Wednesday, January 31, 2018

Prau Via Patak Banteng 2.562 Mdpl (Trekking Malam Hari)

Gunung Prau Dieng merupakan gunung dengan ketinggian 2.562 mdpl yang terletak di dataran tinggi Dieng, atau tepatnya di titik kordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT. Gunung Prau juga  merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

Gunung Prau merupakan padang rumput yang luas, yang memanjang  dari barat ke timur, yang memiliki pemandangan yang sangaaaaaaat indah, iya kamu betul, pemandangan Gunung Sindoro Sumbing yang terlihat dari puncak Gunung Prau terlihat begitu gagah dan mempesona, membuat orang kemudian berencana ingin mendakinya, seperti saya contohnya hehehe

Pendakian Gunung Prau

Meskipun mempunyai ketinggian yang lumayan tinggi yaitu 2.565 Mdpl namun Gunung Prau merupakan gunung yang pendek, hal ini dikarenakan Gunung Prau sudah berada didataran tinggi, jadi untuk melakukan pendakian ke Gunung Praupun hanya dibutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan, namun meskipun pendek, jalur pendakian Gunung Prau merupakan jalur pendakian yang kejam, dimana sepanjang jalan pendakian kita tidak mendapatkan bonus landai satupun, tapi tentu sangat seru dan menjadi tantangan tersendiri buat pendaki pemula seperti saya.

Gunung Prau memiliki tiga jalur pendakian yaitu :
- Jalur Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang
- Jalur Patak Banteng, Wonosobo
- Jalur Kenjuran, Kendal.

Dan yang mau saya ceritakan disini adalah jalur via Patak Banteng.
Pendakian ke Gunung Prau sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, yang menjadi salah satu destinasi liburan akhir tahun saya di tahun 2017, jarak dari tempat saya tinggal menuju ke Gunung Prau hanya memakan waktu 4-5 jam jika dilihat dari Map, maka dari itu perjalanan kesana saya putuskan untuk menggunakan sepeda motor saja, lagian sepertinya bakalan ribet kalau menggunakan transportasi umum dari sini, tapi kalau kalian ingin menggunakan transportasi umun, kalian bisa naik trayek ini :
- Dari Jakarta Terminal Kp. Rambutan – Wonosobo – Batak Banteng
- Dari Pemalang
Pemalang  Selatan – Purbalingga – Wonosobo
Pemalang Kota – Pekalongan – Wonosobo 

Saya memulai perjalanan dari rumah (Pemalang Selatan) sekitatar pukul 11:00 WIB dengan ditemani sahabat saya asep, dan sampai di Gunung Prau sekitar 17:40 WIB pas menjelang Maghrib, perjalanan menjadi lambat karena kita banyak berhenti untuk membeli logistik, sholat, dan makan siang sambil ngiup karena sempat kehujanan juga.
Sepanjang perjalanan sempat bingung, hanya mengandalkan penunjuk jalan dan feeling saja, sedikit takut salah jalan, sehingga pas ketemu gerbang menuju kawasan Dieng, kami sempatkan untuk berhenti dan bertanya.

"Mas Gunung Prau kesana ya..?
"Iya”
"Mau ke Gunung Prau aja, apa mau ke Dieng Juga???"
"Prau Doang mas"
"Perorang 10.000"
"Haaaaa.....(Dalam hati) saya tetiba shock ditengah jalan dimintai retribusi.

Padahal kan masih jauh, kenapa dimintain bayaran, sedangkan yang lain tidak, tapi begonya saya juga si pakai berhenti disitu segala, tapi aneh juga si, kan tujuan saya Gunung Prau, dan sedangkan dulu waktu ke Dieng pun gak dimintain karcis ditengah jalan, toh ketika kita masuk wisatanyapun kita bayar lagi, walah nggak bener ini...
Mau nggak mau akhirnya saya mau bayar aja 20.000 namun dia minta katanya 10.000 aja, yaudah Alhamdulillah.
Pas sudah hampir dekat, tepatnya dijalanan yang nanjak dan berkelok-kelok kami diragukan dengan gunung yang berdiri tegap dibelakang kami "jangan-jangan kami salah jalan ni"

"Bro kita nanya orang dulu ya, sambil beli nasi buat makan di sana"

Kita memang gak bawa perlengkapan lengkap seperti biasanya, karena jarak tempuh pendakian yang dekat.
Kami beli nasi dengan lauk yang dipisah, antisipasi agar tidak bau.

"Mas mau kemana"
"Prau mas"
"Ohhh sama"
"Dari mana"
"Dari Semarang mas"
"Cuman berdua ya"
"Iya mas"
"Yaudah bareng aja kalau gitu"

***

"Mas, kalau itu gunung apa ya mas" sambil menunjuk gunung dibelakang arah jalan kami.
"Gunung Merbabu mas"
"Ouughhh.... Kalau Prau kemana mas???"
"Kesamaan mas, lurus terus aja_

"Ok terima kasih mas"

***

Bocah kurus dan gemuk bersama motor Supranyapun akhirnya ikut dengan kami, meskipun posisinya terbalik dia saya suruh di depan dan saya dibelakang ngikutin dia hahaha, rencananya sih mau saya jadiin bahan buat bullyan disana, secara dia menakutkan banget mengendarai motornya hahaha.... Kalian bisa bayangin, di jalananan yang nanjak ada dua orang pendaki dengan membawa dua carieer, satu di depan, dan satu di belakang, menggunakan sepeda motor Supra, dengan posisi bawa cariernya saja sudah susah, ditambah pas nurunin gigi motornya itu gak mulus alhasil yang dibelakang seperti mau ngejengkang ke belakang, dan saya yang dibelakangnya cuman bisa ngeri dan ketawa hahaha…. Sampai-sampai sangkin ngerinya pas ditikungan ada rame- rame orang yang sedang bergerombol saya kira dia kecelakaan… Astagfirulahhaladzim 


17:40 WIB : Akhirnya kami sampai di pintu gerbang pendakian Gunung Prau Via Patak Banteng, Posisinya disebelah kanan jalan, di depanya ada lapangan, dan karena waktu itu lagi rame-ramenya, jadi kami memarkirkan motornya dilapangan dengan biaya 10.000/Orang.

Prau Via Patak Banteng

Kami terus berjalan, bersama para pendaki-pendaki lainya, sambil tengok kiri tengok kanan mencari basecamp Gunung Prau untuk melakukan pendaftaran atau simaksi.
Karena pengunjung  atau pendaki yang begitu banyak dan kondisi sudah mulai gelap dan juga karena kesotoyan kami yang masih saja terus berjalan alias nggak mau bertanya, akhirnya kami sampailah di post I ( Pos Sikut Dewo) 

Di post I ternyata ada pemeriksaan karcis kembali untuk mengantisipasi pendaki yang illegal, nah disinilah kami tercyiduk, dianggap pendaki illegal dan tak tau aturan.
Saya yang memang salah tidak bisa ngomong apa-apa, ngeles atau minta ampunpun seakan percuma, karena ya memang kami tolol, tidak mau bertanya.
Akhirnya dengan berat hati mau tidak mau kami harus membayar denda dua kali lipat dari harga tiket masuk. Hmmmm

Pos satu gunung prau

Tapi jujur sepajang perjalanan dari gerbang Patak Banteng menuju post kami terus mencari-cari keberadaan basecamp Gunung Prau untuk melakukan pendaftaran.

***

Jalanan mulai gelap, sialnya headlamp yang saya bawa tidak bisa digunakan alias rusak, padahal sudah saya beli 5 buah baterai, terpakasa menggunakan batrai handphone.
Meskipun mendaki dimalam hari, namun sama sekali tidak merasakan takut, tidak seperti saat digunung-gunung yang lain, di Gunung Slamet Misalnya.

Pendakian malam di Gunung Prau

Kami terus berjalan dengan perlahan namun pasti, karena kelamaan berhenti saat mendaki bukan ide yang bagus menurut  saya.
Seperti yang sudah sedikit saya sampaikan diawal, trek Gunung Prau sangat nanjak, namun sangat mudah untuk dilalui, karena sudah adanya bantuan pijakan-pijakan yang dibuat oleh bambu, 

Sekitar kurang lebih 3 Jam perjalanan sampailah kami di Puncak Gunung Prau, namun spot atau lahan – lahan untuk mendirikan tenda sudah penuh berpenghuni semua.

Spot untuk mendapatakan pemandangan paling indah adalah disebelah barat, namun sudah tidak terdapat lokasi yang rata, namun demi bisa mendapatkan pemandangan yang indah, akhirnya kamipun terpaksa mendirikan tenda di lokasi yang miring.

Meskipun malam hari, suasana digunung prahu seperti waktu menjelang subuh, dimana masih bisa terlihat dua Gunung Sindoro Sumbing yang mejadi primadona di Gunung Prau.

Di puncak Gunung Prau udaranya sangat dingin, untungnya selain membawa jaket yang tebal, kami juga membawa selimut dan bantal, hanya saja tempat tidur kita kurang nyaman karena miring.
Namun meskipun demikian, dinginya Gunung Prau masih saja terasa, sampai-sampai sayapun tak berani lama-lama keluar teda, dan memilih untuk tidur agar badan hangat.

Buat kalian yang mau mendaki Gunung Prau, jangan remehkan dinginya dataran tinggi Dieng, wajib sekali bawa bawa sleeping bag atau pakian hangat lainya.

Meskipun malam ini malam pergantian tahun, namun saya sama sekali tidak peduli dengan moment itu, lagian para pendaki juga dilarang untuk membawa kembang api kepuncak, so pas tepat pukul 00:00 saya cuman bangun sebentar karena banyak yang teriak dingiiin….dingiin… kemudian saya kembali masuk ketenda dan tidur.

Pukul 15:00 WIB para pendaki sudah pada ramai menungu terbitnya matahari pertama di tahun 2018, meskipun udadara lebih sangat dingin tapi moment inilah yang ditunggu tunggu oleh setiap pendaki, dan inilah matahari pertama di Tahun 2018.

Sunrise Gunung Prau

Prau Dieng

Puncak Gunung Prau

Trekking Jalur Prau

Pesan dan Kesan
- Pemandangan di Gunung Prau sangat indah membuat saya pengin balik lagi berkunjung
- Tempat sampah para pendaki yang ditampung dibawah dekat Basecamp sepertinya terlalu lama tidak diangkut, sehingga menumpuk sangat banyak dan menimbulkan pencemaran udara dan tidak enak dipandang

Wednesday, January 24, 2018

Camping Ground Parang Gombong atau Waduk Jatiluhur

Gak pernah ngebayangin kalau bakalan bisa mengunjungi tempat ini, dan nggak ngebayangin juga kalau ternyata viewnya sebagus ini, ya anggap aja ini rakumnya Purwakarta hehehehehe...

Selama ini gue cuman bisa memandang dari jauh, yang pertama dari Gunung Bongkok, Dan yang kedua dari Gunung Lembu, Namun hari ini gue bisa melihat dan menikmatinya secara langsung.

Camping Ground Parang Gombong

Waduk Jatiluhur adalah sebuah bendungan Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai seluas 4.500 km2 dan merupakan terbesar di Indonesia yang dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal  Prancis dengan potensi air yang tersedia  sebesar 12,9 milyar m².

Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Akses untuk menuju ke Waduk Jatiluhur kalian bisa melalui Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi), dan keluar di Gerbang Tol Jatiluhur, tapi tergantung dari arah mana kalian berada, kalau arahnya dari Karawang, kalian bisa baca cerita ini sampai habis :)

Trip To Parang Gombong With Backpacker Karawang.
Semenjak tinggal di Cikarang sudah lama gue menanti-nantikan trip tipisnya Backpacker Karawang, Karena keseringan main ke Jakarta ternyata lumayan bikin katong cepat tipis juga hahaha.
Dan Alhamdulilah akhirnya trip yang gue tunggu-tunggu datang juga.

Trip ke Pasir Gombong dengan share cost 30.000/orang, awalnya gue gak peduli dengan destinasi wisatanya karena yang pertama kali gue lihat adalah share costnya yang murah meriah dan yang penting gue bisa jalan dan mendapat kebahagiaan.

Dan setelah sampai dilokasi gue baru sadar kalau tripnya adalah ke Waduk Jatiluhur yang ternyata mempunyai wisata yang dinamakan Parang Gombong, tapi gue yakin sepertinya orang-orang lebih familiar dengan waduk jatiluhurnya.

Perjalanan ke Parang Gombong dimulai dari sekretariat Backpacker Karawang sekitar pukul 14:00 WIB dan sampai lokasi sekitar pukul 16:30 WIB, rutenya mudah diingat dari Karawang tinggal lurus aja mengikuti jalan pantura Karawang sampai ketemu pertigaan ke arah Purwakarta kalian ambil kanan.... Luruuus terus, tipsnya kalau kalian belum pernah kesana perhatikan saja dengan jeli setiap ketemu petunjuk jalan.

Track sebelum sampai dilokasi sangat asik, nanjak, dan berkelok-kelok tapi juga harus hati-hati jangan sampai keluar jalur, pemandanganya indah, kalian akan melihat bangunan bendungan Jatiluhur dari belakang, kalian juga boleh ngebayangin seandainya tembok bendungan itu hancur, tapi semoga jangan sampai (amien), setelah.melewati jalanan nanjak nan berkelok-kelok, kalian akan menemukan sebuah keindahan, danau bak Ranukumbola dengan background gunung-gunung di belakangnya.

Ya, gue exited banget dapet pemandangan sebagus ini, karena sebelumnya memang belum terbayangkan, belum browsing-browsing dulu destinasi yang bakal gue datengin jadi pas tahu keindahanya gue langsung agak shock gitu...hehehe  Tapi seexcitednya gue, gue tetep cool dan mencoba tetep kalem, biar kegantengan gue gak hilang (padahal dalam hati pengin lari-larian)

Parang Gombong

Waduk Jatiluhur Purwakarta

Pemandangan Waduk Jatiluhur

Gimana?? Baguskaaan.... menurut gue ini tempat yang sangat cocok banget buat camping ground, atau camping ceria, karena lokasinya yang sangat luaas, dekat danau, pemandangan gunung yang indah, udara yang dinging, banyak pohon buat hammockan, dan juga banyak warung-warung yang stand by 24 jam.

Dan kegiatan malam selama camping kita adalah sebagai berikut:
16:30 - 17:00 - Mendirikan tenda
17:00 - 18:00 - Games
18:00 - 19 :30 - Ishoma
20:00 - 23:00 - Perkenalan, materi survival, penerbangan lampion

FYI ini adalah pertama kalinya gue nerbangin lampion, ternyata seru yah, ada tekhnik khusus supaya lampion bisa diterbangkan…hahaha

Penerbangan Lampion Backpaker Karawang di Parang Gombong

Ada beberapa peraturan yang disampaikan sama pihak setempat, yaitu untuk tidak bermain di danau, diatas jam 00:00 WIB tidak boleh terlalu berisik, tidak boleh sembarangan, dan tetap menjaga sopan santun.

Kesurupan di Waduk Jatiluhur
Kegiatan terjadwal sudah selesai, gue yang dari tadi menahan sakit kepala karena telat ketemu nasipun langsung melipir ke tenda untuk segera merebahkan diri, sedikit menyesal karena tadi dijalan gak beli makanan, tapi entah karena gue telat.makan atau tidak, seharusnya pas tadi gue makan ini kepala sudah tidak sakit lagi.

Mencoba untuk tidur tapi susah, banyak nyamuuuk, gelisaaahh... Bangun tidur, bangun tidur,bangun tidur, begitu seterusnya... sampai gue dikagetkan dengan jeritan temen yang masih pada ngumpul....

Gue yang masih nyut-nyutan enggan untuk mendekat, bacaan ayat kursi dan lantunan ayat-ayat kursi lainya terus diucapkan oleh salah satu dari kami, ada juga yang berasal dari hanphone.

"Ada apa ini"
“Keluariiin.....Keluariiin Kaaa....”
“Kakak pasti bisa....”

“Aing Macaaan…”

“Ini bukan penyakit.... Ini jin yang keluar.....”

Mendengar kata-kata itu gue langsung merinding... Dan seketika angin yang tadinya kencangpun tiba-tiba berhenti dan udara menjadi panas....

Astagaaa semoga ada yang bisa ngusir Jin diantara kami....

Gue pengin mendekat, penasan, tapi disisi lain gue takut terbawa suasana, gue takut jinnya pindah kebadan gue, secara tadi gue pipis sembarangan karena males ke toilet...

Maafkan akuu……

Setelah kurang lebih setengh jam, Alhamdulilah ceu Kokom sudah tidak muntah-muntah lagi, Dan jinnya sudah pergi, dan bisa ditenangkan.. hmmmm ada-ada saja

Tapi kejadian ini jadi pelajaran buat kita untuk tetap menjadi etika dan sopan santun ketika berada di wilayah orang, dan menyadarkan bahwa ada kehidupan lain disekitar kita, gue yakin bahwa yang terjadi hanya mereka ingin menunjukan saja bahwa mereka ada disana, soal mereka merasa terganggu atau tidak, sebelumnya kami sudah datang dengan permisi.

Dan intinya sampai menjelang pagi tidur gue gak nyenyak gara-gara nyamuk sialaan.... So buat kamu yang mau camp di Pasir Gombong jangan lupa bawa autan yang banyak....

Gue yang suka dengan kejadian-kejadian mistis besoknya langsung dengan cepat mewawancari sang korban, berdasarkan penuturan Ceu Kokom saat gue kepoin, dia bilang seperti ini :

"Saya juga blom pules banget tidur waktu itu,  cuma udh mulai lelah gitu.."

"Antara sadar dan gak sadar,  yang pasti dada saya NEK banget, ga tau saya tiba-tiba nangis kaya sakit banget dada,  mau melek susah banget,  padahal badan biasa aja,  ga merasa Nek, mual, atau masuk angin gitu,  cuma dingin biasa aja."

"Tiap perjalanan trip saya ga pernah mabok, sekalipun itu jauh,  kalau ngecamp paling dingin2 angin malem biasa ajh."

Selain Ceu Kokom, salah Satu dari kami juga bercerita kalau hampir saja tidak bisa menahan emosinya saat seseorang menceritakan tentang kesombongannya yang membuat dirinya pernah tersesat waktu mendaki di Gunung Rinjani, suasana kala itu memang bikin sedikit merinding dengan kisah-kisah mistis yang diceritakan saat dia tersesat selama 3 Hari.
Gue sendiri sebagai bagian dari anak bpj yang sebenarnya sudah tahu watak dari gadis ini, pun sedikit merasakan hal yang berbeda, Ihhh kok masih sombong aja si.

Aura waktu itu seperti tak suka dengan kesombongannya seseorang, bukan hanya gue, tapi temen disamping gue juga ngedumel sendiri tentang bagaimana jawaban tak logis yang disampaikan, ok saya kutip sedikit beberapa pertanyaan yang di jawab.

1. Pas kamu dinyatakan hilang, bagaimana dengan orang tua kamu, menyusul kesana nggak?
"Enggak, ngapain kesini??"

2. Kamu takut nggak pas tersesat?
"Enggak, ngapain takut?"

Jawaban simpel seperti itu dipemikiran gue seperti jawaban orang yang sangat keras hatinya, tapi di akhir cerita memang dituturkan kalau dia memang orang yang keras kepala dengan keinginanya.

Senam Pagi di Parang Gombong


Backpacker Karawang


Mitos dan Misteri di Waduk Jatiluhur
Tak heran jika Waduk Jatiluhur banyak menyimpan mitos dan misteri, secara bendungan yang merupakan terbesar di Indonesia ini pada saat pembangunanya boleh dibilang banyak menelan korban.

1. Mbah Jawer Penguasa Waduk Jatiluhur
Dikutip dari http://misteritua.blogspot.co.id mbah jawer adalah yang dipercayai sebagai penguasa waduk jatiluhur, konon diceritakan Mbah jawer adalah bayi yang mempunyai jawer yang dihanyutkan di sungai Citarum oleh ayah dan ibunya karena tidak mau menanggung malu mempunyai anak yang mempunyai jawer, bayi tersebut kemudian ditemukan oleh dedemit dari sungai citarum yang kemudian dipelihara.

2. Misteri Ikan Aligator
Menurut cerita yang beredar di Waduk Jatiluhur juga pernah ditemukan tiga ekor ikan aligator seberat 5,8, dan 15 Kg, namun ikan aligator ini mempunya ciri-ciri yang aneh dimana ia memiliki kepala seperti buaya, bergigi tajam, memiliki lidah, serta sisiknya menyerupai ular.

Nahh… bagaimana, serukan ceritanya hahaha semoga bisa sedikit menambah wawasn tentang Waduk Jatiluhur, perjalan kami ternyata belum selesai sampai disini, karena kita akan tracking ke Gunung  Hawur, nah bagaimana cerita dan serunya perjalanan nanjak ke Gunung Hawur kalian bisa follow blog ini biar dulu biar menjadi orang yang pertama mendapat pemberitahuan. hihihihi

Sumber foto dan referensi:
Backpacker Karawang
*https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Jatiluhur
*http://misteritua.blogspot.co.id/2017/07/kisah-misteri-penguasa-waduk-jatiluhur.html
*http://misteriduniawi.blogspot.co.id/2013/09/misteri-ikan-aligator-di-waduk-jatiluhur.html

Tuesday, January 16, 2018

Ngopi Ndingin : Tempat Nongkrong Asik di Selatan Pemalang

Pas pulang dari Guciku Hot Water Boom sepanjang jalan kami kehujanan, karena tidak bawa mantel akhirnya kami harus ngiup. pas udah reda baru jalan, namun hujan kembali turun lagi pas dijalanan yang jauh dari pemukiman, temen saya yang mengendarai sepeda motornya seketika langsung basah semua dalam hitungan detik, beruntunglah saya yang berlindung di belakang punggungnya hahaha.... Karena jacket satu-satunya tidak boleh harus basah saya yang kepanikan spontan menepuk nepuk punggung temen saya dengan tanpa dosa untuk sesegera mencari tempat ngiup lagi.

Sekretariat Mecedez Benz Pemalang

Sebenernya sangat kasian sekali, melihat temen yang sudah kepalang tanggung basah kuyup harus berteduh lagi karena pasti akan terasa dingin sekali, terlihat juga dari tangannya yang mulai keluar cabe-cabeanya, tapi apa mau dikata, dibilang egois mungkin saya egois, tapi jacket satu-satunya ini tidak boleh basah, karena besok harus dibawa ke Gunung Prau Dieng.
Hujan mulai reda lagi dan kami kembali melanjutkan perjalanan pulang, namun lagi-lagi di tengah jalan hujan kembali turun lagi.,... Aaarghhh.....


Mau gak mau kami harus berteduh lagi, namun di perteduhan kali ini kita jadi ketemu sama tiga teman kami, sebenernya masih ada satu lagi, tapi sepertinya dia sudah ngacir pulang duluan lewat jalur pertama kami berangkat, sedikit khawatir karena dia merupakan anak yang jarang pergi-pergi jauh...
Di tempat perteduhan, kali ini kami mendapati sebuah warung, kami yang kelaparan langsung mendekatinya dan memesan sepiring gado-gado dan segelas teh hangat, rasanya pas, atau mungkin karena badan kami yang sedang kedinginan dan perut yang sedang lapar.
Cukup lama kami menunggu hujan kembali reda disini, sampai numpang kecing dan segàla macem, dan kira-kira sekitar jam 16:30 kami kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di Jl. Raya Moga-Randudongkal temen saya menghentikan laju kendaraanya dan bertanya :

"Ini warung apaan si wa?"
"Tempat ngopi mbok, kae ana tulisane."
"Pada nyoba yuhh wa, penasaran nyong"
"Aku si ayuhh baen.."

***
"Ngopi ndisit yuhhh...?"
Teriak temen saya
"Wis Sorelahhh"

"Yawis balik ndisit baen wa, lagiyan kan pakaiane lagi klebes"

"Kan angger digawa ngopi latan anget wa"

Saya yang dari sepanjang jalan merasa berdosa seketika langsung luntur rasa bersalahnya, mendengar temen saya yang ternyata tidak mengeluhkan penderitaanya karena basah kuyup dan menggigil. Hahahaha

Sebenernya saya juga sudah lama penasaran dengan tempat ini, selain lokasinya yang tidak jauh dari rumah, kalau dilihat dari luar tempatnya juga sepertinya asik buat santai, apalagi jarang-jarang di Pemalang Selatan ada warung kopi macam begini.

Biar gak penasaran dan mumpung masih di rumah, malamnya sekitar pukul 19:00 WIB kami dengan sengaja kembali ke Ngopi Ndingin, meskipun dalam keadaan masih gerimis, tapi selain penasaran pengin nyobain, listrik dikampung juga lagi padam, jadi sekalian mau numpang ngecash hape hehehe...

Ngopi Ndingin 
Ngopi Ndingin alias ngopi dulu, merupakan  warung kopi sekaligus sebagai sekretariatnya Mercedez Benz W202 Club Indonesia, terlihat dari banner di belakangnya..

Saya tidak tahu profil lengkapnya, karena malu juga mau nanya-nanya sama ke kasirnya, ntar dikira kepo atau caper lagi, dan niat saya datang kesini juga untuk santai setelah tadi capek seharian dan ingin mencicipi menu kopinya.

Di warung atau cafe Ngopi Ndingin ini kalian bisa mencoba berbagai macam jenis kopi, seperti kopi Kopi Bandung Arabika / Robusta, Sumatra Arabiaka / Robusta, Kopi Lampung, dan Spesial Ngopi Ndingin
Dan untuk teman ngopi alias cemilanya, ada seperti mendoan, kentang goreng dan lain-lain, ada juga jus, jadi kalian bisa datang kapanpun saat cuaca dingin maupun panas.

Ngopi Ndingin

Kalau menurut lidah saya, untuk rasa kopinya tidak jauh beda seperti kopi-kopi biasanya, dan setahu temen saya kalau kopi-kopi dikelas cafe itu tidak berampas, sedangkan disini kopinya masih ada ampasnya.
Tapi lumayan sih untuk sekelas di pedesaan, dengan harga yang murah tidak lebih dari 10.000/Gelas kalian bisa santai atau ngungpul bareng teman-teman disitu dengan nuansa pedesaan.

Dengan tempat duduk dan meja yang menurut saya vintage banget, justru malah cocok untuk memberikannya suasana damai, hanya saja perlu agak sedikit dirapihkan lagi tatananya.

Selain itu gazebo-gazebo yang ada diluar yang sudah rimbun oleh dedaunanpun sangat menarik untuk menikmati kopi, kalian akan merasakan seperti berada di  dalam hutan.

Ngopi Ndingin Moga

Sebenernyanya saya pengin nyobain disitu, çuman karena tidak ada colokannya jadi terpaksa saya pilih temoat yang di dalam.

Dan spot ngopi lainya adalah di atas sebuah mobil rusak, ini sangat Instagramable sekali sih kalau menurut saya, apalagi dengan background yang gak kalah epic pemandangan bukit boloe wayang dibelakangnya.

Sumber : @Ngopindingin
Ok jadi buat kamu yang lagi nyari tempat ngopi atau nongkrong bisa cobain datang di Ngopi Ndingin, yang beralamat di Jl. Raya Randudongkal - Moga Km 6 Samping SPBU Kebanggan
Pemalang, Jawa Tengah 52354

Informasi selengkapnya bisa kepoin di Instagramnya @Ngopindingin tapi sebelum tu follow dulu iGnya admin yahh hahahaha
#KulinerPemalang #ExplorePemalang #WisataPemalang

Thursday, January 11, 2018

Nyobain Guciku Hot Water Boom : Pemandian Air Panas Guci

Hai....hai...hai... Ketemu maning karo nyong.... Masih edisi jalan-jalan akhir tahun 2017, setelah kemaren berhasil melepas rindu di Bumi Purwokerto dan jalan-jalan ke Curug Nangga yang mempunyai 7 tingkatan curug dan pemandangan sawah yang gak bikin pengin pulang, kali ini gue mau nyobain salah satu wahana baru juga yang berada di area Pemandian Air Panas Guci Tegal, yaitu Guciku Hot Water Boom

Guciku Hot Water Boom Tegal

Wisata Guci adalah wisata pemandian air panas asli yang bersumber dari mata air Gunung Slamet, Guci sangat terkenal dengan sumber mata air panasnya, sehingga tak jarang banyak wisatawan-wisatawan yang berkunjung kesitu untuk menikmati kehangatan airnya yang bikin badan jadi segar dan bugar.
Selain itu mandi di Air Panas Guci juga memiliki mitos bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, seperti panu, kadas dan kurap, so buat kamu menderita penyakit kulit wisata ini sangat cocok buat kalian, asal datang dengan niat yang tulus dan hati yang ikhlas Insa Allah sembuh, karena Air Panas Guci mengandung banyak belerang yang mampu membasmi jamur-jamur dikulit.

Tetapi ada juga banyak yang mengatakan kalau Air Panas Guci sudah tidak ampuh lagi untuk mengobati penyakit kulit, karena sudah banyaknya kemaksiatan di area wisata guci. Kalau menuut gue hal ini memang sangat masuk akal jika dipandang dari sudut mistis namun kalau secara medis belerang tetaplah ampuh sebagai obat kulit.

Ada beberapa area pemandian yang menurut saya sangat kurang untuk bisa menampung orang banyak, apalagi ketika weekand atau libur panjang, dimana banyaknya wisatawan yang datang, membuat lokasi pemandian penuh sesak karena lokasinya yang kurang luas, dan hal ini bikin mod buat mandi jadi hilang, apalagi dengan lokasi yang dicampur untuk semua umur, dari anak kecil sampai kakek-kakek sedangkan kebanyakan yang mandi adalah ibu-ibu dan bapak-bapak kadang kita yang muda jadi males....

Mungkin bisa kali ya dibuatkan lagi lokasi yang lebih luas?.

Jàdi kadang saya lebih memilih untuk berenang di kolam renang, dengan merogoh kocek lagi Rp. 15.000/Orang. Namun lagi-lagi saya kurang puas karena sangkin banyaknya pengunjung yang membuat saya merasa tidak nyaman.

Untuk menjawab kegelisahan itu mungkin dinas pariwisata juga memikirkan hal yang sama, kalau area Pemandian Air Panas Guci kurang luas, sehingga dibuatlah sebuah wahana baru, yaitu Guciku Hot Water Boom.
Yaitu sebuah wahana permainan air yang sangat luas kurang lebih sekitar...... ????

Lokasinya sebelum masuk ke Wisata Guci kalian belok kanan, ada penunjuk arahnya kok.
Mungkin karena liburan jadi pengunjung sangat ramai sekali waktu itu, sempet tidak jadi masuk sihh karena melihat sesaknya kolam yang dipenuhi dengan lautan manusia, dan sedangkan gue pengin berenang di kolam yang lumayan dalam dan sepi.

"Mas ada kolam yang dalam ngga?"
"Ada mas"

Akhirnya kami masuk dengan harga tiket masuk 30.000/Orang termasuk murah.

Kami berjalan sampai keujung, namun tidak kami temui kolam yang mempunyai kedalaman minimal 2 Meter, dalam hati sempat kecewa sihh.. namun tak apalah daripada penasaran terus.
Akhirnya mau nggak mau gue harus menikmatinya, meski jadi agak sedikit males, lokasi waktu itu benar-benar ramai sekali, apalagi pas kami mau sewa karpet buat naruh pakaian kami ternyata sudah habis.

Jadi menurut gue Guciku Hot Water Boom ini sangat cocok banget buat wisata keluarga, terlihat para pengunjung yang datang juga kebanyakan keluarga semua, jadi sedikit baper juga sihh ketika melihat ayah sama anaknya asik bermain air, jadi mikir "kapan gue bisa kaya gitu" jadi mikir juga "gue harus cepet-cepet nikah dan punya anak" hahaha...
Sumpah jujur diusia yang hampir 30 gue lebih baper melihat orang yang sudah berkeluarga dibanding muda-mudi yang sedang berpacaran, semesra apapun orang berpacaran gue sama sekali gak pengin, malah jijik lihatnya ... 
Wisata Keluarga

Kolam Pertama adalah setelah pintu masuk, tidak begitu luas, dan kolam kedua adalah dipaling ujung, dari kolam satu ke kolam dua disambungkan dengan aliran yang dibuat seperti sungai kurang lebih panjangnya sekitar 300meteran ada, sampai di kolam dua lokasinya agak kebawah sehingga untuk sampai ke bawah kalian bisa seluncuran hehehe asik sihh buat seru-seruan...

Taman Rekreasi Keluarga

Kolam ini yang paling luas, sebelah timur terdapat penginapan bertingkat, dengan dasar atau lantai satu sebagai tempat untuk pengunjung kolam menaruh barang-barangnya, dan lantai duanya sebagai penginapannya.

Disebelah utara kolam, terdapat juga beberapa penginapan, yang menurut gue lebih enak dan asri dari penginapan sebelah selatan yang tadi, sedangkan disebelah timur kolam adalah sebuah cafe atau rumah makan.
Iya jadi sekeliling kolam diisi dengan beberapa fasilitas, kalau menurut gue jadi kurang gimana gitu... Kurang instagramable buat foto-foto, susah untuk mengambil pemandangan terindah Guci yang notabennya pemandangan alam, tapi atau mungkin guenya kali yang tidak bisa jadi fotographer, soalnya di web tetangga ada foto yang bagus.

Sedangkan fasilitas di dalam kolam renangnya terdapat semacam permainan outbond dari ujung ke ujung yang bisa juga diperuntukan untuk anak-anak.
Karena itu diperuntukan untuk anak-anak jadi pas saya coba, ya jadi dengan sangat mudahnya gue melewatinya hehehe

Outbond Guciku

Permainan di Kolam Renang Guciku

Panjat Tebing Guciku

Selain itu ada juga flying fox di tengah kolam renang, kalian bisa bayangin sendiri suasana kolam jadi kaya gimana dengan banyaknya fasilitas di dalamnya, flyng fox ini bisa juga untuk semua umur.
Karena adanya flying fox ini saat kalian asik bermain di kolam ini harus perhatikan jangan sampai lalai di area flying fox karena bisa-bisa kamu kena tendangan maut saat ada yang sedang flyng.

Guciku Hot Water Bom


Tips persiapan sebelum ke Guciku Hot Water Boom.
1. Jangan lupa bawa handuk, pakaian ganti dan peralatan mandi.
2. Jangan datang sendirian, bawa keluarga atau pasangan.
3. Bawa tiker atau matras sendiri biar tidak usah sewa, tapi kalau hari biasa sepertiñya tidak usah tidak apa-apa karena pasti ada lantai yang kering.
4. Bawa bekal sendiri, karena harga makanan di dalam mahal.
5. Jangan lupa kamera dan lain-lain.

Nantikan video perjalananya di chanel youtube kami, see u next trip

Thursday, January 4, 2018

Curug Nangga : Pesona 7 Tingkatan Curug di Banyumas

Liburan akhir tahun sudah saya rencanakan jauh-jauh hari semenjak terdengarnya rumor akan ada libur sepuluh hari dari kantor, ya di tempat kerja saya yang sekarang kadang kalau ada hari-hari kecepit selalu diliburkan dengan memotong jatah cuti karyawan, sebenernya rugi sih buat karyawan kontrak macam saya yang belum dapat cuti, karena gaji akan dipotong pas akhir kontrak nanti, tapi keuntunganya bisa libur panjang hehehe....
Libur akhir tahun ini rencananya saya pengin napak tilas ke Bumi Purwokerto, karena selama 5 tahun pas tinggal di Purwokerto banyak sekali kenangan-kenangan yang belum bisa saya lupakan, sampai saat ini dan detik ini…

Namun, main ke Purwokerto sekarang sudah tak seenak dulu, karena semua temen-temen seperjuangan dulu sudah pada pergi, balik ketempat tinggalnya masing-masing.
Sudah mencoba menghubungi sana-sini tidak ada satupun yang sekiranya masih tinggal di Purwokerto dan mau diajak buat jalan-jalan, agak sedih dan nyesek sihh ketika semuanya sepertinya sudah move on dan sudah pada nikah semua, sementara saya masih sendiri dan malah sibuk asik dengan hobi jalan-jalanku, sebenernya agak ragu mau menghubungi "Farikh" temen yang kemaren baru saja menikah.

“Nangendi Bro”
“Nang umah bro, kapan dolan ngeneh ditakokna biyunge kye”
“Rencanane si ngesuk aku rep dolan pwt bro”
“Duhhh jan… esuk aku meng Kudus bro,… Nawan rep nikahan…..” 

Nawan adalah adik angkatan waktu masih kuliah, tapi kita bisa akrab karena saya lulus telat dan masih banyak yang harus diulang disemester bawah, hingga akhirnya kita sibuk ngerjain skripsi bareng.
Farikh adalah satu-satunya temen yang masih bisa diajak jalan meskipun baru saja menikah, tapi karena dia harus pergi akhirnya niat untuk ke Purwokerto hari itu saya undur sampai menunggu dia pulang.

***

“Wis bali hurung bro”
“Wis… ngeneh dolaaan…”
“Oke esuk aku dolan….”

Pagi itu langsung meluncur ke Desa Cilongok Banyumas, sebenernya mau ngajakin ini orang buat jalan-jalan di Baturraden, namun karena ada lain hal, yaitu harus ngebalikin mobil sodaranya yang habis dipinjem akhirnya niat buat jalan-jalan di Baturradenpun saya urungkan.

“Bro.. terna aku delat ya, njujugna mobil, ngko ko ngintil nang mburiku ngetutna mobil, sekalian ngko rep pada dolan meng Curug Nangga, koe rung pernah mana mbok?”
“Emang perek bro”
“Perek, searah karo umahe yayuku”

Dari pada nggak tau mau ngapain, akhirnya saya nurut aja mengikuti ajakanya, sampai akhirnya sampailah kita di Curug Nangga.

Curug Nangga

Curug Nangga terletak di Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen (Ajibarang), Kabuapaten Banyumas.

Curug Nangga adalah Curug yang  mempunyai 7 (Tujuh) tingkatan seperti tangga, dari situlah orang-orang menamakan curug tersebut sebagai Curug Nangga, ketinggian Curug Nangga masing-masing memiliki sekitar 10-20 meter.
Curug Nangga merupakan Objek Wisata baru yang ada di Banyumas, yang mulai rame dikenal secara umum sejak tahun 2015, berkat banyaknya yang share melalui media social, ya keberadaan media social memang berperan sangat penting sebagai media marketing saat ini.

Curug Nangga memiliki pesona pemandangan yang sangat memikat, dimana dengan lokasinya yang berada di tengah-tengah persawahan yang luas dan hijau, pohon-pohon bambu yang melambai-lambi di bibir Curugpun menambahkan suasana asri yang natural.

Akses dan Transportasi ke Curug Nangga
Akses dan transportasi untuk menuju ke Curug Nangga kalian bisa menggunakan kendaraan pribadi karena belum adanya transportasi umum yang menuju kesana, atau kalau kalian terpaksa datang dari jauh kalian bisa menggunakan jasa ojek atau carter mobil dari pertigaan jalan atau pangkalan ojek Desa Cikawung.
Kalian bisa melewati jalan raya Tegal – Purwokerto, sampai ketemu Desa Cikawung, Pekuncen. Atau tepatnya sampai menemukan PO. Bus Sumber Alam atau RM Sumber Alam, kurang lebih sekitar 100M terdapat pertigaan, jika dari arah Tegal belok kanan dan sebaliknya, kemudian lewati jalan tersebut  sampai menemukan desa Semedo dan Desa Petahunan, tak perlu takut kesasar, karena sepanjang jalan sudah terdapat papan petunjuk arah menuju Curug Nangga.

Rute ke Curug Nangga

Sepanjang perjalanan kalian akan menemukan jalan yang nanjak banget, so pastikan kendaraanmu aman dan sudah di service.

Akses lain menuju Curug Nangga adalah lewat Karangkemiri belok kiri dijalan kecil sebelum Masjid Karangkemiri kalau dari arah Ajibarang, katanya kalau lewat Karangkemiri jalan tidak begitu nanjak, namun sepertinya warga lebih mudah melewati jalur umum.

Sampai di parkiran Curug Nangga kurang lebih sekitar pukul 13:00 WIB, Harga tiket masuknya 10.000/orang dan parkir 3.000/motor. Ada sedikit kenaikan karena sebelumnya hanya 5.000/orang (kata Farikh)

Jarak dari tempat parkir ke Curug Nangga lumayan jauh sekitar 15-20 menitan, kalian akan melewati persawahan, tracknya  turun dan sangat mudah dilalui karena sudah dikelola dengan baik berkat kerja keras Forum Sadar Wisata dan sumbangan dari Bupati Banyumas.

Di tengah perjalanan terdapat Gazeba dan WC umum, untuk mengantisipasi tiba-tiba hujan dan sebagai tempat peristirahatan para pengunjung yang kelelahan, selain itu sepanjang jalan menuju Curug Nangga juga terdapat beberapa tempat sampah, hal ini mengajarkan kita untuk tidak membuang sampah sembarangan meskipun ditengah persawahan.

Adanya WC juga mengajarkan kita untuk tidak BAB sembarangan hahaha… 

Track ke curug nangga

Setelah melewati turunan yang cukup panjang akhirnya sampailah kita di Curug Nangga, cukup sedikit susah untuk mengambil pemandangan terindah Curug Nangga, karena harus geser sedikit ke persawahan, sedangkan pas waktu itu sawahnya sedang dalam proses pembajakan jadi masih mbelet hahaha (takut dimarahin pemiliknya)

Curug Nangga Petahunan

Cukup lama kami duduk-duduk santai di area Curug Nangga, menikmati indah dan gemerciknya Curug Nangga serta semilirnya angin sawah yang terus berhembus tanpa henti… saya memang kangen suasana seperti ini, sudah lama semenjak merantau jarang bahkan sudah tak pernah lagi nengokin sawah dibelakang rumah.

***
Sekitar pukul 14:30 WIB akhirnya kami menyudahi lamunan kita di Curug Nangga dan kembali ke atas, dengan menaiki tanjakan-tanjakan yang bikin ngos-ngosan, ya kalau turunya tadi enak tapi nanjaknya meenn….
Yang saya suka dari Wisata Curug Nangga adalah kealamianya yang sangat terjaga, tidak banyak fandalisme maupun coretan-coretan alay.

Warung di Curug Nangga
Untungnya di Curug Nangga masih terdapat warung yang masih Istiqomah berjualan disitu, setelah dulu katanya beberapa tahun kebelakang banyak sekali warung-warung yang berjualan disepanjang Curug Nangga karena banyaknya pengunjung, ya sekitar tahun 2015 pas Curug Nangga lagi ngehits-ngehitsnya, banyak sekali dari warga sekitar yang mengais rejeki dengan berjualan di sepanjang jalan menuju Curug Nangga dengan menyewa lokasi, namun karena pengunjung sekarang tak seramai dulu akhirnya satu persatu dari mereka berhenti, dan masih tersisa satu yang memang punya lokasi sendiri disitu alias tidak nyewa.
Lokasi warungnya sangat strategis, bisa menyajikan pemandangan sawah yang hijau nan luas serta pemandangan Curug Nangga dari jauh.

Warung di Curug Nangga

Segelas es teh manis langsung saya pesan, dan gorengan mendoan khas Banyumaspun ditawarkan, kami langsung mengiyakan karena mendoan seperti sudah menjadi makanan wajib kalau jalan-jalan ke Banyumas, mendoanya enak dengan kecap campur cabai seperti makan sate.

Curug Nangga pekuncen


Pemandangannya sangat indah, tempat duduk yang terbuat dari bambupun menjadi khas gubuk dipersawahan, membuat kami enggan untuk pulang, dan sebagai pelengkap keindahan dan kenikmatan ini, sayapun menyalakan list lagu yang lagi jadi kesukaan di handphone saya...(Via Fallen_Aku cah kerjo.mp3)
Dan akhirnya kita ngobrol-ngobrol banyak sama pemilik warung tentang sejarah ngehitsnya Curug Nangga tempo dulu.
Pemandangan di Curug Nangga

Menurut beliau yang datang ke Curug Nangga bukan hanya dari wisatawan lokal saja, tetapi pernah ada juga wisatawan dari luar negri yang berkunjung kesitu, dan Curug Nangga biasanya ramai dikunjungi setiap weekend namun hari-hari biasapun tak kurang dari 20 sampai 30 ada yang berkunjung.

Selain itu kadang juga banyak rombongan-rombongan dari komunitas maupun instansi yang sengaja berkunjung kesitu.

FYI makan disini nggak nyesel karena harganya masih standar, karena sang pemilik warung tidak ingin membut tamunya kecewa dengan mematok harga yang tak wajar.

Wisata Sekitar Curug Nangga
Kata pemilik warung, selain Curug Nangga masih terdapat juga Curug lain yang ada di sekitar Curug Nangga, yaitu Curug Pengantin dan Curug Rinjing

Sumber referensi : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Curug_Nangga
http://banyumasnews.com/86477/wow-wisatawan-asing-pun-sudah-sampai-ke-curug-nangga/