Wednesday, January 31, 2018

Prau Via Patak Banteng 2.562 Mdpl (Trekking Malam Hari)

Gunung Prau Dieng merupakan gunung dengan ketinggian 2.562 mdpl yang terletak di dataran tinggi Dieng, atau tepatnya di titik kordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT. Gunung Prau juga  merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

Gunung Prau merupakan padang rumput yang luas, yang memanjang  dari barat ke timur, yang memiliki pemandangan yang sangaaaaaaat indah, iya kamu betul, pemandangan Gunung Sindoro Sumbing yang terlihat dari puncak Gunung Prau terlihat begitu gagah dan mempesona, membuat orang kemudian berencana ingin mendakinya, seperti saya contohnya hehehe

Pendakian Gunung Prau

Meskipun mempunyai ketinggian yang lumayan tinggi yaitu 2.565 Mdpl namun Gunung Prau merupakan gunung yang pendek, hal ini dikarenakan Gunung Prau sudah berada didataran tinggi, jadi untuk melakukan pendakian ke Gunung Praupun hanya dibutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan, namun meskipun pendek, jalur pendakian Gunung Prau merupakan jalur pendakian yang kejam, dimana sepanjang jalan pendakian kita tidak mendapatkan bonus landai satupun, tapi tentu sangat seru dan menjadi tantangan tersendiri buat pendaki pemula seperti saya.

Gunung Prau memiliki tiga jalur pendakian yaitu :
- Jalur Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang
- Jalur Patak Banteng, Wonosobo
- Jalur Kenjuran, Kendal.

Dan yang mau saya ceritakan disini adalah jalur via Patak Banteng.
Pendakian ke Gunung Prau sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, yang menjadi salah satu destinasi liburan akhir tahun saya di tahun 2017, jarak dari tempat saya tinggal menuju ke Gunung Prau hanya memakan waktu 4-5 jam jika dilihat dari Map, maka dari itu perjalanan kesana saya putuskan untuk menggunakan sepeda motor saja, lagian sepertinya bakalan ribet kalau menggunakan transportasi umum dari sini, tapi kalau kalian ingin menggunakan transportasi umun, kalian bisa naik trayek ini :
- Dari Jakarta Terminal Kp. Rambutan – Wonosobo – Batak Banteng
- Dari Pemalang
Pemalang  Selatan – Purbalingga – Wonosobo
Pemalang Kota – Pekalongan – Wonosobo 

Saya memulai perjalanan dari rumah (Pemalang Selatan) sekitatar pukul 11:00 WIB dengan ditemani sahabat saya asep, dan sampai di Gunung Prau sekitar 17:40 WIB pas menjelang Maghrib, perjalanan menjadi lambat karena kita banyak berhenti untuk membeli logistik, sholat, dan makan siang sambil ngiup karena sempat kehujanan juga.
Sepanjang perjalanan sempat bingung, hanya mengandalkan penunjuk jalan dan feeling saja, sedikit takut salah jalan, sehingga pas ketemu gerbang menuju kawasan Dieng, kami sempatkan untuk berhenti dan bertanya.

"Mas Gunung Prau kesana ya..?
"Iya”
"Mau ke Gunung Prau aja, apa mau ke Dieng Juga???"
"Prau Doang mas"
"Perorang 10.000"
"Haaaaa.....(Dalam hati) saya tetiba shock ditengah jalan dimintai retribusi.

Padahal kan masih jauh, kenapa dimintain bayaran, sedangkan yang lain tidak, tapi begonya saya juga si pakai berhenti disitu segala, tapi aneh juga si, kan tujuan saya Gunung Prau, dan sedangkan dulu waktu ke Dieng pun gak dimintain karcis ditengah jalan, toh ketika kita masuk wisatanyapun kita bayar lagi, walah nggak bener ini...
Mau nggak mau akhirnya saya mau bayar aja 20.000 namun dia minta katanya 10.000 aja, yaudah Alhamdulillah.
Pas sudah hampir dekat, tepatnya dijalanan yang nanjak dan berkelok-kelok kami diragukan dengan gunung yang berdiri tegap dibelakang kami "jangan-jangan kami salah jalan ni"

"Bro kita nanya orang dulu ya, sambil beli nasi buat makan di sana"

Kita memang gak bawa perlengkapan lengkap seperti biasanya, karena jarak tempuh pendakian yang dekat.
Kami beli nasi dengan lauk yang dipisah, antisipasi agar tidak bau.

"Mas mau kemana"
"Prau mas"
"Ohhh sama"
"Dari mana"
"Dari Semarang mas"
"Cuman berdua ya"
"Iya mas"
"Yaudah bareng aja kalau gitu"

***

"Mas, kalau itu gunung apa ya mas" sambil menunjuk gunung dibelakang arah jalan kami.
"Gunung Merbabu mas"
"Ouughhh.... Kalau Prau kemana mas???"
"Kesamaan mas, lurus terus aja_

"Ok terima kasih mas"

***

Bocah kurus dan gemuk bersama motor Supranyapun akhirnya ikut dengan kami, meskipun posisinya terbalik dia saya suruh di depan dan saya dibelakang ngikutin dia hahaha, rencananya sih mau saya jadiin bahan buat bullyan disana, secara dia menakutkan banget mengendarai motornya hahaha.... Kalian bisa bayangin, di jalananan yang nanjak ada dua orang pendaki dengan membawa dua carieer, satu di depan, dan satu di belakang, menggunakan sepeda motor Supra, dengan posisi bawa cariernya saja sudah susah, ditambah pas nurunin gigi motornya itu gak mulus alhasil yang dibelakang seperti mau ngejengkang ke belakang, dan saya yang dibelakangnya cuman bisa ngeri dan ketawa hahaha…. Sampai-sampai sangkin ngerinya pas ditikungan ada rame- rame orang yang sedang bergerombol saya kira dia kecelakaan… Astagfirulahhaladzim 


17:40 WIB : Akhirnya kami sampai di pintu gerbang pendakian Gunung Prau Via Patak Banteng, Posisinya disebelah kanan jalan, di depanya ada lapangan, dan karena waktu itu lagi rame-ramenya, jadi kami memarkirkan motornya dilapangan dengan biaya 10.000/Orang.

Prau Via Patak Banteng

Kami terus berjalan, bersama para pendaki-pendaki lainya, sambil tengok kiri tengok kanan mencari basecamp Gunung Prau untuk melakukan pendaftaran atau simaksi.
Karena pengunjung  atau pendaki yang begitu banyak dan kondisi sudah mulai gelap dan juga karena kesotoyan kami yang masih saja terus berjalan alias nggak mau bertanya, akhirnya kami sampailah di post I ( Pos Sikut Dewo) 

Di post I ternyata ada pemeriksaan karcis kembali untuk mengantisipasi pendaki yang illegal, nah disinilah kami tercyiduk, dianggap pendaki illegal dan tak tau aturan.
Saya yang memang salah tidak bisa ngomong apa-apa, ngeles atau minta ampunpun seakan percuma, karena ya memang kami tolol, tidak mau bertanya.
Akhirnya dengan berat hati mau tidak mau kami harus membayar denda dua kali lipat dari harga tiket masuk. Hmmmm

Pos satu gunung prau

Tapi jujur sepajang perjalanan dari gerbang Patak Banteng menuju post kami terus mencari-cari keberadaan basecamp Gunung Prau untuk melakukan pendaftaran.

***

Jalanan mulai gelap, sialnya headlamp yang saya bawa tidak bisa digunakan alias rusak, padahal sudah saya beli 5 buah baterai, terpakasa menggunakan batrai handphone.
Meskipun mendaki dimalam hari, namun sama sekali tidak merasakan takut, tidak seperti saat digunung-gunung yang lain, di Gunung Slamet Misalnya.

Pendakian malam di Gunung Prau

Kami terus berjalan dengan perlahan namun pasti, karena kelamaan berhenti saat mendaki bukan ide yang bagus menurut  saya.
Seperti yang sudah sedikit saya sampaikan diawal, trek Gunung Prau sangat nanjak, namun sangat mudah untuk dilalui, karena sudah adanya bantuan pijakan-pijakan yang dibuat oleh bambu, 

Sekitar kurang lebih 3 Jam perjalanan sampailah kami di Puncak Gunung Prau, namun spot atau lahan – lahan untuk mendirikan tenda sudah penuh berpenghuni semua.

Spot untuk mendapatakan pemandangan paling indah adalah disebelah barat, namun sudah tidak terdapat lokasi yang rata, namun demi bisa mendapatkan pemandangan yang indah, akhirnya kamipun terpaksa mendirikan tenda di lokasi yang miring.

Meskipun malam hari, suasana digunung prahu seperti waktu menjelang subuh, dimana masih bisa terlihat dua Gunung Sindoro Sumbing yang mejadi primadona di Gunung Prau.

Di puncak Gunung Prau udaranya sangat dingin, untungnya selain membawa jaket yang tebal, kami juga membawa selimut dan bantal, hanya saja tempat tidur kita kurang nyaman karena miring.
Namun meskipun demikian, dinginya Gunung Prau masih saja terasa, sampai-sampai sayapun tak berani lama-lama keluar teda, dan memilih untuk tidur agar badan hangat.

Buat kalian yang mau mendaki Gunung Prau, jangan remehkan dinginya dataran tinggi Dieng, wajib sekali bawa bawa sleeping bag atau pakian hangat lainya.

Meskipun malam ini malam pergantian tahun, namun saya sama sekali tidak peduli dengan moment itu, lagian para pendaki juga dilarang untuk membawa kembang api kepuncak, so pas tepat pukul 00:00 saya cuman bangun sebentar karena banyak yang teriak dingiiin….dingiin… kemudian saya kembali masuk ketenda dan tidur.

Pukul 15:00 WIB para pendaki sudah pada ramai menungu terbitnya matahari pertama di tahun 2018, meskipun udadara lebih sangat dingin tapi moment inilah yang ditunggu tunggu oleh setiap pendaki, dan inilah matahari pertama di Tahun 2018.

Sunrise Gunung Prau

Prau Dieng

Puncak Gunung Prau

Trekking Jalur Prau

Pesan dan Kesan
- Pemandangan di Gunung Prau sangat indah membuat saya pengin balik lagi berkunjung
- Tempat sampah para pendaki yang ditampung dibawah dekat Basecamp sepertinya terlalu lama tidak diangkut, sehingga menumpuk sangat banyak dan menimbulkan pencemaran udara dan tidak enak dipandang

Hi... terima kasih sudah berkomentar
- Jangan lupa Check Notif Me. Untuk informasi balasan.

For business inquiries
zainalmutakin.pml@gmail.com
EmoticonEmoticon