Saturday, March 24, 2018

Nasi Padang Recommended di Kawasan Pendopo Karawang

Awalnya kenapa bisa ketemu dengan Nasi Padang yang lokasinya mojok tidak kelihatan ini ketika saya hendak trip kedua ke Parang Gombong, yang dilanjutkan dengan mengunjungi Curug Tilu, yang katanya  merupakan Green Canyonnya Purwakarta.

Karena di sepanjang jalan kenangan Cikarang-Karawang tidak menemukan satupun tempat makan yang bikin kita pengin mampir, sampailah kita di Pendopo Karawang.

Muterin Pendopo Karawang tidak menemukan satupun tempat makan yang kelihatanya enak, dan pas mau mampir ke Indomaret buat belanja logistik, eh taunya ada warung Nasi Padang nyempil di sampingnya.

Tidak begitu kelihatan karena di depanya ada penjual gorengan juga.

Karena tidak ada pilihan lain, makanlah kita ke Warung Nasi Padang tersebut.

Satu porsi Nasi Padang dengan lauk Ayam Bakar tanpa Nangka saya pesan.
Biasanya pagi-pagi sekitar jam 9 saya tak biasa makan berat sampai selahap ini, karena perut akan mules-mules, tapi disini, satu porsipun akhirnya habis tanpa sisa, tapi karena sambelnya yang enak.

Kuliner Karawang

Pendopo Karawang

Seminggu berlalu, sayapun berniat kembali ke Cikarang untuk mengembalikan buku yang sudah lama saya pinjam milik Backpacker Karawang, sebenernya lagi males waktu itu ke Karawang, tapi karena kebayang Nasi Padang yang sambelnya bikin nendang itu akhirnya dengan semangat empat lima saya kembali lagi ke Karawang dan makan lagi di sana untuk yang kedua kalinya.

Rasanya masih sama, seperti rasa yang pernah dia berikan sebelumnya, dan yang bikin wow, kali ini bapaknya memberikan sambelnya dengan ditaruh di piring, dengan dua macam sambal, hmmm mugkin karena kami pesan Ayam Bakar dan Ayam Sayur kali yahh jadi sambelnya di bedakan menjadi dua.

FYI buat kalian yang suka baca buku, tapi males pinjam buku di perpustakaan, kalian bisa datang ke Pendopo Karawang saban hari sabtu di perpustakaan jalannya Backpacker Karawang, disana kalian bakal ketemu sama temen-temen dari Backpacker Karawang yang doyan baca buku dan hobi jalan-jalan.

Kalian boleh baca buku di sana (gratis) pinjam juga boleh asal dibalikin, gabung di komunitasnya juga boleh banget, karena komunitas ini sangat berfaedah sekali, apalagi buat kalian yang jomblo, dijamin tidak merasa kesepian lagi, karena kalian bakalan ketemu sama jomblo-jomblo fisabillilah di komunitas ini yang selalu mengisi waktunya dengan hal-hal positif.

Main di Pendopo Karawang ini juga tidak perlu takut batrai lowbat karena banyak colokan yang sengaja disediakan :D

Intinya gaes buat kalian yang lagi bingung nyari tempat makan siang disekitaran pendopo Karawang, Nasi Padang ini menurut saya recommend, karena dua kali saya makan di sana tidak menyesal.

Wednesday, March 21, 2018

Senja di Bukit Bulak Cempaka Bumijawa


Senja itu selalu romantis, senja itu selalu mengingatkan pada seseorang, dan senja itu  “Kamu” yang tak lagi sama. (zen)

Bukit Bulak Cempaka

Bukit Bulak Cempaka adalah sebuah perbukitan yang berada di Desa Cempaka Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal Jawa Tengah, dan merupakan rangkaian perbukitan yang berjajar di Wilayah Bumijawa Bagian Barat. yang berbatasan dengan Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes.

Bukit Bulak Cempaka terbilang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan perbukitan lain yang ada di Bumijawa, ini karena letaknya yang berada di Bumijawa Bagian Barat.

Bukit Bulak Cempaka memiliki ketinggian sekitar 700 Mdpl yang di kelola oleh  pemuda sadar wisata setempat dan merupakan wisata baru yang lagi hits, yang  menawarkan pemandangan  alam dan senja yang begitu indah.
Di Bukit Bulak Cempaka terdapat beragam Spot foto dan Gardu pandang, seperti Prahu, Rumah pohon, Sayap Kupu-Kupu, Menara Bambu,  serta saung-saung untuk beristirahat.

Rute dan Transportasi
Lokasi Bukit Bulak Cempaka berjarak sekitar 8,9 Kilometer dari Pusat Kota Bumijawa, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Jika dari arah  Tegal / Slawi tinggal menuju arah ke Bumijawa melewati jalur wisata Guci. sampai di Desa Tuwel ambil kanan menuju Bumijawa. Kemudian ambil Jalan Lingkar Selatan Bumijawa. Sampai di Simpang tiga Tunas Rimba Ambil Kiri arah Bumiayu. Sampai Ketemu desa Cempaka.

Jika menggunakan transportasi umum. dari terminal Tegal menuju Slawi menggunakan Elf Tegal - Slawi - Bumiayu PP / Tegal - Purwokerto. sampai di terminal Yomani Naik lagi Elf Tujuan Bumijawa.

Sampai di Terminal Pasar Bumijawa kemudian bisa naik angkutan Gunung Bak terbuka. menuju Desa Jejeg. Sampai di Jejeg naik angkutan perbatasan Jurusan Linggapura – Bumiayu dan turun di Desa Cempaka.
Jika dari arah Purwokerto / Bumiayu, Sampai di Simpang Pasar Linggapura ambil kanan arah Bumijawa.
Naik Angkot Linggapura - Jejeg dan turun di desa Cempaka

Tiket masuk BBC sangat murah, hanya Rp. 3000/orang (free tiket u/ anak/balita) dan Rp. 2000/ motor roda 2 serta antara 3000 - 5000 utuk  roda 4 atau lebih.

Sepanjang perjalanan kalian akan melewati hutan bambu, karena di Desa ini memang di sebut Kampoeng Bamboo dan kalian akan menemukan Tuk atau mata air yang dinamakan  Mata Air Mudal atau Tuk Mudal.

Banyak keindahan yang bisa anda temui ketika berkujung ke Bukit Bulak Cempaka diantaranya adalah Golden Sunrise di pagi hari seperti di Sikunir Dieng, Sunset. serta panorama senja yang menenangkan jiwa, alam yang masih asri dan terjaga membuat anda akan di hibur oleh nyanyian alam sepeti kicau burung dan binatang lainya, Lembah yang sangat indah, Taman Bunga yang mempesona dan gardu pandang yang bermacam-macam.

View Landscape wilayah Brebes Tengah dan selatan, hamparan pesawahan, pemukiman penduduk dan rangkaian perbukitan di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Warga Sekitar yang sangat ramah tamah.
Romantis

Saat berkunjung kesini jangan lupa untuk menikmati jajanan khas Desa Cempaka sambil moci-moci di gazebo-gazebo yang sudah di sediakan... Euuughhh dijamin mantappp

Selain itu anda juga bisa menikmati segar dan sejuknya Kawasan Telaga Tuk Mudal yang tidak jauh dari BBC yang mempunyai tujuh mata air asli yang pastinya bikin seger dan membuat betah berlama-lama disitu.
Anda juga bisa menginap atau bermalam di Bukit Bulak Cempaka. seperti Camping dan sebagainya. namun di Desa Cempaka yang memang sudah diresmikan sebagai Desa Wisata (Kampong Bamboo). untuk Camping disarankan di Bukit Brongkol, Bukit Mengger dan Bukit Cengis. yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Bulak Cempaka.

Kebahagiaan, Bukit Bulak Cempaka

Senja di Bukit Bulak

Bukit Bulak Cempaka menurut saya sudah cukup komplit. dimana di lokasi bisa mendapatkan rasa kebahagiaan. akan rasa sukur bahwa inilah Keindahan Alam anugrah dari Tuhan yang harus sama-sama kita jaga, rawat dan lestarikan.

Keberadaan Desa Wisata Bukit Bulak Cempaka dan para pengunjung sangat berperan aktif dalam menigkatakn kesejahteraan masyarakat setempat, so yukk jangan sampai ketinggalan sama yang lain.


Monday, March 19, 2018

Curug Tilu Sukasari Purwakarta

Trip ke dua Camping di Parang Gombong Purwakarta, paginya langsung menuju ke destinasi selanjutnya yang searah dengan jalan pulang, yaitu Curug Tilu.

Curug Tilu Ciririp Purwakarta

Curug Tilu terletak di Desa Ciririp, Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kalau dari Parang Gombong kalian tinggal lurus terus kearah barat atau arah Karawang, sampai menemukan pertigaan, kalian bisa ambil kiri, lurus terus kurang lebih sekitar 30 menitan, sampai kalian menyebrangi sungai, dari situ kurang lebih sudah 300an meter lagi ada papan ke arah Curug Tilu.

Lokasi Curug berjarak sekitar 1KM dari jalan utama, jadi sedekat-dekatnya curug yang bisa diakses dengan kendaraan, pasti diharuskan untuk tracking juga, so jangan manja.

Curug Tilu sudah dikelola dengan sangat baik oleh penduduk setempat yang menamakan diri KOMP@S ( Komunitas Pecinta Alam  Sukasari), lokasi parkir yang luas, aman, dan track ke curug yang gampang dilalui, meskipun harus menyebrangi sungai.

Harga tiket masuknya juga sangat murah, cuman 5000/orang, dan parkir 5000/Motor.

Karena waktu kami tak banyak, kami langsung berjalan ke arah curug, jalanya bagus banyak pohon bambu di kanan dan kiri, kami banyak menjumpai penduduk sekitar yang sedang memindahkan bambu ke jalan raya, yang sepertinya akan di jual.

Sekitar ± 100 Meter dari lokasi parkir sampailah kami di sungai, saya pikir sudah sampai, tapi ternyata kita masih harus berjalan lagi menyusuri sungai.

Disepanjang jalan kami menemukan kembali arah menuju ke curug lain, namun arahnya lebih menanjak, seorang anak muda tiba-tiba mengarahkan kami untuk terus berjalan ke Curug Tilu dengan menggunakan bahasa isyarat sambil tersenyum, saya hanya bisa mengikuti dan membalas senyum tanda permisi kami.

Selain itu kami juga menemukan beberapa kubangan atau kolam yang diberi nama Lewi Panjang dan lainya, ada juga yang sedang mandi atau berenang disitu, di sampingnya pos penjagaan, terdapat beberapa pelampung yang sedang dijemur, ada Mushola disampingnya, dan bapak tua yang sedang bekerja.

Masih terus berjalan menysuri dan menyebrangi sungai, banyak kami jumpai gazebo-gazebo bekas tempat jualan yang sudah tidak terpakai, kamar bilas dan WC pun banyak tersedia dibeberapa lokasi yang jumlahnya sampai 3 kamar mandi.

Setelah berjalan cukup lama, mungkin 15-20 menit, akhirnya sampailah kami di tujuan, yaitu Curug Tilu, Curug Tilu ternyata curug yang mempunyaii tiga tingkatan curug, masing-masing tingkatan memiliki sekitar dua sampai tiga meter, merupakan curug yang bisa dibilang pendek jika dibandingkan dengan curug-curug di Pemalang.

Tanpa pikir panjang, sampai di lokasi kami langsung aja lepas baju dan menikmati segernya air Curug Tilu, beberapa orang mulai berdatangan, tempatnya tidak terlalu rame sehingga kami sangat enjoy menikmatinya.

Di area curug ada bapak-bapak tua yang selalu memberi peringatan kepada pengunjung yang mandi, karena di tingkatan pertama tepat dibawah aliran curug, katanya terdapat batu, sedangkan pengunjung yang datang biasanya pada suka melompat dari atas.

Tiga Tingkatan Curug

Curug Tilu yang seger

Kedalaman Curug Tilu

Sebelum datang kesini sempat di Infokan sama satpam penjaga Wisata Parang Gombong, kalau musim hujan biasanya jalur menuju Curug Tilu ditutup, ternyata alasanya karena jalur untuk menuju curug tilu adalah harus menyebrangi sungai, jadi selain itu ketika sedang berada di Curug Tilu kemudian tiba-tiba hujan, maka segeralah untuk pulang.

Tempatnya sejuk, karena dekat dengan pegunungan, kalau tidak berfikir jalan pulang masih jauh, mungkin kami akan menghabiskan waktu lebih lama lagi disini.

Tepat pukul 12:00 WIB, kami menyudahi kegembiraan kami menikmati segernya Curug Tilu, numpang sholat di Mushola yang sudah disediakan, mencoba berinteraksi dengan bapak tua di pos penjaga, namun sepatah katapun beliau tak berucap, meskipun sempat meminjami kami sendal untuk mengambil air wudhu, bahkan sampai kami permisi untuk melanjutkan perjalanpun beliau hanya melemparkan senyum saja dan kamipun kembali ke tempat parkir.

Berdasarkan sedikit bincang-bincang saya dengan penjaga tiket masuk, ternyata kubangan yang disebut lewi panjang dan lainya adalah bagian dari nama-nama kubangan tersebut, dimana lewi panjang berati lebih luas, yang dimana biasanya digunakan sama anak-anak sekolah tingkat SD.

Ooouuhhh jadi ternyata Sungai dari Curug Tilu ini merupakan Grand Canyonnya Purwakarta, pantesan banyak pelampung, ada mushola, dan gazebo-gazebo.
Sepertinya mungkin dulunya sangat ramai, terbukti dengan banyaknya bekas warung-warung yang sudah tak terpakai.




Sunday, March 18, 2018

Check-in di Antero Hotel Jababeka

Di cerita saya sebelumnya tentang Tour Hotel di Jababeka saya pernah bilang bakalan nginep dan mereviewnya untuk kalian, dan sekarang Alhamdulillah setelah beberapa bulan sok sibuk sendiri akhirnya bisa kembali menyempatkan waktu untuk sekedar menginap di Antero Hotel Jababeka.

Antero Hotel Jababeka dulunya adalah Hotel Horison Jababeka namun sekarang sudah transisi menjadi Antero Hotel By. Prasanti yang masih berlokasi di Jalan Benyamin Sueb Blok B 1, Mekarmukti, Cikarang Utara

Antero Hotel Jababeka masih dengan fasilitas saat Horison Jababeka, namun pas saat saya kesana kemaren, beberapa lokasi lagi dalam proses pembangunan atau perbaikan atau apalah itu, cuman yang jelas pastinya Antero Hotel punya konsep sendiri dengan namanya.

Saya mulai check-in sekitar pukul dua siang, dimana cuaca kota Cikarang lagi panas-panasnya.

Seperti biasa saya langsung disambut dengan ramah sama satpam ganteng yang selalu setia membukakan pintu para tamunya, karena cuman ada satu tamu yang sedang reservasi juga, sayapun langsung ngantri saja di belakangnya, dan setelah giliran saya, tiba-tiba mas-mas recepcionisnya memberikan segelas jus sawi yang rasanya sama sekali tidak pernah saya duga bakalan seenak ini.

Di episode sebelumnya salah satu teman saya yang sama sekali tidak doyan sawi juga merasa keenakan ketika nyicipin jus sawi tersebut, dan ternyata memang enak banget, antimainstream kalau saya bilang sihh, karena di toko jus tidak ada.

Jamuan pertama jujur bikin saya sedikit tercengang sihh antara ragu mau menolak tapi ternyata enak juga… hihihi

Karena saya perokok saya pilih kamar yang smoking room dan single bed, tapi karena yang single bed sedang penuh terpaksa doble bed. Its ok tidak masalah yang penting di lantai delapan.

Kenapa saya memilih di lantai delapan, karena saya suka dengan pemandangan kota dan pemandangan alam seperti ini :


Fasilitas yang disediakan di dalam kamar ada banyak seperti :

1.    Lemari gantung
2.    Kulkas kecil
3.    Brangkas
4.    Chanel TV International
5.    Wifi
6.    Colokan Universal  dan Lokal
7.    Pemanas Air dan
8.    Perlengkapan mandi

Mungkin umumlah ya seperti di hotel-hotel lainya, tapi yang saya suka beberapa fasilitas kamar di atas adalah kamar mandinya yang menurut saya luas dan wifinya yang kenceng.

Karena setiap tamu adalah spesial, maka dari itu kita dikasih akses wifi sendiri supaya tidak berebut bandwith dengan yang lain.

Suasana sore di kamar hotel lantai atas semakin syahdu seiring terbenamnya matahari, membuat saya jadi teringat rumah dan salah satu buku yang berjudul “di beranda rumahku” yang ditulis temanku, meskupun saya belum membacanya tapi saya membayangkan isinya akan puitis seperti sore ini.

Sore sudah berganti malam, lampu-lampu kota mulai dinyalakan adzan maghribpun mulai berkumandang, dan lampu-lampu kota yang terlihat dibalik tirai kamar lantai delapan itu romantis bangeeeet… cuman satu yang disayangkan, saya tidak bisa menagkapnya dengan sempurna.




Makan Malam di Lyv Kitchen and Bar
Yang ngikutin blog saya pasti sudah tau tempat ini, yang merupakan salah satu tempat kece di Jababeka, tempat makanya para tamu hotel, eh tapi bukan khusus buat tamu sih melainkan terbuka untuk umum, tempatnya sangat nyaman, tidak bising dan adem.

Lyv Kitchen menyajikan berbagai menu makanan lokal dan non lokal dengan harga yang relatif murah.

Pas saya kesitu lagi ada acara live musik yang sepertinya rutin diadakan untuk menemani para pengunjung bar, karena lagu-lagunya asik saya jadi terbuai ingin berlama-lama menikmati malam di sini.

Kalau menurut saya tempat ini sangat cocok buat kalian yang suka nongkrong bareng temen-temen, baik untuk keperluan meeting, arisan, maupun sekedar nongkrong biasa.


Suasananya sangat fokus dan romantis, dimana letak posisi yang jauh dari jalan raya, kalau kalian pernah nongkrong malam minggu di Jakarta kalian pasti pernah merasakan bisingnya orang dan kendaraan berlalu lalang yang membuat obrolan kalian jadi tidak fokus.
Untuk review lainya dari para tamu yang sudah pernah menginap di Antero Hotel Jababeka kalian bisa lihat di sini










.