dan berusaha menawar dengan pak sopir, karena tarif yang sebelummnya, hanya 10.000/ Orang.

Tepat jam 5 subuh, kami sampai di Jakarta lagi dan turun, di kp rambutan, dan segera mencari taxi untuk mengantar ke Cilandak, dengan membayar 50.000, Sekian.

Oleh : Makmun Basri

Saturday, January 14, 2017

Pengalaman Kena Denda KRL

Dimana mana dan apapun jenisnya yang namanya kena denda pasti bikin kesal dan bete, apalagi kalau kena denda tilang, hehehe 

Nah pada kesempatan kali ini saya mau berbagi cerita kepada pembaca setia blog ini hehe tetang pengalaman kenapa saya bisa kena denda KRL, biar tidak terjadi kepada kalian semua, karena dendanya lumayan bisa buat makan dua hari.
Kena denda KRL
Sumur : irfan-rhinoarashi.blogspot.com
Ceritanya pas saya lagi balik lagi ke Jakarta dengan menggunakan kreta api, seperti biasa saya turun di stasiun Bekasi, karena kejauhan kalau berhenti di stasiun senin (stasiun terakhir) Setelah di Stasiun Bekasi saya harus naik KRL menuju stasun Klender Baru.

Dulu sebelum ada peraturan terbaru yang saya gak tau, kalau habis naik kreta jarak jauh itu di perbolehkan langsung naik KRL tanpa harus membeli tiket KRL, hanya dengan memberikan bukti tiket kreta yang barusan kita naiki saja kita di perbolehkan keluar stasiun,

Sedangkan pada peraturan terbaru ini, ternyata sudah tidak di perbolehkan lagi untuk melakukan hal seperti di atas, melainkan harus keluar stasiun dulu dan membeli tiket KRL,

Karena waktu itu saya gak tau, saya langsung aja naik KRL menuju stasiun Klender Baru, dan pas saya minta keluar kepada security, teryata tidak di perbolehkan dan saya langsung di seret di bawa ke sebuah ruangan.

Saya di tanya kenapa melakukan kesalahan ini, belum sempat saya menjawab, dan karena kesalahan ini kamu harus bayar denda senilai 50.000
Dalam hati sayang banget kalau harus ngeluarin uang segitu, mungkin bagi kamu gak seberapa tapi buat saya yang masih merintis sebuah karir ya berasa sayang aja.

Dengan sedikit basa basi saya coba iseng dan menawar agar di turunkan atau diberi kebijakan karena ketidaktahuan saya, tapi katanya ini sudah menjadi peraturan dan konsistensi perusahaan bahwa setiap tindak kesalahan harus di kenakan sanksi, seperti hal hal lainya yang menjadi kebaikan dan kemajuan PT kereta api.

Namun akhirnya gue di kasih kebijakan dengan dua pilihan, yang pertama membayar denda 50.000 atau harus membeli tiket tiga sekaligus karena saya melewati tiga stasiun beserta hitungan tarif standar dari jarak saya naik, yang berarti kalau di uangkan menjadi 36.000 

Gue masih sempet nawar lagi agar dendanya di ganti jangan pakai uang, tapi pakai push up atau apa gitu hahaha, karena memang saya baru pulang kampung dan harus irit di Jakarta sampai gajian,
Namun tidak bisa, agak lama saya terdiam, sengaja seperti orang kebingungan, dan berharap mendapat ampunan, dan mencoba pasrah saja apa yang akan dilakukan para petugas itu ketika saya tidak membayar hehehe, namun karena lelah pengin buru buru sampai kos, akhirnya saya bayar denda tersebut. Hmmm..

Itulah dia sedikit pengalaman saya kena denda KRL, semoga tidak terjadi pada kalian ya ...

Friday, January 13, 2017

Duduk Sesuai Nomer Tiket Pesanan Akan Lebih Bijak

Hai... hari ini gua mau kembali ngomongin soal naik kereta, kenapa...?? Karena gue lagi gak punya cerita lain yang bisa gue critain hehe...

Jadi begini, gue meyakini kalau kebanyakan orang yang menggunakan jasa transportasi kreta api, pasti menginginkan bisa duduk di dua kursi dan berada di paling pojok yang dekat dengan kaca, alasannya menurut gue jelas, yaitu biar bisa melihat pemandangan dan bisa punya dua senderan kepala, selain itu sangat dekat dengan colokan, pokoknya enak deh...


Oleh karenanya untuk mendapatkan tempat favorit itu bisa di katakan mudah mudah susah, bisa di cobain sendiri ketika kamu memesan tiket kreta dan hendak memilih tempat duduk, pasti kebanyakan samping jendela sudah penuh di pesan.


Oleh karena itu mungkin akan lebih bijaknya buat kalian yang merasa tidak bisa mendapatkan kursi paling samping untuk tidak mendudukinya, karena itu akan membuat si pemesan yang mendapatkan kursi tersebut kesal, dan mau bilang juga kagak enak, karena mungkin yang menduduki orang yang bisa jadi lebih tua. (Pengalaman)

Kejadian seperti ini biasanya gue alami ketika gue berangkat dari stasiun Pemalang menuju Jakarta, dimana stasiun Pemalang adalah pemberhentian ke tiga dari stasiun Semarang. Dan orang yang sebenernya duduk di samping gua malah menduduki kursi gua, dan saat giliran gua datang dia tidak dengan pengertianya memberikan tempat duduk sesui dengan nomer kursi gua dan dia sesuai dengan nomer kursinya sendiri.

Jujur hal ini kadang membuat gue kesal, karena seperti yang sudah gua ceritakan di atas, bahwa setiap orang mempunyai tempat nyamanya sendiri dalam perjalanan menggunakan kreta. Dan untuk mendapatkan tempat nyaman tersebut tidaklah mudah,

So mungkin kita akan lebih bijak dan sportif kalau kita duduk sesuai dengan nomer kursi kita masing masing.

Wednesday, January 11, 2017

Tips Cepat Pesan Tiket Kreta Api

Hallo Guys sahabat KAI, wkwkwk hari ini gua mau share buat kalian yang hobi kemana kemana naik kreta api , nah buat kalian yang masih pesan tiket kreta api melalui browser tentunya akan memakan waktu yang sangat lama, karena harus mengisi identitas sesuai KTP dulu, kecuali buat kalian yang sudah hafal NIK ktpnya sediri mungkin akan lebih cepet wkwkwk.... namun meskipun sudah hafal NIK ktpnya sendiri, tapi menurut gue si tetep aja masih lambat...

Keterlambatan dalam mengisi identitas saat memesan tiket kreta api biasanya akan sangat merugikan, apalagi kalau tiket yang akan kita pesan adalah tiket pada saat liburan dimana semua warga indonesia sedang berlomba lomba untuk mendapatkan tiket liburan tersebut,  terlambat sedikit saja kursi akan jadi milik orang lain yang lebih cepat, dan kalau sudah begitu kamu cuman bisa bengong meratapi nasib karena sudah bergadang semaleman wkwkwk

Banyak cerita dari temen temen yang suka berburu tiket liburan atau lebaran, gara gara lama dalam mengisi identitas diri kursi akhirnya menjadi milik orang lain. Gak penginkan kejadian seperti itu.

Nah jadi buat kalian yang tidak ingin lama dalam memesan tiket kreta api karena harus repot repot mengisi identitas diri dulu pada saat memesan tiket kreta api, apalagi sampai harus ngeluarin KTP dari dompet yang bikin tambah ribet, sekarang kalian bisa mengunakan aplikasi tiket kreta api, dengan menggunakan aplikasi yang sudah di sediakan langsung oleh PT. KAI, kalian tidak perlu lagi repot repot mengisi formulir ketika hendak memesan tiket kreta api, cukup register satu kali dan secara otomatis akan mengisi sendiri ketika memesan tiket kreta api.

Bagaimana?? Simpel bukan,... buat kalian yang tidak percaya bisa cobain sekarang, namun dalam hal ini berbeda ketika kalian hendak memesankan tiket kreta api untuk orang lain.

TipsCepat Pesan Tiket Kreta

Selain hal di atas, kemudahan lain ketika memesan tiket dengan menggunakan aplikasi KAI adalah, mudahnya mencari lokasi pemberangkatan dan tujuan, hanya dengan mengetikan nama stasiun pemberangkatan atau tujuan, sangat berbeda sekali ketika menggunakan browser yang masih menggunakan metode scrool.

Selamat mencoba.